Santri Cendekia

Tadabbur Ali Imran : 110-Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, Imun Sebuah Peradaban

Bismillahirrahmanirrahim

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

 

“Kamu adalah umat terbaik yang dimunculkan dari manusia, yang menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah….”

 

Kita semua tahu, generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi adalah generasi sahabat Rasulullah SAW. Dari generasi tersebut lah muncul berbagai kisah yang begitu memukau. Generasi tersebut adalah generasi yang pernah menjungkir balikan Roma dan Persia dari sebuah negara adidaya menjadi sebuah negara tak berdaya. Generasi ini adalah generasi yang pernah menguasai dua per tiga dunia. Namun, generasi ajaib ini bukanlah malaikat yang Allah utus dari langit, melainkan manusia biasa seperti kita. Generasi yang mendapatkan asuhan dan pendidikan langsung dari Sang Nabi. Yang menjadi Objek dari ayat ini adalah generasi para sahabat Radhiallahu’anhuma. Ayat ini sedang menjabarkan kriteria dan syarat agar sebuah generasi bisa menjadi generasi di tengah-tengah manusia.

  1. Menyuruh kepada yang ma’ruf
  2. Mencegah dari yang mungkar
  3. Beriman kepada Allah ‘azza wa jalla

Ada yang menarik, Allah meletakan perbuatan “amar ma’ruf nahi mungkar” di depan perbuatan “beriman kepada Allah”. Bukankah beriman kepada Allah itu adalah yang paling utama? Ya betul apabila kita sedang berbicara soal individu. Tapi ketika sudah berbicara soal membentuk masyarakat, maka Allah meletakan “amar ma’ruf nahi mungkar” agar bagian ini mendapat penekanan dan perhatian besar bagi kita. Tidak usah dulu kita lompat ke studi kasus dalam tingkat makro (masyarakat/ negara/ internasional), mari kita mulai dari yang tingkat mikro (keluarga) terlebih dahulu. Tidak sedikit mungkin kita melihat fenomena yang memprihatinkan. Orang tuanya soleh, tapi anaknya tidak. Orang tuanya salat, tapi anaknya tidak. Ibunya menggunakan hijab kemana-mana, anaknya menggunakan hot pant kemana-mana. Sebagian besar kasus seperti ini terjadi apabila tidak terjadi aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar di dalam keluarga. Sehingga keimanan orang tua tidak berhasil menjadikan rumah tangganya sebagai rumah tangga terbaik sesuai kriteria islam. Begitupun dalam skala makro (masyarakat/ negara/ internasional). Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “kejahatan terjadi bukan karena tidak adanya orang baik, tapi karena diamnya orang-orang baik”, ya meskipun perkataan beliau ini banyak yang mengklaim. Amar ma’ruf nahi mungkar, merupakan sebuah konsep terbaik dalam menjadi fungsi kontrol sebuah komunitas manusia yang ingin selamat hingga ke akhirat, dari skala keluarga hingga ke tingkat internasional. Jika umat islam ini sebuah tubuh, maka aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar merupakan imun/ kekebalannya. Meninggalkan aktivitas ini, sama saja menyiapkan sebuah umat yang akan terjangkit penyakit dengan mudah dan akhirnya mati, seperti masyarakat kita sekarang ini. Ambil saja contoh sederhana, misal di sebuah tempat ada sebuah peraturan larangan untuk parkir mobil di pinggir jalan. Lalu suatu saat ada 1 orang yang mulai melanggar peraturan tersebut. Ternyata dibiarkan. Bertambah lagi 1, 2, 3, dan seterusnya, hingga akhirnya ketika sudah kronis, kita bingung memulai dari mana untuk menyelesaikan masalah ini. Bukan begitu? Itu baru urusan parkir, belum urusan-urusan lain yang lebih kronis.

Baca juga:  Tips Meneladani Nalar Konspiratif Fir'aun

Amar ma’ruf nahi mungkar pun wajib dijalankan bersama dan dengan porsi yang tepat. Yang sering jadi penyakit, kita ini mantap urusan amar ma’ruf, keok ketika urusan nahi mungkar. Banyak faktor yang mempengaruhi, dari mulai alasan yang dimaklumi syariat, hingga yang tidak seperti malu, sungkan, takut popularitas menurun, takut jelek di mata orang, terlihat kolot dsb. Mudah ketika mengajak orang berzikir bersama, mengajak salat jamaah, mengajak pengajian, dan jenis amar ma’ruf lainnya, karena memang ketika kita beramar ma’ruf, tidak riskan bagi kita untuk mendapat cap jelek dibandingkan ketika kita melakukan nahi mungkar. Lagipula, resiko nahi mungkar biasanya lebih berat dan keras dari pada amar ma’ruf. “Mas, jangan mabok di sini”, “dek, jangan berduaan di sini”, “jangan nginepin cewek ya mas”, “jangan ini, jangan itu!”. Amar ma’ruf nahi mungkar punya kedudukan masing-masing dalam peradaban islam ini. Soal nahi mungkar, penulis teringat sebuah ormas islam terkenal di indonesia, Terlepas pro kontra maupun plus minus soal aksi ormas ini, penulis sendiri terkadang berpikir mungkin ada kalanya metode ormas ini diperlukan, karena tidak semua pihak bisa diajak berbicara baik-baik. Misal keberadaan diskotik atau klub malam milik pengusaha yang sudah berhasil menyogok aparat, siapa lagi yang mau diandalkan buat memberi pelajaran bedebah-bedebah itu jika bukan ormas-ormas yang berani bertindak? Ya walaupun perlu ilmu yang dalam soal ini, agar kita tetap bisa bertindak proporsional dalam koridor-koridor syariat.

Allahu’alam bishshawab

(bersambung)

Foto oleh Riyaad Minty

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: