Santri Cendekia

Review Manifesto Komunis : Solusi Kesejahteraan Yang Tak Sesuai Fitrah Manusia

“Ga usah dibaca. ga realistis” Kata temanku, seorang sarjana ilmu ekonomi UI, setelah aku bilang padanya “sekarang aku lagi baca manifesto komunis nih.”. Aku membaca buku manifesto komunis karena iseng dan penasaran. Soalnya aku lihat buku ini dibaca dan dikomentari oleh Raditya Dika di goodreads sini

The Communist Manifesto, buku tipis yang mengubah dunia
The Communist Manifesto,
buku tipis yang mengubah dunia
Ya memang betul kata temenku itu. Aku merasakan banyak kesalahan pada solusi-solusi yang ditawarkan komunisme. Kritik Marx terhadap kapitalisme sih oke dan masuk akal, tapi solusinya terlalu edun. Masa sih keluarga, hak milik pribadi, agama, dan negara mesti dihapuskan untuk mencapai kesejahteraan?

Keluarga itu membentuk relasi kuasa yang menindas, ujar komunisme. Ayah dan ibu menjadikan anak-anaknya sapi perah, benda berharga, atau komoditas apalah yang dapat dijadikan investasi masa depan. Lalu karena jerat ikatan keluarga maka terbentuklah konsep warisan yang melanggengkan dominasi kaum borjuis. Perputaran harta hanya terjadi pada keluarga kecil saja. Harta ayah yang borjuis akan menjadi harta anaknya yang pada akhirnya menjadi borjuis juga. Ide dahsyat mereka untuk mengatasi ‘masalah’ ini adalah: “hapuskan saja konsep keluarga”. WAW! Sangat brilian. Mereka mengajukan solusi yaitu pendidikan berbasis relasi keluarga mesti diganti dengan pendidikan berbasis relasi sosial. Tidak boleh ada nepotisme dalam kehidupan bermasyarakat. Menafkahi anak dan istri itu sesuatu kekeliruan. Kerja kita adalah untuk masyarakat, bukan untuk segolongan kecil orang saja. Ide yang sangat keren bukan?

Tidak sama sekali.

Keluarga adalah hal penting dalam hidup manusia. sangat penting. Manusia adalah makhluk keluarga, meskipun tidak ada filsuf yang bilang manusia sebagai homo familia. Manusia terlahir sebagai mamalia, yakni makhluk yang tergantung pada mama. bukan sosialia atau komunilia. Mammal menurut Cambridge Dictionary adalah any animal of which the female feeds her young on milk from her own body. Tanpa mama aku (kita) tidak dapat hidup.

Dalam keluarga terdapat konsep-konsep membahagiakan yang berjuta rasanya seperti rindu, pulang, hujan, senja bersama rosie (loh kok malah jadi judul novel-novel Tere Liye?). Ah sudahlah. Pokoknya keluarga tidak bisa dihapuskan sampai kapan pun. Tapi, hal yang mengkhawatirkan adalah terjadinya degradasi nilai keluarga. Keluarga jadi tidak penting lagi. orang lebih mementingkan karir atau pilihan politik. Sudah banyak kasus keluarga pecah karena beda calon yang dipilih saat pemilu.

Hmmm.. Aku pikir ulang. Mungkinkah konsep keluarga hilang? ah sepertinya tidak akan hilang. Kalau pun nilai-nilai keluarga jadi hilang dan tiada, justru semakin kuat perasaan untuk menginginkan dan memiliki nilai itu sekali lagi. Seperti kalimat aksioma dan niscaya yang disampaikan lewat lagu dangdut;

“Kalau sudah tiada baru terasa. bahwa kehadirannya sungguh berharga”

Justu ketika kita merasa kehilangan keluarga, kita akan semakin erat berusaha agar keluarga tidak lepas dari pelukkan kita.

Hak milik pribadi itu tidak masuk akal, ujar komunisme. Mustahil kamu bisa membuat benda canggih atau karya yang hebat tanpa bantuan orang lain. Bill Gates menulis bahasa pemrograman BASIC untuk Altair pada awal karirnya sebagai pengusaha software menggunakan komputer lab di Harvard. Komputer lab tersebut milik publik. Lalu setelah BASIC dijual ke Altair, IBM, dll Bill Gates dan Paul Allen mendapatkan uang jutaan dolar dan Harvard tidak dapat apa-apa. Uang penghasilan dari penjualan BASIC itu tidak masuk akal dimiliki mereka berdua saja, karena tanpa komputer lab Harvard (yang dimiliki publik) mereka tidak akan bisa menulis BASIC. Masuk akal ya? Iya sih masuk akal.

Banyak kasus yang serupa dengan Bill Gates, kalau kita merefleksikan ulang proses pembuatan karya kita, memang tidak mungkin kalau karya itu muncul secara original dan sama sekali baru tanpa memodifikasi dari ide yang ada sebelumnya. Lantas apakah kita tak punya hak milik atas karya yang memberikan penghasilan kita?

Aku agak bingung bagaimana menjawab pertanyaan ini. Tentu lebih mudah menjawabnya dengan ‘semua ini milik Allah’. Selain itu sebuah  jawaban yang mudah, jawaban tersebut adalah jawaban yang benar sesuai iman. Mungkin ini bisa dijadikan alasan rasional untuk mengeluarkan Zakat, Infaq, dan Sedekah, karena harta yang kita miliki bukanlah sepenuhnya milik kita, tapi hanyalah titipan dan Allah Ta’ala.

Hak milik tentu ada, bahkan secara alami dan naluriah. Manusia adalah makhluk posesif, yakni makhluk yang punya rasa memiliki, meski tidak ada filsuf yang bilang manusia sebagai homo possessivum. Aku bisa merasa punya ini dan itu, kemudian aku bisa merasakan kehilangan ini dan itu. Perasaan yang tertinggal itu mungkin bagi manusia. Hewan-hewan lain sangat cepat menjalani proses move on (atau bahkan tidak ada/membutuhkan proses seperti itu) karena mereka bukan makhluk posesif. Paham komunis dalam soal kepemilikian memiliki kesamaan dengan ordo benedektin, sebuah serikat biara kristen yang benci kehidupan agama sebagai ritual belaka, dalam hidup beragama perlu kerja keras berbuat baik untuk kepentingan bersama salah satu ikrar ordo Benedektin adalah tidak memiliki kepemilikan pribadi.

Termasuk soal istri atau suami, banyak orang yang menggugat institusi pernikahan–bukan cuma golongan komunis saja yang mengkritik institusi tersebut. Mereka lupa bahwa manusia itu makhluk yang tidak hanya sekedar mencinta dan menafsu, tapi juga bisa merana karena cemburu. Hak memiliki suami terhadap istri dan istri terhadap suami dilindungi oleh institusi pernikahan. Maka menghapuskan institusi pernikahan dengan mencukupkan dengan seks bebas, friends with bananafits, atau perzinaan apalah (naudzubillah, lindungi kami ya Allah…) itu sangat melampaui batas kemanusiaan. Cinta tak harus memiliki itu mitos yang disampaikan Nidji. Maka dari itu cemburu menjadi salah satu cabang iman dalam Islam. Quu anfusakum wa ahlikum naaraa. Cemburuilah istri atau suamimu kalau bergaul dengan orang lain, jangan sampai terjatuh pada hal yang melampaui batas. (untuk tulisan soal lamaran dalam islam bisa baca di sini

Menggugat konsep properti atau hak milik itu sulit, komunis tak mungkin berhasil melakukan ini. Pada dasarnya sifat manusia itu egois dan memiliki self-interest.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia.”

Penghilangan hak milik individu oleh komunis seperti menyuruh kita shaum tanpa ada waktu untuk berbuka, hal ini tidak mungkin. Manusia sudah punya kecenderungan dan hasrat untuk memiliki yang mereka senangi. Menghalangi kecenderungan itu akan menghambat daya hidup manusia. kalau tidak ada daya hidup ya bagaimana bisa membangun peradaban?

Tidak ada negara dan tidak ada agama seperti dalam lagu Imagine-nya John Lennon? mungkinkah? Mungkin dalam khayal, kenyataannya tidak. Hasrat primordial manusia sama kuatnya dengan hasrat berkeluarga dan memiliki yang disenangi. Kita berkumpul karena ada pandangan yang sama terhadap sesuatu yang istimewa. Pasti terbentuk kelompok berdasarkan suku, daerah, ideologi, dan agama. Komunisme bermaksud mewujudkan peradaban tanpa kelas. Mustahil. Unity sih mungkin, tapi klo uniform seperti tidak. Unity artinya persatuan yang berasal dari masing-masing individu dan kelompok yang berbeda. Tapi untuk uniform, yakni persatuan yang seragam secara global dan universal itu mustahil. Sama halnya dengan semesta, meski bahan pembangunnya sama yakni atom, tapi atom itu bermacam-macam, 118 jumlahnya.

Marx mengajukan beberapa kritik yang patut direnungkan. Misalnya soal kehidupan kita yang segalanya mesti menjadi komoditas. Apapun mesti bisa dijual atau menghasilkan profit. Tidak ada lagi motivasi kerja untuk aktualisasi diri. seni untuk seni. menjalankan hobi. Kerja bakti itu tidak masuk akal. Shalat itu wasting time. Pada akhirnya kita menjadi one dimensional man. Manusia yang pandangan hidupnya cuma berdasarkan kalkulasi ekonomi. Saat tiba jalan buntu untuk mendapatkan uang konsumen, mereka para kapitalis menciptakan false needs. Misalnya kebutuhan tersier akan hiburan. Siapa yang butuh acara kontes dangdut sampai jam 12 malam? Itu false needs untuk morotin pulsa kalian saudara-saudara.

Kritik Marx terhadap cara produksi yang menghabiskan banyak waktu demi mengejar target juga perlu mendapat perhatian. Contohnya angkot ngetem, kerja kantoran 9 to 5, kerja lembur, dll. Lalu karena pembagian kerja yang terlalu spesifik dan tekhnologi mesin yang menyelesaikan sebagian besar kerja, hidup kita menjadi sepele banget. Misalnya buruh yang kerjanya hanya menstempel kemasan produk makanan, selama 8 jam dia hanya kerja itu-itu saja. Hidup seharusnya lebih kaya dari itu. Tidak dihabiskan 8 jam untuk melakukan perbuatan yang sama.

Ya itulah kiranya review buku Manifesto Komunis.

Ginan Aulia Rahman

Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia, dulu nyantren di Darul Arqam Muhammadiyah Garut dan Ma'had Addauly Damascus, Syria.

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: