Santri Cendekia
free

Seri Fallacy : Free Price Trap

Seri Fallacy

Free Price Trap

Apakah gratis itu benar-benar gratis?

Ketika belanja online, kita menemukan penawaran ‘free shipping’ alias gratis ongkos kirim. Sebenarnya itu tidak gratis. Penjual tentu membutuhkan biaya untuk mengirimkan barang ke pembeli melalui jasa TiKi atau JNE. Mau dibayar pakai apa TiKi atau JNE? Daun? Daun bukan alat tukar yang sah di negri ini. Biaya pengiriman itu sudah dimasukkan ke harga barang, jadi kita tak perlu bayar ongkos kirim lagi.

Begitu juga penawaran menggiurkan ‘buy one get one free’. Benarkah kita mendapat satu produk tambahan dengan gratis? Tidak. Sebenarnya kita membayar setengah harga pada masing-asing barang.

Ingatlah pepatah ini; “There’s no such thing as a free lunch.”

Tidak ada yang namanya makan siang gratis

Cobalah baca buku karya Crish Anderson yang judulnya ‘Free : The Future of Radical Price’, sebuah buku bagus untuk memberikan kita perspektif tentang gratis.

Entah bagaimana manusia bisa senang dengan hal-hal yang gratis. Mungkin karena manusia adalah homo economicus, ia jadi sensitif terhadap biaya/harga.

Peristiwa ini baru terjadi beberapa waktu lalu; antrean para pembeli donat J.CO mengular sampai ke jalan raya hanya karena ada potongan harga. Orang yang sudah kenyang makan di rumah saja jadi mendadak beli donat. Bayangkan jika donat J.CO itu dibagi gratis. Orang yang tidak suka donat pun pasti akan ikut antre. “Lumayan donat gratis.” Katanya.

Jika dipikir ulang. Kita akan berkesimpulan bahwa donat itu tidaklah gratis. Dibalik gratis ada hidden cost, yakni biaya tersembunyi yang tak terlihat.

Kita memang tidak keluar uang sepeser pun, tapi, tentu saja mengantre membutuhkan waktu. Waktu kita yang berharga adalah biaya yang kita bayarkan untuk sekotaks donat ‘gratis’. Sedangkan penjual donat mendapatkan keuntungan dari pemberitaan tentang antrean panjang yang terjadi di gerai mereka. Berita tersebut tersebar di sosial media, media online, koran, bahkan televisi. Hitungannya, memberikan donat gratis lebih murah dibanding memasang iklan di televisi.

Baca juga:  Kritik Ibnu Rusyd Terhadap Ibnu Sina dan al-Ghazali

Kita harus cermat untuk mendeteksi keberadaan hidden cost, karena kita selalu gelap mata dan khilaf jika menghadapi sesuatu yang tidak mengeluarkan biaya.

Misalnya tidur. Tidur kita anggap sebagai wahana relaksasi yang murah, gratis, no charge, atau zero cost. Tapi sebenarnya hidden costnya sangat mahal lho. Waktu untuk membaca, berkarya, mengembangkan diri, mengasah skill, habis oleh tidur saja. Padahal di luar sana orang-orang saling bersaing untuk jadi yang terbaik. Waktu itu investasi, kalau semua dihabiskan hanya untuk tidur kita akan rugi.

Sebagai muslim kita percaya bahwa tidak ada yang gratis. Makanya di dalam Surat Al-Mu’minuun, orang mu’min digambarkan sebagai orang yang menjauhi hal yang sia-sia. Karena tidak ada yang namanya sia-sia. Sia-sia itu sesuatu yang mesti dipikirkan dengan bijak karena bisa menghilangkan kesempatan lain yang lebih berharga.

Share berita di Facebook itu gratis, tapi sebenarnya tidak gratis juga. Terdapat konsekuensi dan dampaknya. Ingatlah jaman sekarang orang berbisnis tidak cuma ingin dapat profit materil tapi juga dampak sosial, Jadi pikir-pikir lagi jika menyebarkan berita. Menyebarkan berita berarti mendeklarasikan diri kepada siapa kita berpihak, gagasan apa yang kita setujui, dan apa preferensi kita. Ini hal serius loh. Selain akan dikodefikasi oleh Google untuk segementasi iklan, juga akan dicatat oleh Raqib dan Atid untuk klasifikasi pahala atau dosa.

Dalam pemerintahan pun tidak ada yang gratis, yang ada adalah distribusi pendapatan negara. Setiap kebijakan butuh biaya, maka kita harus skeptis dengan kata gratis dari pemerintah.

Kebijakan pemerintah soal gratis sekolah dari SD sampai SMA, gaji ke-13, pembangunan infrastruktur, itu semua tidak gratis diberi pemerintah. Uang pemerintah didapat dari pajak yang kita bayar dan dari kekayaan alam Indonesia. Oleh karena itu, jika dijanjikan kebijakan baru yang terkesan menguntungkan jangan langsung senang. Pikir dulu. dari mana biayanya? Jangan-jangan malah kita yang membayar pajak lebih atau kehilangan kekayaan alam Indonesia

Baca juga:  Syamsul Anwar dan Pemikirannya Dalam Bidang Hisab-Rukyat (1)

Waspadalah pada sesuatu yang gratis.

Ginan Aulia Rahman

Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia, dulu nyantren di Darul Arqam Muhammadiyah Garut dan Ma'had Addauly Damascus, Syria.

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: