Santri Cendekia

Tadabbur Asma’ul Husna (Al-Mushawwir)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Definisi ‘Ulama

Al-Mushawwir merupakan isim fa’il (subjek) dari fi’il (kata kerja) Shawwara-Yushawwiru fa huwa mushawwir, yang berarti zat yang memberi rupa dan bentuk. Sedangkan bentuk mashdar  dari Al-Mushawwir adalah At-Tashwir. Arti Ash-shurah adalah sesuatu yang memiliki panjang, lebar, besar, kecil, dan apa saja yang melengkapinya, untuk menjadikannya sempurna dan sesuatu yang berbentuk [1].

Al-Khatabi dan Ibnu Katsir mengatakan, “Al-Mushawwir berarti yang membuat ciptaannya dalam berbagai bentuk yang berbeda agar saling dapat mengenal dan dibedakan. Arti At-Tashwir sendiri adalah menggariskan dan membentukan[2].

Menurut Syaikh Hakami, “Al-Mushawwir adalah yang memberi rupa makhluk-makhluk dengan tanda-tanda yang membedakan antara yang satu dengan yang lain. Atau yang menjadikan berdasarkan sifat yang dikehendakinya[3].

Pembahasan

            Idealnya tadabbur Asma’ul Husna ini dilakukan setelah melakukan pembahasan terhadap Asmaul Husna Al-Khaliq dan Al-Bari’. Namun karena penulis masih berupaya mempelajari lebih mendalam tentang konsep Al-Khaliq dan Al-Bari’, maka pembahasan akan dimulai dari konsep Al-Mushawwir yang insyaAllah lebih dikuasai oleh penulis.

 

bakteri E Coli
struktur kaki cicak
galaksi
beruang angkasa
gocta falls

Penulis sengaja menampilkan beberapa gambar di atas untuk mengajak pembaca agar bisa lebih mentadabburi betapa agungnya Sifat Al-Mushawwir Allah ‘Azza wa Jalla. Dari sesuatu yang begitu besar seperti galaksi hingga sesuatu yang sangat kecil seperti bakteri, semua memiliki bentuk khasnya masing-masing. Allah tidak merasa sulit ketika harus membentuk sesuatu yang begitu besar ataupun membentuk sesuatu yag begitu kecil. Tidak seperti manusia yang senantiasa memiliki keterbatasan untuk membentuk sesuatu. Ada batas dimana manusia bisa membuat sesuatu yang besar ataupun sesuatu yang kecil

Maka ketika peradaban manusia sekarang sudah berhasil membuat berbagai macam teknologi yang berbentuk mikro, tidak perlu kita mengagumi dan memuja peradaban secara berlebihan. Bakteri atau bahkan virus yang tak terdeteksi oleh indera penglihatan manusia, Allah Al-Mushawwir bisa membuat bentuknya begitu detail, dengan lekukan-lekukan di sana-sini, yang jelas tidak akan mungkin dapat ditiru oleh manusia.

Baca juga:  Hari Akhir dan Penguasanya (Al-Fatihah 4)

Allah juga memberikan bentuk kepada semua makhluknya sesuai dengan konsep dan tujuan penciptaannya. Misal Allah menciptakan hidung kita untuk bernafas dalam kondisi apapun. Maka Allah menciptakan lubang hidung kita menghadap ke bawah. Bayangkan jika lubang hidung kita menghadap ke atas, tentu akan sangat sulit bagi kita ketika hujan datang. Lubang hidung kita akan menjadi seperti penampung air dan tentu itu adalah kondisi yang akan sangat menyulitkan kita untuk bernapas. Atau mengapa Allah menciptakan mata herbivora lebih ke samping sedangkan mata karnivora lebih ke depan. Mata herbivora yang terletak relatif lebih ke samping memudahkan mereka untuk lebih waspada terhadap pemangsa yang ada di belakang mereka. Sedangkan mata karnivora relatif lebih ke depan dibutuhkan agar mereka bisa lebih fokus melihat mangsa yang diburunya. Bayangkan jika penciptaan itu terbalik. Dan Allah tidak membutuhkan trial-eror untuk menciptakan bentuk yang sempurna semacam itu. Tentu sangat berbeda dengan manusia yang membutuhkan studi dan trial-eror ketika akan membentuk sesuatu untuk mencapai fungi tertentu. Itulah mengapa Allah mengatakan, “Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentukmu dan membaguskan bentukmu itu dan hanya kepada Allah-lah kembalimu.(At-Taghabun : 3).

Seperti penjelasan para Ulama di atas, salah satu tujuan pemberian bentuk pada seluruh makhluk adalah agar adanya pembedaan antara satu makhluk dengan makhluk lainnya. Dengan pembedaan bentuk ini, Nabi Adam as berhasil menyebut nama-nama benda di hadapan para malaikat. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah : 33) Karena menurut Ustad Anton Ismunanto, fungsi kerja akal yang paling utama adalah membedakan. Bagaimana mungkin akal Nabi Adam dapat menyebutkan nama segala benda dengan tepat jika bentuk semua benda serupa.

Baca juga:  Antara Umar bin Khattab dan Amr bin Hisyam

Allah Al-Mushawwir juga tidak pernah dan tidak akan “mentok” ketika memilih kreasi bentuk dari seluruh ciptaannya. Tahukah kita, sekelompok ilmuwan AS yang dipimpin oleh Brian Fisher, berhasil mengumpulkan 8000 foto berbagai spesies semut. Mereka memprediksi total ada 30.000 spesies semut[4]. Tentu dari setiap spesies tersebut memiliki bentuk yang berbeda-beda. Itu baru berbicara soal semut, belum berbicara makhluk lain. Manusia saja, dari jutaan yang ada di bumi ini, hampir semuanya memiliki bentuk tubuh atau wajah yang berbeda. Kecuali memang Allah menghendaki kondisi khusus seperti saudara kembar. Allahu akbar!

Hikmah

Hikmah yang harus kita petik dari semua ini adalah, baru saja berbicara SATU sifat Allah, A-Mushawwir. Kita sudah dipaksa menyerah dan mengakui kelemahan kita. Dari sekian banyak bentuk makhluk Allah yang dikenal manusia dan tidak mungkin ditiru atau bahkan sekedar dijiplak konsepnya, masih banyak lagi di luar sana, bentuk-bentuk makhluk Allah yang mungkin belum diketahui oleh manusia. Jikalau saja baru berbicara SATU sifat Allah saja kita sudah merasakan betapa kecilnya kita, apalagi ketika membahas berbagai sifat Allah yang lain. Namun, masih saja Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (Al-Kahfi : 54). Atas nama kemajuan teknologi hasil buatan “tangannya”, manusia sudah merasa tak butuh Allah, atau bahkan merasa bisa melawan Allah dengan berbagai teknologinya itu. Na’udzubillahi min dzalik! Ya Allah, jauhkan kami dari kesombongan..

Allahu a’lam bishshawab

[1] Isytiqaq Al-Asma’ul Husna : 424)

[2] Syan’u Ad-Du’a : 15 dan Jami’ Al-Ushul : 4/177

[3] Ma’arij Al-Qobul : 1/22

[4] www.republika.co.id

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: