Santri Cendekia
Home » Sekte Akhir Zaman ini adalah Penyokong Utama Israel

Sekte Akhir Zaman ini adalah Penyokong Utama Israel

“Bencana alam dan serangan teroris yang menimpa Amerika Serikat beberapa decade belakangan adalah hukuman Tuhan atas peran negara ini dalam upaya perdamaian [Israel-Palestina]” – David Dolan, seorang Kristen-Zionis.[1]

Faktanya, eksistensi negara bentukan Zionis ini sejak berdirinya sampai sekarang sangat bergantung pada dukungan negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat. Salah satu faktor penting di balik dukungan ini adalah kuatnya aliran Zionisme-Kristen (Christian-Zionism) di kalangan masyarakat, elit politik, dan mogul-mogul bisnis kalangan konservatif Amerika.[2] Disebut ‘aliran’ sebab memang dukungan ini bukan muncul dari afiliasi umum pada kekristenan, tapi muncul dari komitmen-komitmen teologis dan hermeneutic Biblikal yang spesifik.[3]

Istilah “Christian Zionism” sendiri konon pertama kali dibuat tak lain oleh Theodor Herzl sendiri. Jika genealogi istilah ini benar, maka memang tepat bahwa fenomena teologis ini adalah sesuatu yang cukup baru. Menurut Inbari dan Bumin (2019), dukungan sebagian kalangan Evangelis terhadap Zionisme Israel memang sebuah ‘penyimpangan’; mereka tentu tidak sejalan dengan corak kebijakan Gereja Katolik Roma. Namun, sebagai bagian dari keluarga besar Protestan, mereka pun sudah menjauh dari sikap Martin Luther yang oleh Inbari dan Bumin jelas-jelas disebut anti-semitik.

Namun lebih dari sekadar ‘tidak anti semit’, mereka bahkan menjadi pendukung Israel garis keras. Ya, pendukung Israel, bukan pendukung Yahudi; sebab memang dukungan penuh ini lebih diarahkan ke satu versi dari ekspresi sentimen etno-religio-sentris Yahudi, alias Zionisme. Dukungan dari Kristen-Zionis ini bahkan nampak dari masa yang cukup awal. Salah satu tokoh yang tercatat sebagai seorang Kristen-Zionis adalah William Hechler. Dia adalah asisten pribadi Theodor Herzl, pendiri Zionisme modern.

Menurut survey literatur Inbari dan Bumin, berbagai riset menunjukan bahwa pengaruh para Krsiten-Zionis ini sudah berefek bahkan sejak Deklarasi Balfour (1917). Janji Inggris untuk membantu pembentukan tanah air nasional Yahudi di Palestina, terinspirasi oleh sentimen pro-Yahudi dengan basis Kekristenan ini. Dukungan ini semakin menguat sejak deklarasi negara Israel pada 14 Mei 1948. Dalam tafsiran kelompok ini, berdirinya Israel pada 48 itu tak lain adalah wujud nubuwat Biblikal yang menjadi nyata. Sejak saat itu, dukungan kelompok ini tidak pernah surut dan terbukti bisa mempengaruhi arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat, di luar berbagai pertimbangna strategis yang lebih ‘duniawi’ tentu saja.

Baca juga:  Menguji Keseriusan Ikhtiar Muhammadiyah dalam Membela Palestina

Saya tidak akan terlalu banyak bicara soal detail teologis dan corak heremeneutik Kristen-Zionis. Itu area yang gelap bagi saya. Tapi dari literatur yang bisa dipertanggung jawabkan, terlihat bahwa corak teologi mereka memang sangat dipengaruhi oleh berbagai ide apokaliptik, alias akhir zaman. Ya, di Islam kita juga punya ustadz-ustadz popular macam itu. Sedikit penjelasan singkat saja, ajaran Kristen-Zionis ini sangat dipengaruhi oleh John Nelson Darby, khususnya ajaran Darby soal timeline akhir zaman.

Darby memiliki tafsiran spesifik terhadap Kitab Wahyu dan tradisi nubuwat Alkitab Ibrani. Menurutnya, sebelum Kedatangan Kedua Yesus, orang Yahudi perlu berkumpul kembali di tanah leluhur mereka, membangun negara, mendirikan Bait Allah, dan mengikuti sosok Antikristus. Semua peristiwa ini akan memicu Kebangkitan Orang Kudus, Kedatangan Kedua Yesus, diikuti oleh Pertempuran Armagedon dan perang Hari Kiamat, setelah itu dunia akan hidup dalam damai di bawah pimpinan Kristus selama 1.000 tahun. Peristiwa ini juga akan mencakup konversi sebagian besar orang Yahudi ke dalam Kekristenan. Dengan pembentukan Negara Israel, terutama setelah pendudukan Israel di Yerusalem dan Bukit Bait Suci selama Perang 1967, visi eskatologis tentang Kedatangan Kedua yang dekat menjadi lebih sentral dalam teologi mereka.

Lalu apakah ajaran dari teolog lawas itu masih bergaung hingga sekarang? Dalam risetnya yang lain, Inbari dan Bumin (2020) menanyakan langsung kepada orang-orang Amerika, mengapa mereka tetap setia mendukung Israel. Kedua peneliti menemukan bahwa dukungan terhadap Israel dipengaruhi oleh keyakinan responden yang berakar dalam teologi eskatologi dan literalisme Alkitab (Biblical literalism). Sentimen ini terangkum dalam pernyataan yang paling sering muncul dari para responden; “Negara Israel adalah bukti pemenuhan nubuat tentang kedekatan Kedatangan Kedua Yesus” dan bahwa “Orang Yahudi adalah umat pilihan Tuhan.”

Baca juga:  Menyibak Hipokrisi Barat, Media, dan Keterlibatan Gereja di dalam Krisis Gaza

Begitulah, jadi jika ada yang bertanya; apakah ini konflik agama atau problem kemanusiaan? Maka jawabannya tidak bisa dijawab ‘agama’ atau ‘kemanusiaan’. Bahwa ini adalah masalah kemanusiaan tidak bisa ditampik, memang benar, cukup menjadi manusia waras saja untuk bisa simpati pada nasib Palestina. Tapi mereka yang simpati bahkan fanatik mendukung IDF juga adalah manusia. Di sinilah dimensi agama dari konflik ini perlu diperhatikan baik-baik. Sebab agama jelas memainkan peran penting dalam banyak keputusan hidup manusia.

Namun isu ini bukan konflik agama juga; ini bukanlah perebutan klaim religious atas sebuah tanah – sebab bangsa Palestina tidak pernah menggunakan dalih keagamaan untuk menuntut hak mereka untuk kembali ke tanah leluhur yang dirampas sejak pembersihan etnis 1948.  Jadi, tentu saja ada dimensi agama dalam konflik ini, dan apa yang kami sampaikan di atas, hanya salah satunya saja. Tapi itulah dimensi agama yang cukup penting untuk dipahami, sebab posisi-poisis teologis itulah yang mendorong banyak orang untuk mendukung agresi IDF.

Lalu apakah toelogi ini beresonansi di Indonesia? Bagaimana seharusnya kita sebagai masyarakat majemuk menyikapinya? Perlu riset lebih jauh untuk menjawabanya. (kita tunggu riset serius dari kampus-kampus berkemajuan lagi jago dialog lintas iman yang katanya mau berikhtiyar menyelematkan semesta).

[1] Dikutip dalam https://www.academia.edu/98103348/Christian_Zionism_A_Missiological_Emergency

[2] Tal, David. “The Judeo-Christian Tradition and the US-Israel Special Relationship.” Diplomacy & Statecraft 34, no. 4 (2023): 755-776.

[3] Untuk melihat kritik teologis pada Zionisme-Kristen dari seorang Protestan Evangelis lihat https://www.academia.edu/98103348/Christian_Zionism_A_Missiological_Emergency
Kritik dari perspektif Katolik, tonton nih https://www.youtube.com/watch?v=AlRjFBSNy1M&pp=ygURY2hyaXN0aWFuIHppb25pc20%3D

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar