Santri Cendekia
Home » SIAPA SAJA AHLUL BAIT RASULULLAH saw?

SIAPA SAJA AHLUL BAIT RASULULLAH saw?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Secara  etimologis  kata ahl berarti keluarga atau kaum kerabat. Jika kata ini dihubungkan dengan suatu kata lain misalnya ahl al-bait artinya adalah penghuninya[1]. Ahl bait Rasulillah berarti keluarga Rasulullah saw.  Frasa ahl al-bait terdapat di dalam al-Qur’an dan Hadis, sehingga untuk mengetahui siapakah yang termasuk kedalam ahlul bait kita harus kembali kepada keduanya serta penjelasan dari para mufassir yang keilmuannya telah diakui di kalangan ummat Islam. 

Kelaurga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah termasuk anak-anaknya memang merupakan ahlul bait Rasulullah saw, hal itu ditunjukan oleh makna etimologis ahlul bait juga oleh  banyak dailil-dalil naqli. Namun kami mencukupkan menyebutkan dua hadis berikut :

حدّثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللّهِ بْنِ نُمَيْرٍ (وَاللَّفْظُ لأَبِي بَكْرٍ). قَالاَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ عَنْ زَكَرِيَّاءَ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ شَيْبَةَ عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَة. قَالَتْ: قَالَتْ عَائِشَةُ ،: خَرَجَ النَّبِيُّ غَدَاةً وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ، مِنْ شَعَرٍ أَسْوَدَ. فَجَاءَ الْحَسَنُ ابْنُ عَلِيَ فَأَدْخَلَهُ. ثُمَّ جَاءَ الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ مَعَهُ. ثُمَّ جَاءَتْ فاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا. ثُمَّ جَاءَ عَلِيٌّ فَأَدْخَلَهُ. ثُمَّ قَالَ: {إِنَّمَا يُرِيدُ اللّهَ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً } (33الأحزاب الآية: 33)
Aisyah ra berkata : Nabi saw keluar pada suatu siang, beliau mengenakan mantel lalu datanglah Hasan bin Ali dan beliaupun memasukannya kedalam naungan mantel tersebut, lalu datanglah Husain bin Ali dan beliaupun memasukannya kemudian datanglah Fatimah dan beliaupun memasukannya kemudian datanglah Ali radiallahu anhum dan beliaupun memasukkannya. Setelah itu Rasulullah membaca “sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kalian wahai ahlul bait dan mensucikan kalian sesuci sucinya” (al-Ahzab : 33). (HR. Muslim)

   قال الإمام أحمد: حدثنا عفان، حدثنا حماد، أخبرنا علي بن زيد  ، عن أنس بن مالك، رضي الله عنه، قال: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يمر بباب فاطمة ستة أشهر إذا خرج إلى صلاة الفجر يقول: “الصلاة يا أهل البيت، { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا } .
ورواه الترمذي، عن عبد بن حميد، عن عفان به. وقال: حسن غريب
Dari Anas bin Malik, ia berkata : sesungguhnya Rasulullah saw pernah selama enam bulan setiap kali melewati pintu rumah Fatimah dan Ali untuk shalat Subuh beliau bersabda “shalat wahai ahlul bait (dan membacakan ayat) sesungguhnya Allah hendak menghilangkan rijs dari kalian dan mensucikan kalian sesuci-sucinya”. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan ia berkata hadis ini hasan gharib).

Membatasi ahlul bait Rasulullah saw hanya pada Ali bin Abi Tahlib, Fatimah, Hasan, Husain dan keturunannya saja adalah pendapat menyimpang  yang menyelisihi hadis-hadis Nabi saw dan  para  ulama ummat Islam yang menunjukan bahwa ahlul bait Rasulullah ,sealin keluarga Ali dan Fatimah,  juga mencakup istri-istrinya beserta anak-anak mereka, keluarga Abbas, keluarga Jakfar, dan kelaurga ‘Aqil.

Di dalam kitab Minhaju Sunnah an-Nabawiyah, Ibnu Taimiyah berkata: “ulama telah berselisih pendapat tentang masuk tidaknya istri-istri Nabi kedalam kalangan ahlul bait, dimana terdapat dua riwyat dari Imam Ahmad, dan yang benar (dalam masalah ini) bahwa para istri Nabi adalah termasuk Alul Bait. Karena telah ada dalam hadits yang diriwayatkan di shahihaini yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari lafadz bershalawat kepadanya dengan lafal   اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ, (Ibnu Taimiyah, 1986 : IV/11).

Imam al-Baihaqi membaut bab tersendiri di dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra  bernama “bab dalil bahwa istri-istri Rasullah termasuk ahlul baitnya dalam hal berselawat atasnya”. Di awal bab tersebut Imam al-Baihaqi berkata :

Hal tersebut (yakni istri-istri Nabi termasuk ahlul bait) karena Allah ta’ala telah  menjadikan mereka khitab (lawan bicara) di dalam firmannya “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara” (al-Ahzab : 32), lalu Allah swt menyampaikan ayat-ayat berikutnya hingga firman-Nya “sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kalian wahai ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya” (al-Ahzab : 33). Allah ta’ala menggunakan kata  عَنْكُمْ  yang merupakan kata ganti bagi pria di dalam ayat tersebut karena Allah swt bermaksud memasukan orang-orang selain mereka ke dalam hal tersebut (kalangan ahlul bait) bersama mereka (para istri Nabi), kemudian Allah menyandarkan kata الْبُيُوتَ (rumah) kepada mereka dalam firmannya “dan ingatlah ayat-ayat Allah dan hikmah (wahyu) yang dibacakan di rumah-rumah kalian” (al-Baihaqi , 1344 H : 150).

Salah satu hadis yang disebutkan Imam al-Baihaqi di dalam bab tersebut adalah hadis dari Ummu Salamah yang berbunyi :

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ : فِى بَيْتِى أُنْزِلَتْ (إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا) قَالَتْ : فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِلَى فَاطِمَةَ وَعَلِىٍّ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ فَقَالَ :« هَؤُلاَءِ أَهْلُ بَيْتِى ». وَفِى حَدِيثِ الْقَاضِى وَالسُّلَمِىُّ :« هَؤُلاَءِ أَهْلِى ». قَالَتْ فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا أَنَا مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ؟ قَالَ :« بَلَى إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى »
Dari Ummu Salamah ia berkata di rumahku turunlah ayat (al-Ahzab : 33), lalu Rasulullah saw mengutus seseorang untuk memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, lalu Rasulullah saw dan bersabda  “merekalah ahlul baitku”. Di dalam hadis al-Qadhi as-Sulami, Rasul bersabda “merekalah ahli..(tanpa lafal al-bait). Lalu berkatalah Ummu Salamah ; wahai Rasululah bukankah aku juga termasuk ahlul batimu?. Rasulullah saw menjawab ; iya insya Allah ”. (HR. Baihaqi).
Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan surah al-Ahzab ayat 33 berkata :  Ini adalah nash yang menunjukan bahwa para istri Rasulullah termasuk kedalam kalangan ahlul bait karena merekalah (para istri Nabi) sebab turunnya ayat ini. Sedangkan pihak yang menjadi sebab turunnya ayat termasuk kedalam pembahsan suatu ayat.(Ibnu Katsir , 2008 431).
Hadis yang menunjukan siapa sajakah ahlul bait adalah hadis Imam Muslim yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam yang bunyinya sebagai berikut :

حدثني زهير بن حرب وشجاع بن مخلد جميعا عن بن علية قال زهير حدثنا إسماعيل بن إبراهيم حدثني أبو حيان حدثني يزيد بن حيان قال * انطلقت أنا وحصين بن سبرة وعمر بن مسلم إلى زيد بن أرقم فلما جلسنا إليه قال له حصين لقد لقيت يا زيد خيرا كثيرا رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وسمعت حديثه وغزوت معه وصليت خلفه لقد لقيت يا زيد خيرا كثيرا حدثنا يا زيد ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم قال يا بن أخي والله لقد كبرت سني وقدم عهدي ونسيت بعض الذي كنت أعي من رسول الله صلى الله عليه وسلم فما حدثتكم فاقبلوا وما لا فلا تكلفونيه ثم قال قام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فينا خطيبا بماء يدعى خما بين مكة والمدينة فحمد الله وأثنى عليه ووعظ وذكر ثم قال أما بعد ألا أيها الناس فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربي فأجيب وأنا تارك فيكم ثقلين أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله واستمسكوا به فحث على كتاب الله ورغب فيه ثم قال وأهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي فقال له حصين ومن أهل بيته يا زيد أليس نساؤه من أهل بيته قال نساؤه من أهل بيته ولكن أهل بيته من حرم الصدقة بعده قال ومن هم قال هم آل علي وآل عقيل وآل جعفر وآل عباس قال كل هؤلاء حرم الصدقة قال نعم
Dari Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari berkhutbah: Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku (sampai tiga kali) maka Husain bin Sibroh (perawi hadits) bertanya kepada Zaid “Siapakah Ahlul Bait beliau wahai Zaid bukankah istri-istri beliau termasuk ahlil baitnya? Zaid menjawab para istri Nabi memang termasuk Ahlul Bait akan tetapi yang di maksud di sini, orang yang di haramkan sedekah setelah wafatnya beliau. Lalu Husain berkata: siapakah mereka beliau menjawab:“Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas ? Husain bertanya kembali Apakah mereka semuanya di haramkan  menrima  zakat ? Zaid menjawab Ya…(HR. Muslim)

Baca juga:  Perkembangan Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Respon Cendekiawan Islam (1)

[1]Mu’jam al-wasit hal 31.

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

3 komentar

Tinggalkan komentar