Santri Cendekia
Home » Siapakah Allah Menurut Allah? ; Tadabbur Surat al-Ikhlas (1)

Siapakah Allah Menurut Allah? ; Tadabbur Surat al-Ikhlas (1)

Bismillah, subhanaka laa’ilmalana illa ma ‘allamtana.
1. Katakan, Dialah Allah yang Ahad

2. Allah yang menjadi tempat bergantungnya segala sesuatu

3. Tidak beranak dan tidak diperanakan

4. Dan tidak ada siapapun yang setara dengan Dia

Surat ini, seperti yang sudah kita ketahui bersama, barang siapa yang membacanya, maka dia seperti membaca sepertiga isi Al-Qur’an. Sebab turunnya surat ini adalah ketika sekelompok orang kafir Quraisy bertanya kepada Rasulullah SAW tentang bagaimana nasab Rabbnya, maka Allah menurunkan surat ini. Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita satukan dulu pemahaman kita tentang definisi ahad. Definisi ahad adalah, subjek tidak menerima adanya sedikitpun persamaan dalam dzat, sifat, dan perbuatan “laisaa kamistlihi syai’un” (tidak ada yang semisal dengan-Nya sedikitpun) – As-syu’ara : 11. Dan pernyataan “Dialah Allah yang Ahad” adalah sebuah statement mutlak yang menyucikan Allah, bahwa Allah itu adalah Nama yang yang Dia pilih untuk Dzat-Nya Yang ahad. Jika Allah maka Dia ahad, apabila tidak ahad, pastilah dia bukan Allah.

Lalu apa tujuan dari ayat ini? Tidak dapat dipungkiri, banyak sekali orang-orang, aliran-aliran, ataupun agama-agama yang semuanya mengaku menyembah Allah, tapi mereka melakukannya dengan bathil dan tidak memperlakukan Allah sebagai mana mestinya, sebagai Dzat Yang Ahad, termasuk kaum kafir Quraisy yang menjadi musuh pertama islam, mereka percaya adanya Allah, mereka percaya Allah adalah Rabb mereka, pemilik ka’bah, dan yang menciptakan alam semesta, namun mereka menyembah berhala-berhala dan menganggapnya sebagai perantara yang bisa mendekatkan mereka dengan Allah dan menganggap berhala2 tersebut dapat memberikan manfaat dan mudharat kepada mereka. Allah berlepas diri dari semua itu, berlepas diri bahwa apa-apa dari yang mereka sifati dan sekutui.

Baca juga:  Tadabbur Ali Imran : 110-Amar Ma'ruf Nahi Mungkar, Imun Sebuah Peradaban

Adapun uraian ke-ahad’an Allah ‘azza wa jalla :

1. Allah tidak menerima persamaan dalam Dzat-Nya, misal kita wajib meyakini bahwa Allah Maha Melihat, namun bagaimana mekanisme Allah melihat, bagaimana mata Allah, dan semua tentang itu, sudah bukan lagi ranah kita untuk mencari tahu, karena memang tidak ada kepentingan kita dalam hal itu dan tidak akan mungkin dengan akal kita yang lemah ini kita bisa menggambarkan semua itu. Karena sebanyak apapun jenis mata yang kita ketahui di dunia ini, mata serangga kah, mata ular kah, mata kutu lah, dan mata2 lainnya, sungguh tidak ada sedikitpun yang memiliki kesamaan dengan penglihatan yang dimiliki Allah. Selesai.

2. Allah tidak menerima persamaan dalan sifat, misal kita wajib meyakini bahwa Allah adalah Al-‘alim, Maha Mengetahui, namun pengetahuan Allah itu berbeda dengan definisi pengetahuan pada manusia. Ilmu Allah tidak didahului ketidak tahuan dan tidak mungkin diakhiri dengan kelupaan, karena Al-‘alim adalah sifat yang ia tetapkan pada Dzatnya. Sedangkan kita? “Maha Suci Engkau (Allah), tidak ada ilmu bagi kami, kecuali apa yang Engkau ilmui kepada kami” (Al-Baqarah : 32). Ilmu kita didahului oleh ketidak tahuan dan dapat diakhiri oleh kelupaan. Karena kita ini ibarat wadah kecil yang Allah dapat menuangkan ilmu-Nya kapanpun Dia berkehendak, dan Dia juga dapat mencabut ilmu-Nya kapanpun Dia berkehendak.

3. Allah tidak menerima persamaan dalam perbuatan.

“Badi’ussamawati wal ard”, Allah menciptakan langit dan bumi (tanpa pernah ada contoh yg serupa sebelumnya) – Al baqarah : 117

Kreasi Allah tidak satupun yang menyamai, Allah bisa membuat apapun tanpa sumber dan bahan baku. Sedangkan manusia mustahil bisa membuat sesuatu tanpa ada sumber dan bahan baku. Karena itulah Allah disebut Khaliq.

Baca juga:  Ayat-ayat "Corona"

Allahu a’am bishshawab

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar