Santri Cendekia
Home » Sejarah Singkat Berdirinya Negara Paling Aneh di Dunia: Israel

Sejarah Singkat Berdirinya Negara Paling Aneh di Dunia: Israel

Penulis: Khulanah

Tidak ada yang diuntungkan dalam sebuah peperangan. Itulah salah satu narasi yang menunjukkan bahwa dampak negatif dari peperangan jelas lebih banyak daripada dampak positifnya.

Sejak meledaknya perang Israel–Palestina 7 Oktober 2023 hingga dilakukannya gencatan senjata mulai tanggal 23 November 2023, telah banyak kerugian bahkan kerusakan yang dialami oleh kedua belah pihak baik dari segi infrastruktur, ekonomi, pendidikan, dan juga mental.

Menyadari sebagai seorang yang awam dalam ilmu geopolitik dan hubungan internasional, saya mencoba memahami konflik Israel-Palestina dari sudut pandang yang saya sukai yaitu ilmu sejarah. Sebab sejarah adalah saksi dari sebuah kejadian besar yang terjadi di dunia ini, sekalipun terkadang penulisan sejarah itu dipengaruhi oleh pemikiran dan tendensi penulisnya.  Namun di sini saya mencoba mengambilnya dari sumber-sumber kredibel dan terpercaya untuk menghindari adanya hoax dan pemalsuan data.

Setelah runtuhnya kerajaan Turki Utsmani pada awal abad 19, bangsa Eropa mengambil alih daerah kekuasaan Utsmani salah satunya adalah tanah Palestina. Hal ini mendorong meningkatnya jumlah imigran Yahudi ke tanah suci itu. Posisi mereka adalah sebagai pengungsi wa bil khusus orang-orang Yahudi yang tidak diterima di Eropa.

Jauh sebelum itu, pada tahun 1876 hingga tahun-tahun setelahnya, jumlah orang-orang Yahudi yang datang ke tanah Palestina terus mengalami peningkatan. Awalnya mereka dapat hidup damai dan berdampingan dengan orang-orang Palestina, serta orang-orang Yahudi tersebut diperlakukan dengan baik, diberi tempat tinggal dan dibantu dari segi pangan dan sandangnya.

Namun sebuah kelompok dalam tubuh orang-orang Yahudi ternyata memiliki rencana berbeda. Mereka adalah para Zionis, sebuah perkumpulan Yahudi-Nasionalis yang berkeyakinan bahwa – sebagimana semua bangsa di dunia ini – orang-orang Yahudi juga berhak memiliki negara mereka sendiri. Keinginan ini menjadi semakin besar ketika sikap anti-semitisme di Eropa mencapai puncaknya dalam Holocaust yang dilakuka Nazi.[1]

Baca juga:  Wacana Mobilisasi Hamas: Mujahidin-Nasionalis

Pendiri gerakan Zionis ini, Theodor Herzl, adalah seorang beretnik Yahudi tapi ateis. Awalnya Herzl tidak begitu tertarik pada tanah Palestina, ia sempat berencana mendirikan negara Yahudi di Argentina. Tapi berbagai peristiwa sejarah, khususnya mandate Inggris atas Palestina, membuka peluang pendirian negara di tanah Palestina. Peluang ini lalu dimanfaatkan oleh Zionis Yahudi dengan difasilitasi oleh Inggris.

Pada tahun 1917 keluarlah Deklarasi Balfour yang di dalamnya jelas mengesampingkan hak-hak rakyat Palestina. Sebab sejak saat itu Zionis mengadakan serangan ke tempat-tempat suci umat Muslim dan umat Kristen. Lalu pada tahun 1948 sebuah entitas aneh diumumkan di Palestina atau mereka menyebutnya sebagai “Negara Israel”.

Selanjutnya pada tahun 1967 atau yang disebut dengan perang Juni atau perang enam hari. Sejak saat itu tanah Palestina tambah berkurang salah satunya kompleks al-Aqsa (Yerusalem Timur) yang dikuasai secara politik dan undang-undang oleh pihak penjajah. Serangan dan pembunuhan itu masih terus berlanjut dilakukan oleh Israel hingga pada tahun 1980-1993 rakyat Palestina bangkit bersatu untuk melawan Israel. Adapun gerakan perlawanan ini disebut dengan nama Intifadah I.

Kemudian pada tahun 2008-awal 2009 Israel kembali menyerang Palestina dengan melancarkan bom dan rudalnya untuk menghancurkan tempat ibadah, sekolah dan juga pemukiman penduduk Palestina. Setelah perang 2008, serangan berkepanjangan itupun terus dilakukan oleh Israel terhitung pada tahun 2012, 2014, 2021 sampai sekarang di tahun 2023. Maka apabila pada tanggal 07 Oktober 2023 yang dilakukan oleh gerakan militer Palestina (Hamas) melakukan penyerangan terhadap Israel, hal tersebut bukanlah keisengan atau gabut belaka. Namun dilatar belakangi karena sakit hati atas perebutan tanah Palestina oleh Israel  dan bentuk perjuangan rakyat Palestina atas kebiadaban Israel yang melakukan serangan bertubi-tubi terhadap Palestina berdasarkan track record perselisihan Israel-Palestina sejak zaman dahulu.

Baca juga:  Gaza bukanlah Penjara dan Serbuan Israel bukanlah Tragedi: Palestina dan Politik Bahasa

Sebetulnya dari serangan Hamas pada tanggal 07 Oktober tersebut dapat diprediksi bahwa akan mendapatkan serangan yang jauh lebih kejam dan lebih membabi buta berkali lipat dari pihak Israel. Sebab Israel merupakan salah satu negara yang memiliki kelengkapan alat tempur serta memiliki pertahanan militer yang kuat di mata dunia. Jika diamati, dalam penyerangan yang dilakukan Hamas kali ini membuka keuntungan bagi Israel untuk mencari perhatian dunia dengan alasan self defense. Sehingga dengan alibi tersebut Israel sangat mungkin melakukan serangan yang lebih kejam dan barbar untuk membumi hanguskan rakyat Palestina.

Ternyata hal tersebut terbukti, Israel dengan pedenya mengebom tempat ibadah, sekolah, rumah sakit dan juga mengebom pemukiman warga yang menewaskan kurang lebih 12.000 warga sipil di antaranya anak-anak dan wanita. Perselisihan ini berganti status dari perang menjadi genosida. Sebab dengan nyatanya Israel melakukan serangan terhadap warga sipil yang tak berdaya, memutus aliran listrik dan air serta internet, menahan bantuan kemanusiaan serta melanggar hukum humaniter lainnya. Hal tersebut mengakibatkan krisis kemanusiaan yang sangat memprihatinkan bagi bangsa Palestina.

Melihat kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Palestina melalui social media, tentunya mengundang rasa empati dan belas kasihan kita semua. Maka selain dukungan secara moral dan finansial yang dapat diberikan, dalam hal ini kita tidak boleh diam, apalagi mengambil sikap netral.

Sebagai seorang muslim kita memiliki ikatan persaudaraan seiman, sebagai manusia kita memiliki ikatan persaudaraan kemanusiaan, dan sebagai warga negara Indonesia kita wajib mengamalkan dan menjunjung tinggi nilai nilai kebaikan yang tercantum dalam undang-undang dasar 1945 yaitu “bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa” untuk mendukung kemerdekaan Palestina dan mengupayakan agar rakyat Palestina mendapatkan hak-haknya, salah satunya adalah hak untuk hidup tenang di tanah airnya.

Baca juga:  Bela Palestina, Bela Rohingya, Bela Manusia

Terakhir, jangan berkecil hati dan jangan pernah berhenti untuk membela Palestina. Jika upaya mendudukkan Israel ke Mahkamah Internasional terlalu berat bagi kita yang bukan siapa-siapa. Maka kita bisa mengambil peran dan menjadi agen pembela Palestina dengan memberikan dukungan melalui doa-doa yang kita panjatkan, melawan buzzer-buzzer pro-Israel terbukti yang aktif melakukan pemalsuan berita.

Salah satu upaya penting adalah menyebarluaskan pemberitaan Palestina agar dunia tahu akan kebenaran yang sebenarnya serta mengedukasi diri dan orang-orang sekitar kita terkait sejarah peperangan Palestina-Israel agar terhindar dari kesesatan informasi. Sebab kita hanya perlu menjadi manusia untuk membela Palestina.

[1] Secara umum, istilah ‘anti-Semi’ biasanya hanya ditujukan untuk orang Yahudi, ini karena mereka adalah korban yang lumrah di Eropa, konteks dimana istilah ini muncul. Namun, orang Arab sebenarnya juga bagian dari bangsa semitik.

*Thalibat Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta dan Alumni Ilmu Hadis Universitas Ahmad Dahlan

 

Avatar photo

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: [email protected]

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar