Santri Cendekia

Sabar dan Saling Menjaga Kesabaran! (Ali-Imran : 200 part 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

 

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu). dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung (Ali-Imran : 200)

 

Ayat ini sangat relevan untuk dikumandangankan berulang-ulang untuk muslimin hari ini. Dimana musuh-musuh islam yang terdiri dari orang-orang kafir dan munafik sedang berusaha menghantam islam dan pilar-pilarnya dari segala penjuru. Ayat ini ada, untuk menjadi bekal bagi muslimin kapanpun menghadapi situasi-situasi seperti sekarang.

Dalam ayat ini, Allah ‘azza wa jalla mengulang perintah-Nya untuk bersabar sebanyak dua kali. Maha Suci Allah dari kesia-siaan perkataan-Nya. Jika Allah mengulang sebuah perkataan / perintah dalam satu ayat seperti ini, pastilah ada makna kata yang saling melengkapi. Lalu apa perbedaan dari perintah bersabar pertama dan kedua? Perintah bersabar pertama berbunyi (اصبروا) “ishbiruu!”, fi’il amr (Kalimat perintah) berasal dari wazan (صبر) Shobaro – (يصبر) yashbiru yang artinya “bersabar”. Sedangkan perintah bersabar kedua berbunyi (صبروا)“Shoobiruu!”, berasal dari wazan fi’il (صابر) Shoobaro – (يصابر) Yushoobiru yang artinya juga “bersabar” namun biasanya wazan ini memiliki tambahan makna “saling”. Sehingga bisa diartikan “Saling mensabarkan” atau “saling menjaga kesabaran”, Masya Allah!!. Itu berarti, perintah pertama Allah untuk bersabar ditujukan kepada setiap pribadi agar berusaha menjaga kesabaran masing-masing. Lalu untuk perintah bersabar kedua ditujukan kepada muslimin agar saling menjaga kesabaran kepada sesama saudara-saudara seperjuangannya.

Ketika sedang berkonfrontasi dengan orang-orang kafir dan munafik, muslimin harus pandai-pandai mengatur langkah dan strategi. Karena dalam sebuah peperangan, entah itu secara makna konotatif maupun denotatif, kesalahan 1 langkah kecil saja bisa berujung fatal. Ditambah lagi, sikap orang-orang kafir dan munafik biasanya melampaui batas kepada muslimin di berbagai tempat. Untuk menjaga kestabilan jama’ah agar tidak terpancing dan gegabah dalam mengambil langkah, tentu saja sikap sabar sangat dibutuhkan. Dan Penjagaan sabar terbaik adalah ketika kita saling menguatkan kesabaran bersama jama’ah dan saudara-saudara perjuangan kita.

Baca juga:  Tadabbur Asmaul Husna (Al-Khaliq)

Kita ambil contoh perang uhud, beberapa pasukan pemanah berhasil bersabar mematuhi perintah Rasulullah SAW untuk bertahan di atas bukit dan tidak tergiur oleh ghanimah, namun sebagian orang tidak bersabar dan memutuskan untuk turun ke bawah bukit, hingga akhirnya pasukan muslimin terkena counter attack dan hampir saja kalah. Pasukan pemanah tidak berhasil untuk saling menjaga kesabaran dalam sebuah jama’ah.

Sekarang kita ambil contoh yang faktual, kondisi yang sedang terjadi di Negara kita, Indonesia. Akhir-akhir ini, semakin banyak hantaman yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan munafik kepada tubuh muslimin. Pengkapan brutal aktivis dan jurnalis islam yang tak masuk akal, kriminalisasi ulama, fitnah dan penghinaan terhadap ulama, sampai perbuatan-perbuatan hina dan rendah seperti penghinaan lafadz Allah dan penistaan Al-Qur’an. Pada saat-saat seperti ini, muslimin dituntut untuk bersabar dan saling menguatkan kesabaran. Kita boleh marah dan panas hati, tapi kepala harus tetap dingin dan bersatu menunggu komando ulama. Jangan sampai karena alasan yang benar, kita melakukan perbuatan yang salah dan mengancurkan barisan dari dalam. Jika waktunya datang, Allah yang akan membalas kesabaran kita dengan kemenangan yang Indah, Insya Allah.

Allahu a’lam bishshawab

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: