Santri Cendekia

Seri Fallacy : Survivorship Bias

Seri Fallacy

Survivorship Bias

Fir’aun berserta rombongan melihat Musa berhasil melewati laut merah yang terbelah. Di kepalanya terlintas pikiran “Kalau Musa saja bisa melalui laut itu, maka saya pun pasti bisa melakukannya.”

Fir’aun nekad menyebrang, namun ia tak selamat seperti musa. Ia tenggelam ditelan laut merah pertama karena ia pembangkang pada Tuhan dan kedua karena ia terjebak pada kekeliruan berpikir survivorship bias.

Survivorship bias adalah kekeliruan berpikir yang muncul karena melihat orang-orang yang berhasil, selamat, sukses, dan juara, sehingga ia berpikir bisa selamat/sukses seperti orang yang ia lihat.

Kita sering mendengar lagu-lagu dari para musisi hebat di radio, televisi, YouTube, dan kanal lainnya. Kebetulan karena kita bisa sedikit alat musik, lantas kita berpikir bahwa menjadi musisi itu mudah dan menyenangkan. Cukup membuat karya sendiri, mengupload ke internet, dan jadi terkenal. Padahal kenyataannya tidak begitu. Dari 1 musisi sukses yang kita lihat sebenarnya ada 100 musisi gagal yang kita tidak cermati perjalanan karirnya.

Begitu juga ketika kita melihat penerima beasiswa, penulis hebat, politisi menang pemilu, entrepreneur kaya, dan pencapaian-pencapaian menggiurkan lainnya. Kebanyakan dari kita hanya tergerak dan ikut-ikutan karena suksesnya tanpa belajar dari kegagalan yang pernah dialami orang.

Kita perlu menyadari bahwa media hanya meliput orang sukses dan selamat, jadi hanya cerita dari mereka saja yang tersebar dan dibaca orang banyak. Kisah  di film Titanic misalnya, adalah sebuah cerita dari Rose yang selamat dari karamnya kapal Titanic, sedangkan cerita dari Jack tidak pernah kita ketahui. Mungkin saja Jack punya unek-unek “Kampret si Rose. Gue mau naek sekoci ga dibolehin karena dia minta ditungguin. Mati deh gue jadinya.”

Cara untuk keluar dari kekeliruan Survivorship bias adalah dengan

  1. menunda kesimpulan sampai informasi-informasi lain yang tidak mainstream tentang kesuksesan seseorang muncul dan kita cermati.

  1. membaca kisah-kisah orang gagal yang pernah mencoba bidang yang kita tertarik tekuni.

  1. Tanyakanlah pada diri kita sendiri, apakah bidang itu cocok dengan minat dan bakat kita ataukah itu hanya dorongan emosional belaka setelah membaca biografi seorang sukses?

 

Ginan Aulia Rahman

Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia, dulu nyantren di Darul Arqam Muhammadiyah Garut dan Ma'had Addauly Damascus, Syria.

Add comment

Tinggalkan komentar