Santri Cendekia

Kitab Tauhid at-Taqwim al-Hijry al-Muwahhad, Risalah Penyatuan Kalender Islam Global

Tahun 2016 (tepatnya 28-30 Mei 2016 M bertepatan 21-23 Syakban 1437 H) telah berlangsung “Muktamar Penyatuan Kalender Hijriah Internasional” atau “Mu’tamar Tauhid at-Taqwim al-Hijry ad-Dauly”. Peristiwa muktamar bersejarah ini terkompilasi dalam sebuah buku berjudul “Mu’tamar Tauhid at-Taqwim al-Hijry al-Muwahhad”, yaitu sesuai judul muktamar. Buku ini merekapitulasi peristiwa muktamar dari awal sampai akhir, mulai dari sambutan, pengantar dari panitia, pengantar kementerian Agama Turki sebagai tuan rumah, pemaparan para narasumber, hingga tanggapan dan komentar dari para peserta maupun narasumber (mudakhalah).

Seperti dikemukakan Dr. Mushtafa Dadasy (penanggung jawab penerbitan buku), bahwa buku ini ditampilkan apa adanya, termasuk dari segi penuturan (redaksi kata) para peserta yang memberi tanggapan. Dengan membaca buku ini, pembaca seolah diajak hadir secara utuh dalam peristiwa muktamar tersebut tanpa kehilangan satu momen pun.

Buku ini diterbitkan oleh Kementerian Agama Islam (Ri’asah asy-Syu’un ad-Diniyyah) Turki dan “European Council for Fatwa and Research” (al-Majlis al-Aurubby li al-Ifta’ wa al-Buhuts), dengan ketebalan 402 halaman, dan ditulis dalam bahasa Arab, yang merupakan bahasa dominan yang digunakan saat muktamar berlangsung. Di bagian akhir buku ini terdapat dokumentasi beberapa gambar kegiatan selama muktamar. Sementara itu di halaman 383-392 tertera putusan dan rekomendasi (al-qararat wa at-taushiyyat) muktamar dalam bahasa Arab. Sedangkan putusan dan rekomendasi dalam bahasa Turki terdapat pada halaman 395-397, putusan dan rekomendasi dalam bahasa Inggris terdapat pada halaman 400-402.

Adapun rangkaian “Mu’tamar Tauhid at-Taqwim al-Hijry al-Muwahhad” sebagaimana tertera dalam buku ini adalah sebagai berikut: seremoni pembukaan muktamar dilaksanakan pada hari Sabtu, 11 Sya’ban 1437 H bertepatan 28 Mei 2016 M yang diawali dengan pembacaan kalam ilahi oleh qari Ali Tal. Selanjutnya ucapan selamat datang (sambutan) dari  Kepala Majelis Tinggi Agama (Majlis al-A’la li asy-Syu’un ad-Diniyyah) dan Ketua Komite Ilmiah Muktamar yaitu Dr. Akrim Kilisy. Lalu sambutan Syekh Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawi yang mewakili kalangan ulama dan merupakan tamu kehormatan. Lalu sambutan Kepala Kementerian Agama Turki yaitu Prof. Dr. Muhammad Ghurmaz. Lalu sambutan Wakil Kepala Kementerian (Na’ib Ra’is al-Wizara’) yaitu As-Sayyid Nu’man Qurtulumusy.

Baca juga:  Muhammadiyah dan Upaya Penyatuan Kalender Islam: Refleksi Ramadhan 1437 H

Setelah seremoni pembukaan, dilanjut dengan sesi inti muktamar yang terdiri dari lima sesi paralel (majelis). Sesi pertama (21 Sya’ban 1437 H/28 Mei 2016 M) menghadirkan dua narasumber dan atau dua tema pembahasan. Pertama, “Kalender Hijriah Secara Astronomi” (at-Taqwim al-Hijry Falakiyyan) yang disampaikan oleh Muhammad Syaukat ‘Audah (lebih dikenal dengan Odeh). Kedua, “Kalender Hijriah Secara Syar’i” (at-Taqwim al-Hijry Syar’iyyan) oleh Prof. Dr. Ali Muhyiddin al-Qurrah Daghy.

Lalu sesi kedua (21 Sya’ban 1437 H/28 Mei 2016 M), juga terdiri dari dua tema pembahasan dan dengan dua narasumber pula. Pertama, “Muslim Eropa dan Keperluan Mereka Terhadap Hisab Astronomi dalam Menetapkan Bulan Kamariah” (Muslimu Aurubba wa Hajatuhum li al-Akhdz bi al-Hisab al-Falaky li Dhabth asy-Syuhur al-Qamariyah) oleh Prof. Dr. Ahmad Jaba Allah, dan kedua: “Urgensi Penyatuan Awal Bulan Kamariah dan Kalender Hijriah Unifikasi bagi Umat Islam” (Ahammiyyah Tauhid Bidayat asy-Syuhur al-Qamariyah wa at-Taqwim al-Hijry al-Muwahhad li al-Muslimin) oleh Prof. Dr. Rahmy Yaran (Mufti Istanbul).

Adapun sesi ketiga (22 Sya’ban 1437 H/29 Mei 2016 M) hanya terdiri dari satu tema pembahasan dan merupakan pembahasan terpenting muktamar yaitu tentang “Kalender Tunggal” dengan judul “Proyek Kalender Tunggal” (Masyru’ at-Taqwim al-Uhady) yang disampaikan oleh Prof. Dr. Jalal ad-Din Khanjy (halaman 219). Sedangkan sesi keempat (22 Sya’ban 1437 H/29 Mei 2016 M) juga terdiri dari satu tema pembahasan yaitu “Proyek Kalender Dwi Zona” (Masyru’ at-Taqwim ats-Tsuna’iy) oleh Dr. Haiman al-Mutawally (Anggota Komite Ilmiah Muktamar).

Selanjutnya sesi kelima, merupakan lanjutan dari sesi keempat, yaitu berupa bincang dan diskusi tentang dua penanggalan: tunggal dan dwi-zonal (uhady dan tsuna’iy) sebagai telah dikemukakan oleh dua narasumber sebelumnya (halaman 339). Sesi kelima ini dilanjutkan lagi di hari berikutnya yaitu pada 23 Sya’ban 1437 H/30 Mei 2016 M, yang kembali mendialogkan tentang dua sistem kalender tersebut (tunggal dan zonal).

Baca juga:  The Dark History of Islam? On Farag Fouda and His Book "The Absent Truth"

Hal menarik dari buku ini adalah, selain makalah narasumber, juga ditampilkan secara utuh semua tanggapan dari seluruh peserta, sehingga dengan membaca buku ini pembaca akan dapat melihat dan mengetahui dinamika dan dialektika yang terjadi selama seminar. Sementara itu di  bagian akhir buku ini berisi putusan dan rekomendasi muktamar (al-qararat wa at-taushiyyat) yang ditulis dalam tiga bahasa (Arab, Inggris, Turki) [halaman 383].

Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar

Dosen FAI UMSU dan Kepala Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: