Santri Cendekia
Home » Tadabbur Surat Al-Lahab (Bag. 1)

Tadabbur Surat Al-Lahab (Bag. 1)

Bismillah, subhanaka laa ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka anta al ‘alimul hakim

1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan binasalah ia
2. Tidaklah bermanfaat baginya harta dan apa-apa yang dia usahakan
3. Kelak dia akan dimasukkan ke dalam neraka yang bergejolak
4. Dan istrinya, si pembawa kayu bakar
5. Yang di lehernya ada tali dari sabut

Mungkin hampir semua di antara kita sudah mengenal siapa itu Abu Lahab semenjak sekolah dasar. Ya, Abu Lahab adalah salah seorang paman Nabi yang memusuhi dakwahnya dengan sangat gigih dan keras. Nama aslinya adalah Abdul ‘uzza, dia dipanggil oleh Abdul Muththalib dengan kunyah Abu Lahab karena Abu Lahab saat marah, rona wajahnya berubah menjadi merah seperti lahab (lidah api), atau di riwayat lain, Abu Lahab dipanggil dengan kunyah seperti itu karena wajahnya yang begitu cerah dan tampan, seperti Lahab. Yang harus kita cermati bersama adalah, mengapa Allah Yang Maha Santun dan senantiasa menyembunyikan identitas penjahat-penjahat sepanjang zaman di dalam Qur’an, kali ini menyebut dengan vulgar nama Abu Lahab di dalamnya? Bahkan sekaliber Ramses II, musuh utama Nabi Musa as, dan Abu Jahal, yang disebut Rasulullah sebagai fir’aun di zamannya, tidak Allah sebut secara gamblang nama masing-masingnya di dalam Qur’an. Ada apa dengan Abu Lahab? Jika kita kaji kisahnya lebih jauh, kita akan mendapati, Abu Lahab bukanlah sekedar sosok kafir Quraisy yang menentang dakwah Nabi seperti kafir Quraisy lainnya, tapi dia juga merupakan ikon manusia yang sangat buruk dalam beberapa dimensi dan peran yang ia jalani sebagai manusia. Ia buruk sebagai seorang hamba, buruk sebagai seorang paman, buruk sebagai seorang ayah, buruk sebagai seorang suami, buruk sebagai seorang anggota kaumnya, dan keburukan-keburukan lainnya yang mungkin hanya Allah Yang Tahu. Kelak di dalam paragraf-paragraf selanjutnya akan kita sampaikan lebih detail dimensi-dimensi keburukan dari Abu Lahab.

Baca juga:  Tips Meneladani Nalar Konspiratif Fir'aun

Dalam ayat pertama, Allah menyampaikan kebinasaan tangan Abu Lahab sebelum kebinasaan bagi diri Abu Lahab itu sendiri. Beberapa ulama menafsirkan bahwa saking banyaknya kejahatan yang Abu Lahab lakukan dengan tangannya untuk menyakiti Nabi, Allah sampai memberi vonis bahwa tangan Abu Lahab telah masuk neraka dan binasa sebelum dirinya. Membuang kotoran dan jeroan binatang di depan rumah Nabi, melempari Nabi dengan batu, dan kejahatan-kejahatan lainnya. Hal ini sangat mungkin terjadi, mirip seperti Bilal ra yang terompahnya sudah terlebih dahulu masuk surga dan seorang sahabat yang anggota tubuhnya terpotong ketika jihad fi sabilillah, dan anggota tubuhnya masuk surga terlebih dahulu. Dari ayat ini pun kita wajib merenungi dan menyadari, bahwa di luar sana masih banyak Abu Lahab-Abu Lahab yang lain yang dengan tidak terhormatnya siap untuk menghalangi islam bukan lagi dengan lisannya, tapi bahkan dengan tangannya yang diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan yang rendah dan tercela. Dan Maha Suci Allah, dalam ayat ini Allah tidak menyebut Abu Lahab dengan nama aslinya Abdul ‘uzza (hamba ‘uzza) agar Qur’an tidak ternoda oleh unsur-unsur apapun yang menggambarkan penghambaan seorang manusia kepada selain Allah.

“Tidaklah bermanfaat baginya harta dan apa-apa yang dia usahakan”. Satu yang perlu kita ingat, bahwa terkadang harta dan bisnis yang sukses tidak berbanding lurus dengan kemuliaan, intelektual, dan derajat seseorang. Lihat bagaimana Abu Lahab, salah satu tokoh dengan bisnis yang sukses dan harta yang berlimpah. Namun sayang, kekayaannya dan kesuksesannya tidak dapat menyelamatkannya dari kebodohan dan kehinaan. Ketika perang Badar berlangsung pun, Abu Lahab tidak berani untuk terjun langsung ke medan perang, dan lagi-lagi ia menggunakan hartanya untuk menggunakan orang yang menggantikan dirinya di medan perang. Namun lihat? Perlakuannya ini tidak dapat menyelamatkan mukanya yang tercoreng di hadapan kawan-kawan Quraisy-nya, karena semenjak itu orang-orang mencium busuknya sifat pengecutnya itu. Harta dan bisnisnya tidak bisa menaikan derajatnya di dunia, terlebih lagi di akhirat. Selain itu, kesuksesan bisnisnya hanya semakin membuat dia merasa punya banyak amunisi untuk menghancurkan dakwah Rasulullah, benar-benar harta dan usaha yang membuatnya semakin sesat dan jauh dari kebenaran, na’udzubillahi min dzalik! Tapi jangan terlalu asik memandang kisah Abu Lahab ini hanya sebagai sebuah potret kebusukan orang di masa lalu. Karena zaman sekarang banyak sekali orang-orang yang menjadi peniru jejak Abu Lahab ini. Di mana kekayaan dan kesuksesan bisnisnya sama sekali tidak bermanfaat untuknya entah di dunia ataupun pastinya di akhirat. Sebutlah saja nama tokoh yang sedang hot yang pertama terlintas ketika penulis mencoba mendalami ayat ini adalah “Donald Trump”! Ya, Donald Trump! Kita tahu dia adalah seorang pebisnis sukses yang sekarang sedang mencalonkan diri jadi seorang presiden di US. Kampanye yang ia jual dengan sangat kuat adalah kampanye-kampanye murahan yang rasis yang sangat memojokan islam, tanpa alasan yang tepat. Hal itu justru membuatnya hina di mata beberapa orang, walaupun tidak sedikit juga yang mendukung. Dan apa? Dia benar-benar melenggang terus hingga semakin dekat dengan kursi kepresidenan US. Yah mau bagaimana lagi, kata dunia sekarang, ‘success story’ ada milik mereka yang berhasil membangun bisnis yang begitu besar dengan omset yang tak terhitung. Hingga pada akhirnya, manusia jaman sekarang menjadi kerdil dan menjadikan ‘success story’ sebagai patokan seseorang untuk dikagumi dan diteladani. Islam punya kaidah tersendiri untuk memilih seseorang sebagai teladan, mari kembali saja kepada kaidah itu, jangan tergiring oleh sudut pandang dunia jaman sekarang yang banyak terpengaruh oleh dunia barat. Hati-hati, harta dan bisnis yang sukses itu jebakan sepanjang zaman, hanya kepada Allah kita berlindung.

Baca juga:  Ujian-Ujian dalam Wabah Covid-19

Allahu a’lam bishshawab

(bersambung)

Foto oleh umar nasir

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar