Santri Cendekia
Home » Santri Pingsan dan Omong Kosong Kebangkitan Islam

Santri Pingsan dan Omong Kosong Kebangkitan Islam

Ada perasaan aneh yang selalu menguasai atmosfir ketika kita berbicara tentang kebangkitan Islam. kita seperti rindu pada seuatu yang bahkan tidak kita tahu dengan pasti seperti apa rupanya, bagi saya pribadi bahkan kadang seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan. Betapa rindu kita, betapa ia didamba namun tak tahu kapan bisa berusa.

Sejak berhasil membebaskan diri dari cengkraman kolonialisme, para ulama mulai berbicara tentang islamic revivalisme alias kebangkitan Islam. semacam renaisance dunia Islam. Konon pernah ada forum yang membahasnya secara khusus, dan forum itu menjadikan abad 15 Hijriyah sebagai momentum kebangkitan Islam.  Awal abad ke 15 Hijriyah yang terletak pada tahun-tahun 70-an kalender Masehi memang menjadi panggung sejarah menggeliatnya dunia Islam. Aktivisme yang menggebu-gebu, euforia Revolusi Islam, hingga wacana Islamisasi Ilmu dari al-Faruqi atau al-Attas. Di Indonesia kita tentu tidak akan lupa bagaimana dahsyatnya “revolusi jilbab” di kampus-kampus umum, hingga Cak Nun berdecak dalam sajaknya Lautan Jilbab. Belum lagi liqo’-liqo’ yang menjamur di sudut-sudut masjid kampus.

Tapi kini apa??, seperti sebuah obor yang menyala benderang lalu mati kehabisan minyak. Bahkan belakangan yang berkembang justru wacana liberalisasi agama. Meskipun wacana ini juga setua mimpi kebangkitan Islam. Tokoh-tokoh seperti Qasim Amin kan seperguruan dengan Rashid Ridha, Soekarno sejaman dengan Natsir. Cak Nur berjaya juga pada tahun 70-an.  Namun kok ya harus wacana ini yang berkembang? Lalu kemana semangat yang  dulu bisa membuat Indonesia banjir jilbab itu?

Saya berpikir-pikir dan berkesimpulan mungkin salah satu sebab redupnya semangat itu adalah kurangnya kegiatan “tukang batu” di kalangan anak muda Islam. Tukang batu adalah istilah yang perna saya gunakan di perkaderan IPM di Makassar dulu. Tukang batu itu tukang baca-tulis. Menurut saya, jika memang ingin benar-benar maju, harusya kultur tukang batu inilah yang perlu dipupuk. Pupuknya mungkin adalah ajang-ajang pelatihan penulisan, perbanyak media yang menjadi ruang bagi mereka yang mulai coba-coba menulis hingga yang sudah ekspert untuk ‘memajang tulisannya’. Dan tulisan yang mereka buat harus diberi apresiasi  yang layak, apresiasi yang setinggi-tingginya bahkan.  Selain itu, gerakakn penerjemahan besar-besaran harus mulai dilakukan. Dulu Islam bisa maju berkat penerjemahan khazanah keilmuan Yunani, India, Persia dan lainnya ke bahasa Arab sehingga bisa ditelaah para intelektual Islam awal.

Meskipun tidak setuju dengan kebanyakan ide yang diusung para pengagum Wahib, saya sangat setuju dengan cara-cara mereka menumbuhkan kultur tukang batu. Misalnya event Wahib Awward, itu menjadi kenduri besar untuk mengapresiasi ide-ide Wahib setinggi-tingginya. Menjadi ajang baca-tulis dengan fokus pada sosok Wahib yang sangat keren. Hadiahnya juga tidak main-main. Apa tidak ada yang mau menggagas ide serupa? Mungkin Rasyidi Awward atau siapalah.

Baca juga:  Antara Pasar dan Kantor

Selama kita tidak melakukan usaha maksimal dan kreatif yang bisa membuat anak muda berdecak “wuihh keren!!” untuk mengembangkan budaya tukang batu ini, saya kira kebangkitan Islam masih sangat sulit terealisasi. Bukankah peraban Islam adalah peradaban ilmu? Aktivitas tukang batu adalah jantungnya peradaban ilmu. Tanpanya, peradaban ilmu itu bagai vampir yang tidak ada jantungnya, Cuma seram di dalam dongeng, tidak pernah ada wujudnya.

Oke,  jujur saja saya menulis ini karena baru saja membaca cerita tentang seorang santri yang pingsan karena kebanyakan membca dan menulis sampai lupa tidur. Kini dia menjadi salah satu penulis yang produktif dan mencerahkan. Meskipun belum bisa seperti dia, saya yakin jika ada banyak pemuda-pemudi Islam yang memilki spirit tukang batu seekstrim dia, tentu manfaat yang didapatkan umat Islam sungguh luar biasa baik. Ekstrimnya, pemuda-pemudi Islam memang harus merasakan apa yang dirasakan santri itu ; pingsan karena kebanyakan baca-tulis. Seperti kalimat kita jika mengomentari teman yang belajar mengendaria sepeda “kalau belum jatuh, belum afdhol dan nggak bakalan bisa” Saya juga mau bilang pada teman-teman yang memang mau melihat Islam berjaya lagi lewat kultur tukang batu ini “kalau belum pingsan akibat kebanyakan membaca dan menulis sampai lupa tidur belum afdhol !!!”

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

2 komentar

Tinggalkan komentar

  • klu boleh saya bertanya,,,,
    tukang batu yang dimaksudkan oleh penulis disini yang seperti apa, karena klu menurut saya para tukang batu di Indonesia sudah banyak, tapi mgkn bukan dalam hal-hal yang positif,,,
    mgkn kk bisa lebih menspesifikkan maksud tukang batu disini dalam hal apa???
    dan mngkin ada saran untuk organisasi2 islam yang bergerak dibidang dakwah, contoh kegiatan apa yg bagusnya dilakukan, paling tidak untuk memperbanyak tukang batu yang namun tetap dalam hal2 positif,…. 🙂

    syukron kak….