Santri Cendekia
Sumber gambar: tirto.id
source: tirto.id

Rihlah Ilmiah Syaikh Yusuf al-Makassari dan Dedikasinya Terhadap Islam (1)

Oleh: Edy Masnur Rahman*

Pendahuluan

Dahulu, para ulama kita tidak pernah jenuh dalam menuntut ilmu, ketika mereka mendapat kabar bahwa ada seorang guru/syaikh yang memiliki ilmu maka berbondong-bondonglah mereka untuk mengambil ilmu tersebut dan tidak sampai disitu saja, ilmu yang mereka dapatkan juga ditransfer kepada orang-orang setelah mereka baik itu dengan lisan maupun tulisan.

Islam sangat kaya dengan para ulama & cendikiawan yang sangat luar biasa, hingga diakui oleh seluruh dunia semisal Imam As-Syafi’I tidak ada orang di dunia ini yang tidak mengenal ulama yang satu ini, kecuali itu adalah orang yang ditinggal di pedalaman hutan. Beliau dikenal baik di kalangan ummat Islam itu sendiri, maupun diluar Islam dan bahkan karya-karya beliau banyak dikaji oleh para orintalis di dunia barat. Beliau tidak akan dikenal oleh dunia jikalau bukan karena keilmuan beliau yang sangat luar biasa. Hal itu tidak terlepas dari rihlah/perjalanan beliau dalam menuntut ilmu.

Di Nusantara, kita juga banyak memiliki ulama-ulama yang luar biasa, contohnya Nuruddin ar-Raniri, Abdurrauf as-Singkili, Muhammad Yusuf al-Makassari, Syihabuddin bin Abdullah Muhammad, Kemas Fakhruddin, Abdussomad al-Palimbani, Kemas Muhammad bin Ahmad, Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin, Muhammad Arsyad al-Banjari, Muhammad Nafis al-Banjari, Abdul Wahhab al-Bugisi, Ahmad Rifa’I, Syeikh Nawawi al-Bantani dan Abdurrahman al-Mashri al-Batawi, dll. Mereka ini adalah para ulama yang hidup sekitar abad ke 17, 18 dan 19 M.

Sayangnya sejarah para ulama-ulama Nusantara yang juga memiliki keluasan ilmu yang luar biasa dan pengaruhnya terhadap perjuangan dakwah Islam kurang diketahui oleh masyarakat luas dan biasanya hanya terbatas pada para peneliti sejarah Islam/non Islam atau bahkan para ustadz/da’I yang jumlahnya tergolong sedikit atau mungkin karena faktor sumber-sumber yang membahas rihlah ilmiah, perjuangan dakwah, atau karya-karya mereka itu sangatlah kurang -ini sependek pembacaan saya- diantaranya hanya berupa manuskrip, naskah ketikan yang tidak dicetak, dan cerita-cerita yang tersebar di masyarakat secara turun-temurun yang tidak diketahui kevalidasinya.

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, salah satu tokoh ulama yang sangat penting di Nusantara khususnya pada abad ke-17, ialah Syekh Yusuf Taju Khalwati al-Makassari. Beliau merupakan seorang ulama, sufi dan khalifah tarekat serta pejuang kenamaan pada zamannya. Selain pejuang, beliau juga seorang musuh besar kompeni Belanda. Beliau dianggap sebagai “duri dalam daging” oleh pemerintah Kompeni di Hinda Timur (Indonesia). Beliau juga merupakan tokoh pembaharu Islam di Nusantara, Sri Langka dan Cape Town di Afrika Selatan.

Profil Syekh Yusuf al-Makassari

Nama kecil Syekh Yusuf al-Makassari ialah Muhammad Yusuf. Setelah menjadi ulama dan ahli tasawuf, nama lengkapnya ialah Syekh Haji Yusuf Abu Mahasin Hidayatullah Tajul Khalawati al-Makassari. Masyarakat Sulawesi Selatan mengenalnya dengan nama “Syekh Yusuf Tuanta Salamaka ri Gowa.” (Bahasa Makassar yang berarti tuan yang mendapat berkah atau keselamatan di daerah Gowa). Karena itu, para pengikutnya menganggap bahwa Tuanta Salamaka itu adalah orang suci, wali, keramat dan mempunyai kedudukan yang lebih dari manusia. Menurut Lontaran Bilang yaitu histografi tertua di kerajaan kembar Gowa dan Tallo, di dalamnya disebutkan masa kelahiran Syekh Yusuf adalah pada 3 Juli 1628 M, bertepatan dengan 8 Syawal 1036 H. Riwayat atas penetapan tanggal tersebut telah menjadi riwayat tradisi lisan masyarakat di Sulawesi Selatan. Ini berarti masa lahir beliau yaitu setelah dua puluh tahun pengislaman kerajaan kembar Gowa dan Tallo oleh seorang ulama dari Minangkabau, Sumatera Barat, yaitu Abdul Makmur Khatib Tunggal yang digelari dengan Datuk ri Bandang.

Dalam “Lontara Riwayat Tuanta Salamaka ri Gowa”, dinyatakan dengan jelas bahwa ayahnya bernama Gallarang Moncongloe atau Abdullah, saudara seibu dengan Raja Gowa Sultan Alauddin Imangarangi’ Daeng Manrabia, Raja Gowa yang paling awal masuk Islam dan menetapkannya sebagai agama resmi kerajaan pada tahun 1603 M. Ibunya bernama Aminah binti Dampang Ko’mara, seorang keturunan bangsawan dari Kerajaan Tallo, kerajaan kembar dengan Kerajaan Gowa.

Rihlah Ilmiah Syekh Yusuf Al-Makassari

Mula-mula beliau belajar keislaman ialah dengan mempelajari huruf Al-Quran hingga tamat, menyempurnakan tajwid dan qira’at dengan fasih membaca Al-Qur’an dengan seorang gurunya yang bernama Daeng ri Tamassang. Inilah merupakan tradisi ulama terdahulu sebelum mereka mempelajara ilmu keislaman lainnya yang pada saat ini mulai terkikis sedikit demi sedikit pada generasi muda Islam. Selanjutnya beliau belajar Bahasa Arab, Fikih, Mantiq, Tauhid, dan tasawuf kepada Sayyid Ba’lawi bin Abdullah al-‘Allamah al-Thahir, seorang da’I Arab yang tinggal di Bontoala. Ketika usia beliau 15 tahun, melanjutkan pelajarannya di Cikoang dan belajar dengan Jalaluddin al-Ayyid, ia merupakan guru keliling yang datang dari Aceh kemudian ke Kutai lalu berlabuh dan menetap di Cikoang. Kembali kepada Syaikh Yusuf, setelah beliau menempuh pendidikan di Cikoang beliau akhirnya menikah dengan putri raja Gowa, yaitu Sultan Alauddin Imangarangi’ Daeng Manrabia (1001-1046/1591-1636). Syaikh Yusuf sejak kecil memiliki impian untuk menuntut ilmu lebih lanjut di Timur Tengah. Hal itu karena dorongan dari para gurunya.

Pada tanggal 22 September 1644 M, beliau berangkat dengan menumpang kapal Melayu, Malaka dengan tujuan menuntut ilmu-ilmu Islam di Timur Tengah terutama di Mekah dan Madinah sebagai pusat pendidikan Islam pada masa itu. Oleh karena jalan pelayaran niaga pada waktu itu mesti melalui laut Jawa dan transit di Banten, maka beliaupun ikut singgah di pusat Kesultanan Banten. Di dalam persinggahan inilah beliau mampu menjalin hubungan baik dengan ulama dan tokoh agama serta orang-orang besar di Banten, termasuk Abdul Fattah atau dikenal di kemudian hari dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa, anak Sultan Abu al-Mafakhir Abdul Kadir (1037-1063/16261651), Sultan kerajaan Banten pada masa itu.

Setelah beberapa lama berada di Banten, kemudian beliau meneruskan perjalanannya ke Aceh Darussalam sebelum melanjutkan perjalanannya ke Jazirah Arabia. Di Aceh beliau belajar dengan seorang tokoh ulama dan pemimpin serta khalifah “Tariqah al-Qadiriyyah” di Aceh, yaitu Syekh Muhammad Jilani bin Hasan bin Muhammad Hamid al-Raniriy yang sebelumnya beliau pernah mendengar tentangnya sewaktu di Banten. Di dalam karyanya yang berjudul safinat al-Najah, beliau menceritrakan silsilah dari tarekat qadiriyah yang beliau dapatkan dari al-Raniry dan juga guru dari al-Raniry yang bernama Umar bin Abdullah Ba Syaiban.

Setelah mendapat pengajaran di Aceh beliau melanjutkan perjalanannya menuju Yaman. Kemungkinan kecendrungannya untuk singgah belajar di Yaman adalah atas saran gurunya, ialah al-Raniry, dan ia juga pernah belajar dan menerima ijazah Tarekat di negeri Yaman. Setelah beliau selamat tiba di pelabuhan Hadramaut (Yaman) beliau berguru pada Syekh Abu Abdillah Muhammad Abdul Baqi (w.1664), seorang ulama yang terkenal di Yaman pada masa itu dan juga Khalifah Tarekat al-Naqshabandiyah. Di sinilah beliau mengabil pengajaran tasawuf serta tarekat naqsyabandiyah, beliau juga berguru kepada Sayyid Ali al-Zabidi atau Ali bin Abi Bakr ini berdasarkan silsilah Syekh Yusuf dari tarekat Ba’Alwiyah, dan beliau juga mengambil pengajaran dari Muhammad bin al-Wajih al-Sa’di al-Yamani.

Syeikh yusuf tidak memberikan keterangan berapa lama beliau belajar di Yaman, namun pastinya beliau membutuhkan beberapa tahun sebelum melanjutkan rihlahnya ke pusat jaringan ulama di Haramayn. Masa studi beliau di Mekkah dan Madinah bersamaan dengan masa studi al-Sinkili dan beberapa guru mereka-pun sama, semisal Ahmad Quraysyi (w.1661), Ibrahim al-Kurani (w.1690), dan Hasan al-Ajami (w.1701). Ketiga ulama inilah yang amat masyhur ketika itu di Haramayn dan menjadi tumpuan para penuntut ilmu untuk berguru kepada mereka. Terutama para penuntut ilmu yang berasal dari kepulauan Nusantara. Di sini kita dapat melihat semangat belajar yang di tunjjukan oleh al-Makassari (Syeikh Yusuf) sangatlah penuh dengan keikhlasan dan semangat yang berkobar-kobar, beliau tidak memetingkan jauhnya jarak ataupun lamanya masa dalam menuntut ilmu, tetapi beliau lebih kepada bagaimana belajar itu terus continue dan tidak cepat puas. Hal inilah yang mungkin telah hilang di kalangan pelajar abad masa kini yang selalu menginginkan hal yang serba simpel/instan tanpa melakukan ikhtiar yang totalitas.

Perbedaan antara al-Sinkili dan al-Makassari ialah Selepas menuntut ilmu di Haramayn dari guru-gurunya yang disebutkan di atas, al-Sinkili langsung bertolak kembali ke wilayah Nusantara, sedangkan al-Makassari mengadakan perjalanan ke syam (Damaskus) dengan tujuan yang sama yaitu untuk memperdalam lagi ilmu pengetahuannya serta memperluas pengalamannya. Di Damaskus beliau berguru di bawah bimbingan dan asuhan seorang tokoh dakwah dan ulama Sufi serta Muhaddis yang amat masyhur di zamannya, yaitu Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad al-Khalwatiy al-Qurashiy. Beliau memiliki keilmuan yang sangat luas mencakup imu-ilmu eksoteris, seperti; hadis, tafsir, dan fikih, serta ilmu-ilmu esoteric seperti; tasawuf dan kalam. Oleh karena itu, Ayyub al-Khalwati mendapat julukan sebagai al-Ustadz al-Akbar (guru besar).

Syekh Yusuf al-Makassari belajar dengan Ayyub al-Khalwati untuk beberapa lama, beliau menunjukkan kepada gurunya akan bakat yang dimilikinya dalam menyerap ilmu-ilmu eksoteris & esoteric, sehingga Ayyub al-Khalwati memberinya gelar al-Taj al-Khalwati (Mahkota Khalwati). Al-Makassari sangat memuji-muji gurunya tersebut, beliau juga menyebutkannya dalam silsilah tarekat Khalwatiyah sebagaimana yang terdapat di dalam kitabnya yang berjudul al-Nafhat al-Saylaniyyah.

Setelah beliau bejar di Damaskus, kemudian beliau melanjutkan rihlahnya menuju Istanbul (Turki). Selepas beliau menimba banyak pengalaman di Istanbul, beliau condong kembali ke Mekah dan tinggal beberapa lama di sana. Di samping tujuan beribadah juga untuk mengkaji ulang ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya selama dalam rihlahnya. Pada masa inilah beliau gunakan kesempatan untuk mengajar kepada pelajar-pelajar yang berasal dari Nusantara dan memberi pengajian umum di Masjid al-Haram pada musim haji kepada jamaah haji, terutama mereka yang berasal dari tanah Bugis (Sulawesi Selatan).

Di antara murid-murid beliau yang mendapat kepercayaan mengajarkan ilmu-ilmu yang diterimanya di Mekah ialah Abu al-Fath Abdul Basyir al-Dharir, Abdul Hamid Karaeng Karunrung dan Abdul Kadir Majeneng. Mereka adalah berasal dari Sulawesi Selatan, dan mereka inilah yang menghidup suburkan tarekat Naqsyabandiyah dan Khalwatiyah Syekh Yusuf di tanah Bugis. Ada riwayat yang mengatakan bahwa Syaikh Yusuf pernah menikah dengan putri imam mazhab Syafi’i di Mekah, namun istrinya wafat ketika dalam persalinan lalu Syekh Yusuf menikah lagi dengan seorang wanita Sulawesi Selatan sebelum akhirnya kembali ke Nusantara.

Adapun beberapa karangan kitab beliau yang membuat Syekh Yusuf terkenal dan populer sebagai pejuang dan sebagai ulama serta khalifah tarekat di Indonesia, karangan beliau diantaranya:
1. Al-Nafhat al-Saylaniyah minal Futuhat al-Rabbaniyyah
2. Bidayatul al-Mubtadi’
3. Daf’ul al-Bala’
4. Fathu Kaifiyyat al-Dzikr
5. Al-Fawaih al-Yusufiyyah fi Bayan Tahqiq al-Sufiyyah.
6. Safinah al-Najah.

Lanjut ke bagian 2: Rihlah Ilmiah Syaikh Yusuf al-Makassari dan Dedikasinya Terhadap Islam (2)

*Mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah

Edy Masnur Rahman

Mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah

Add comment

Tinggalkan komentar