Santri Cendekia

Tadabbur Asmaul Husna (Al-Wasi’, Yang Maha Luas)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

     Allah Al-Wasi’ secara harfiyyah berarti Allah memiliki sifat “Yang Maha Luas”. Di dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan sifatnya Yang Maha Luas setidaknya ketika berbicara tentang urusan Rizki dan harta, urusan kenabian, urusan kekuasaan, dan urusan ampunan kepada hamba-hamba-Nya yang berbuat dosa.

       Ketika berbicara urusan kekuasaan, maka Allah ‘azza wa jalla berhak memberikan kekuasaan kepada siapapun, sekalipun menurut kebanyakan manusia, orang tersebut tidak pantas mendapatkan kekuasaan. Seperti Bani Israil yang memprotes diangkatnya Thalut menjadi raja mereka. Karena menurut mereka Thalut tidak memiliki kekayaan seperti mereka. Dalam ayat ini, Allah menyandingkan sifat Al-Wasi’-Nya dengan sifat Al-‘Alim-Nya. Itu berarti Allah memiliki kriteria yang lebih luas dari sekedar soal kekayaan dalam persoalan kepantasaan seseorang menjadi raja, dan Allah lebih tahu kriteria seperti apa yang lebih pantas untuk menjadi raja bagi Bani Israil. Allah pula lebih tahu siapa yang memenuhi kriteria tersebut.

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah : 247)

Maka tidak usah dengki dan menyimpan ghil, jika ada saudara seiman kita menjadi pemimpin di organisasi atau jama’ah tempat kita bernaung hanya karena kita merasa sudah lebih senior atau kontribusi kita sudah lebih banyak dari orang itu. Sungguh kepemimpinan adalah karunia Allah dan akan Allah berikan kepada mereka yang memang memiliki karakter an kriteria sebagai seorang pemimpin. Bukan karena siapa yang lebih lama, lebih senior, lebih banyak kontribusinya, dan lain-lain.

      Dalam urusan Kenabian, Allah juga Maha Luas dalam memberikan karunia kenabian bagi siapapun. Orang-orang yahudi yang mengenal ciri-ciri Rasulullah seperti mengenal anak mereka sendiri, menolak beriman kepada Rasulullah karena merasa bahwa Nabi lebih pantas muncul di tengah-tengah kaum mereka, yaitu kaum yahudi. Allah Maha Luas Rahmat-Nya, siapapun yang Allah kehendaki untuk diangkat menjadi Nabi, maka dialah yang pantas menjadi Nabi, apapun penilaian manusia seluruh dunia. Tidak ada pengkhususan bahwa kenabian hanya diperuntukan bagi suatu kaum. Lagi-lagi Allah menyandingkan sifat Al-Wasi’-Nya dengan sifat Al-‘Alim-Nya. Karunia kenabian Allah itu luas dan berhak Allah berikan kepada siapapun yang menurut ilmu-Nya yang sempurna lebih pantas menyandangnya. Maka Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasul terakhir yang paling pantas mendapatkan karunia kenabian ini. Allah pun memuji beliau dalam surat Al-Qalam ayat 4,

Baca juga:  Dihya Al-Kalby, Ketika Artis dan Boy Band Koreamu bagai Remah-remah Rempeyek

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung.”

Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu”. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui”;(Ali Imran : 73)

  Jangan sewot dan dengki jika melihat ustad dari ‘jama’ah’ atau ‘golongan’ lain lebih banak jama’ah dan pengikutnya. Karena jama’ah kita bukan standar kebenaran. Ustad dari golongan kita juga belum tentu yang paling dalam ilmunya. Allah Yang Maha Luas dan Maha Tahu hendak memberikan ilmu kepada siapa. Jangan pula anti pati dan menolak mentah-mentah semua ilmu, pemahaman, dan pendapat dari ustad ‘golongan’ lain. Karena islam mengajarkan kita untuk ilmiah, bukan untuk ashobiyah. Jangan seperti Bani Israil yang tak mau menerima kebenaran dari Rasulullah hanya karena bukan dari golongan Bani Israil. Na’udzubillahi min dzalik.

     Dalam urusan rizqi, Allah juga Maha Luas rizqi-Nya, Allah akan berikan rizqi kepada siapapun yang ia kehendaki. Bahkan saking luasnya Rahmat Allah dalam persoalan rizqi, orang-orang kafir, munafiq, zindiq, dan segala macamnya pun masih hidup dengan mendapatkan limpahan rizqi dari Allah.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah:261)

     Maka dengan memahami hal ini, kita tidak perlu khawatir soal rizqi kita lagi. Jangan sampai kita bakhil dalam menafkahkan harta kita di jalan Allah. Karena bentuk Rizqi dari Allah pun begitu luas bentuknya. Hari ini harta kita ‘hilang’ untuk digunakan di jalan Allah. Allah pasti mengganti rizqi kita ini berakali-kali lipat. Namun mungkin tidak selalu dalam betuk harta. Bisa jadi dalam bentuk kesehatan, hidup yang serba mudah, keluarga yang harmonis, anak-anak yang tumbuh dama kesolehan, kemuliaan diri di mata orang, kemudahan di kubur, rumah di surga dan sebagainya.

Baca juga:  Kontekstualisasi Maqashid Asy-syari'ah dalam Implementasi Teknologi

     Tak usah pula bersedih atau bersusah hati jika melihat banyak orang kafir dan fasiq yang justru memiliki harta lebih banyak dari kita. Karena harta tidak selalu Allah berikan kepada orang-orang yang Sholeh. Terkadang harta justru Allah limpahkan kepada orang-orang yang Allah kehendaki tengelam dalam kemaksiatannya (istidraj).

       Dalam urusan hidayah, Allah pun Maha Luas hidayah-Nya. Allah pun tidak pernah menjamin bahwa hidayah adalah milik golongan nganu, milik klan si fulan, milik keturunan si fulan, milik kaum tertentu. Begitu sebuah kaum murtad dan kafir kepada Allah. Allah tidak segan mengganti kaum itu dengan kaum yang lain. Seperti Bani Israil yang merasa menjadi bangsa terpilih da sering menghina, merendahkan, dan mengancam orang-orang arab dengan kedatangan Nabi terakhir, ternyata Nabi terakhir itu malah datang dari kaum arab. Hidaya Allah Maha Luas, dan bukan hak atau otoritas suatu kaum untuk memilikinya.

      Akan Allah peruntukan hidayah kepada mereka yang Allah kehendaki, dan Allah sesatkan mereka yang Allah kehendaki. Siapapun bisa mendapat hidayah sekalipun bapaknya musyrik seperti Ibrahim as, masyarakatnya musyrik seperti Ashabul Kahfi, rajanya musyrik seperti Ashabul Ukhdud, Suaminya kafir dan durjana seperti Asiyah binti Muzahim (istri fir’aun). Begitupun sebaliknya, siapapun bisa kafir sekalipun anak seorang Nabi seperti Kan’an (anak Nabi Nuh), kafir sekalipun istri seorang Nabi (istri Nabi Luth), kafir meskipun keponakan kesayangannya adalah seorang Sayyidul Anbiya seperti Rasulullah (Abu Thalib). Kafir meskipun cerdas, intelektual di jamannya, akalnya tajam seperti Walid bin Mughirah dan Abu Jahal.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (Al-Maidah : 54)

       Maka jangan sampai kita fanatik buta dan berpikir terlalu simpel. Hanya karena anak seorang ulama terkenal dan begitu banyak jasanya untuk umat, pejuang kemerdekaan. Kita mengkultuskannya padahal sudah banyak yang nyeleneh jalan pikirnya. Menghormati orang tuanya yang soleh dan berjasa besar itu tentu wajib. Tapi tidak dengan cara mengkultuskan anaknya. Hidayah itu bukan gen dan tidak bisa diwariskan. Jadi tidak ada jaminan bahwa ketika orang tuanya soleh, ananya otomatis soleh. Fenomena menyedihkan ini banyak terjadi di indonesia. Banyak pula orang yang terjebak dan tertipu oleh fenomena ini.

Baca juga:  Keteladanan tentang Mawas Diri dan Tawadhu' di Perang Mu'tah

     Dalam urusan ampunan, Allah Maha Luas ampunan-Nya. Ampunan Allah lebih luas dari pada segunung kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat di dalam hidup kita. Ampunan Allah pun lebih luas daripada kemampuan akal kita. Maka jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Karena semua ketakutan dan rasa putus asa itu hanya datang dari syaithan.

(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunanNya… (An-Najm : 32)

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” [HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih].

     Akhirul kalam, semoga dengan memahami sifat Allah Yang Maha Luas ini. Membuat kita lebih mudah menerima segala macam kenyataan dalam hidup yang selama ini sulit kita terima. Karena segala sesuatu berjalan dengan izin dan aturan Allah. Bukan dengan aturan dan kehendak kita.

Allahu a’lam bishshawab

[1] “Al-Asmaul Al-Husna”, Prof. Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: