Suatu Hari tentang Pragmatisme dan Politik Oligarkis-Aristokratis Bani Israil.

Di dalam Tafsir Al Munir karangan Dr. Wahbah Zuhaili, disampaikan bahwa Al Baqarah 246 bercerita tentang para elit Bani Israil yang meminta kepada Nabi Samuel untuk dipilihkan seorang pemimpin yang akan memimpin mereka untuk berperang fii sabilillah dengan penduduk palestina.[1] Al Malaa’ memiliki akar kata yang sama dengan Al-Mil’u yang artinya penuh. Para elit Bani Israil disebut sebagai Malaa’ karena mereka memenuhi mata orang-orang dengan keindahan dan keelokan, karena pakaian dan muka mereka yang rupawan [2]. Jika menurut Dr. Wahbah Zuhaili dalam tafsir Al Munir, elit Bani Israil disebut sebagai Al Malaa’ karena mereka membuat orang-orang yang memandang mereka gentar bila berkumpul.[3] Intinya para elit Bani Israil tersebut disebut Al-Malaa’ karena mereka dipenuhi oleh pandangan dari kaumnya.

Namun karena tabiat Bani Israil yang terkenal pengecut dan suka berkhianat, Nabi Samuel merasa sangsi dan berprasangka jangan jangan Bani Israil akan enggan dan berpaling dari perintah perang ketika perang fii sabilillah diwajibkan atas mereka.

Lalu mereka menjawab keraguan Nabi Samuel dengan sebuah jawaban yang akan menjadi kunci pembahasan tulisan tadabbur Al-Qur’an kali ini, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah sedangkan mereka sudah diusir dari tanah air mereka dan mereka dipisahkan dari anak anak mereka?”. Mereka memutuskan untuk meminta raja yang akan memimpin mereka berperang di jalan Allah karena motivasi yang pragmatis. Mereka tidak punya pilihan lagi, mereka berperang karena sudah merasa “nothing to lose”. Mereka mau berperang di jalan Allah bukan karena semata mata kecintaan terhadap jihad dan kalimat tauhid.

Dan singkat cerita, setelah kewajiban berperang sudah turun kepada mereka, benar saja, “tawallau illa qoliilan minhum” mereka semua berpaling, berbalik arah, mendadak ciut mental, menolak berperang, kecuali sedikit di antara mereka saja.

Di ayat ini Allah ‘Azza wa Jalla bercerita tentang potret pragmatisme para elit Bani Israil yang akhirnya melahirkan sebuah impotensi di jalan perjuangan. Filsafat atau paham pragmatisme adalah sebuah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis.[4]

Sebuah bentuk pragmatisme Bani Israil, mereka kaum pengecut, dan seandainya pun berperang, mereka butuh motivasi motivasi berupa hasil yang konkret dan praktis di dalam tujuan mereka berperang. Mereka mau berperang bukan alasan jihad fii sabilillah (kecuali sedikit). Mereka mau berperang ya karena memang tanah mereka terampas dan anak anak mereka ditawan oleh Jalut.

Memang selalu begitu, bahwa pragmatisme itu selalu membuat ruh perjuangan seorang selalu lemah. Karena memang ruh perjuangan tertinggi bagi jihad seorang hamba adalah untuk mendapatkan ridho dan janji-janji-Nya.

Lalu di ayat selanjutnya, Al Baqarah 247, Allah ‘Azza wa Jala bercerita tentang prosesi pemilihan Thalut sebagai raja Bani Israil yang baru. Para elit Bani Israil protes dan merasa bahwa Thalut tidak lebih pantas menjadi raja mereka dibandingkan seorang di antara mereka. Karena Thalut bukan keturunan bangsawan, bukan dari garis keturunan yahudza yang biasanya selalu menjadi raja Bani Israil.[5] Ditambah lagi Thalut adalah seorang yang miskin. Tidak seperti para mala’ Bani Israil yang memiliki banyak harta hal ini tercermin dalam argument para elit Bani Israil “walam yu’ta sa’atan minal mal”, dia tidak diberikan kekayaan yang banyak.

Di sini Al-Qur’an menggambarkan mental oligarkis-aristokratis Bani Israil.. Secara bahasa, oligarki itu berasal dari bahasa Yunani yaitu oligarkhia. Oligon yang berarti sedikit dan arkho yang berarti memerintah. Berarti pemerintahan yang dijalankan oleh segelintir orang. Menurut KBBI, oligarki itu adalah pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu. [6] Sedangkan aristokrasi, secara bahasa berasal dari bahasa yunani yaitu aristos yang berarti sempurna, dan kratos yang artinya adalah kekuatan. Definisi aristokrasi jika menurut Oxford English Dictionary, is a form of government that places strength in the hands of a small, privileged ruling class Tejemahan kasarnya, Aristokrasi “adalah bentuk pemerintahan di mana kekuasaan berada di tangan kelompok kecil, yang mendapat keistimewaan, atau kelas yang berkuasa.[7] Sehingga oligarkis-aristokratis adalah sebuah bentuk pemerintahan atau kepemimpinan yang didominasi oleh segelintir kelompok yang memiliki kekayaan atau garis keturunan atau hak hak kebangsawanan tertentu.

Maka terpilihnya Thalut merupakan sebuah deklarasi simbolik bahwa memang Allah ‘azza wa jalla akan memberikan kerajaan dan kekuasaan kepada siapapun yang Dia kehendaki, “wallahu yu’tii mulkahuu man yasyaa’”. Allah juga memilih Thalut karena kelebihan ilmu dan kekuatan yang ia miliki, “wazaadahuu basthotan fil ‘ilmi wal jism”. Tidak benar bahwa kekayaan dan garis keturunan merupakan prasyarat mutlak bahwa seseorang itu pantas dipilih menjadi raja dan diberi kekuasaan. Allah Maha Luas rahmat-Nya, siapapun yang pantas dan Allah kehendaki, maka ia akan diberi kekuasaan. Allah juga Maha Tahu kepada siapa Dia pantas memberikan kekuasaan, “Wallahu waasi’un ‘aliim”.

Bukankah insight di dua ayat Al-Qur’an ini masih relevan dan marak terjadi hari ini di pentas perpolitikan kita? history repeats itself dude!

Allahu a’lam bishshawab

Referensi:

[1] Dr. Wahbah Zuhaili, “Tafsir Al Munir”, Gema Insani Press

[2] Al-Maraghi, “Tafsir Al-Maraghi”

[3] Dr. Wahbah Zuhaili, “Tafsir Al Munir”, Gema Insani Press

[4] Harun Hadiwijono, “Sari Sejarah Filsafat Barat 2”

[5] Dr. Wahbah Zuhaili, “Tafsir Al Munir”, Gema Insani Press

[6] Imam Ibnu Katsir, “Tafsir Ibnu Katsir”, Pustaka Imam Asy-syafi’i

[7] Kamus Besar Bahasa Indonesia

[8] Oxford Englis Dictionary

irfan fahmi

material engineering at PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia
mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tinggalkan komentar