Santri Cendekia
Home » Tadabbur Al-Lahab (Bag. 3)

Tadabbur Al-Lahab (Bag. 3)

Bismillahirrahmanirrahim

subhanaka la’ilmalana illa ma ‘allamtana

innaka antal ‘alimul hakim

“Kelak dia akan dimasukan ke dalam neraka yang bergejolak”, ayat ini merupakan salah satu contoh mukjizat Al-qur’an. Surat ini turun ketika Abu Lahab masih hidup dan belum mati, itu berarti ayat ini menggambarkan kepastian masa depan bagi Abu Lahab setelah dia mati. Allah ‘azza wa jalla memvonis dia bahwa dia kelak, dengan segala tingkah laku yang hina dina, akan Allah masukan ke dalam neraka yang bergejolak. Sebenarnya bisa saja pada saat itu, secara logika, setelah mendengar ayat ini Abu lahab takut dan segera bertaubat. Namun Allah Maha Tahu isi hati hamba-hambanya, “Sesungguhnya jika Allah Tahu ada kebaikan pada diri-diri mereka, Allah akan menjadikan mereka mendengar..” (Al-Anfal : 23). Dan jika pada saat itu Abu lahab bertaubat, itu berarti Al-Qur’an salah dan jelas sangat tidak mungkin hal itu terjadi, Maha Suci Allah dari segala kekurangan. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita, bahwa sedikitpun tidak ada keraguan pada Al-Qur’an,

`           “Dan istrinya, si pembawa kayu bakar” Ayat ini memberikan keterangan tambahan bahwa kelak, istri Abu lahab juga akan masuk ke neraka bersamanya. Siapakah istri Abu lahab? Dia bernama Aura’ binti harb, saudari dari Abu sufyan bin Harb. Aura’ binti harb mendapat panggilan dari kaumnya “Ummu jamil”. Ia mendapatkan panggilan seperti itu karena fisiknya yang cantik. Dia juga termasuk bangsawan quraisy. Namun tidak sesuai dengan kecantikan luarnya, akhlaknya begitu buruk. Salah satu wanita yang sangat keras dan bengis memusuhi Rasulullah. Wanita ini memiliki konsistensi yang tinggi dalam memusuhi dakwah Rasulullah. 3 perbuatannya yang paling terkenal adalah:

  1. Dia adalah wanita yang paling sering untuk memprovokasi dan membangkitkan kebencian dan permusuhan pada orang-orang sekitarnya untuk memusuhi dan memerangi Rasulullah.
  2. Dia adalah wanita yang begitu konsisten untuk mengumpulkan ranting-ranting berduri yang kelak akan dia tebarkan di sepanjang jalan yang akan di lalui Rasulullah.
  3. Ketika surat Al-lahab turun, dia marah dan mencari Rasulullah sambil membawa sebuah batu yang tajam. Batu itu ia bawa untuk ia pukulkan kepada wajah Rasulullah. Namun Allah melindungi Rasul-Nya, sehingga ummu jamil tidak dapat melihat Rasulullah ketika ummu jamil berbicara dengan Abu bakar di dekat ka’bah, padahal Rasulullah saat itu sedang berada di sisi Abu Bakar.
Baca juga:  Langkah Penetapan Hukum; Studi Kitab al-Luma dan al-Waraqat

Abu lahab dan ummu jamil adalah potret kisah cinta sehidup semati yang berakhir dalam kebinasaan. Padahal, jika ingin kita lihat dari sudut pandang materialisme, pasangan ini adalah pasangan yang luar biasa serasi. Sama-sama memiliki nasab yang tinggi, sama-sama memiliki paras yang baik, si pria tampan, dan si wanita begitu cantik, sama-sama berasal dari keluarga bangsawan. Tapi sayang, semua itu tidak berhasil membuat mereka menjadi pasangan yang mulia.

Menurut Dr. Saeful bahri, dalam ayat ini Allah memposisikan ummu jamil sebagai “imra’ah” dan bukannya “zawjah” dari abu lahab karena zawjah lebih kental makna keakraban dan pertaliannya dibandingkana imra’ah. Seperti ketika Allah menyebut istri Nabi Luth as dan Nabi Nuh as dalam surat At-tahrim dengan sebutan imra’ah dan bukan zawjah. Lalu apa yang membuat hubungan abu lahab dan ummu jamal ‘kurang akrab’? padahal begitu kompak mereka menghabiskan hari-harinya untuk menyakiti Rasulullah. Hal ini dikarenakan, hubungan yang terjadi antara abu lahad dan ummu jamil tidak berhasil membuahkan sakinah, mawaddah, dan rahmat di antara kedua belah pihak. Sungguh tidak ada ketenangan sejati bagi sebuah rumah tangga yang dibangun dalam sendi-sendi kemaksiatan dan kefasiqan. Lihatlah berapa banyak keluarga koruptor yang berlimpah kekayaan, namun keluarganya hancur berantakan? Lihatlah berapa banyak keluarga yang sibuk mengejar dunia dan berujung pada kerenggangan atau bahkan keretakan? Sungguh dari ayat ini kita harus mengambil pelajaran penting, bahwa tidak bisa tidak, kita wajib senantiasa ‘hadirkan’ Allah di dalam rumah tangga kita, agar Dia yang senantiasa menjaga keutuhan dan keberkahan rumah tangga kita. Poin menarik lain dari ayat ini adalah, bahwa Allah mengakui sahnya pernikahan abu lahab dan ummu jamil meski dilakukan di jaman jahiliyyah. Karena tidak mungkin Allah menyebut ummu jamil sebagai imra’ah abu lahab apabila pernikahan yang mereka lakukan di jaman jahiliyyah tidak mendapat pengakuan dari Allah. Karena memang ada beberapa syariat ibrahim yang masih murni yang masih dipertahankan oleh orang-orang quraisy di jaman jahiliyyah.

Baca juga:  Isyarat-Isyarat Futuristik dalam Al-Qur'an

Allahu a’lam bishshawab

(bersambung)

Foto oleh Mahmoud Helmy

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar