Santri Cendekia
Home » Tadabbur Surat Al-Lahab Bag. 4 (terakhir) – Hati yang Rusak & Fitrah yang Mati

Tadabbur Surat Al-Lahab Bag. 4 (terakhir) – Hati yang Rusak & Fitrah yang Mati

Bismillahirrahmanirahim

subhanaka la’ilamalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

Di dalam tadabbur Al-lahab bagian terakhir ini, kita akan membahas tentang 2 ayat terakhir dari surat Al-lahab yang berkaitan dengan ummu jamil. Para ulama menafsirkan ayat ke-4 dengan 2 jenis penjelasan. Penjelasan yang pertama adalah bahwa ayat ke-4 adalah kalam yang berbentuk hakikat (denotatif). Bahwa memang ummu jamil adalah seorang wanita yang hobinya adalah membawa kayu bakar (ranting-ranting berduri) untuk ditebarkan di sepanjang jalan yang sering dilalui oleh Rasulullah. Penjelasan yang kedua adalah bahwa ayat ke-4 adalah kalam yang berbentuk majaz (kiasan). Ummu jamil adalah orang yang sering mengobarkan kebencian dan permusuhan kepada Rasulullah dimanapun dan dilakukan hampir setiap saat. Sayangnya ummu jamil tidaklah sendiri. Di jaman ini pun masih banyak tipe-tipe manusia yang memiliki karakter sepertinya, dan biasanya sifat buruk ini relatif lebih mudah hinggap pada wanita. Tidak pandang bulu, penyakit “kompor” ini bisa hinggap pada wanita yang ‘belum mengaji’ hingga yang ‘sudah mengaji’. Untuk para suami, mari jaga istri-istri kita agar tidak terjerumus pada perbuatan rendah yang tidak berfaedah ini. Jalankan fungsi kontrol dalam rumah tangga. Lihat kepada siapa istri kita bergaul.

“Yang di lehernya ada tali dari sabut”, masih dalam pembahasan oleh Dr Saeful Bahri, ummu jamil pernah menjual perhiasan berharga yang terkalung di lehernya dengan tujuan dari hasil penjualan perhiasannya tersebut akan ia gunakan dalam rangka untuk memerangi Rasulullah. Fitrah seorang wanita adalah menyukai perhiasan, apatah lagi wanita bangsawan quraisy. Tapi mari lihat ummu jamil? Kebencian tak berarah yang membusuk di hatinya bahkan sudah membuat ia berhasil ‘membunuh’ fitrahnya sendiri, mirip kisah bagaimana seorang hindun ra di masa jahiliyyahnya, memberi perhiasan kepada Wahsyi ra setelah wahsyi berhasil membunuh Hamzah ra. Jangan pernah remehkan penyakit hati. Penyakit hati dalam tahap yang kronis, terbukti berhasil menggiring beberapa manusia dan kaum dalam sebuah kebinasaan. Seonggok daging bernama qalbu lah yang akan menentukan kualitas dari berbagai perbuatan yang kita lakukan. Jangan seperti ummu jamil, karena rusaknya hati, fitrahnya pun jadi mati. Jangan heran jika melihat ada seseorang yang selalu berpandangan negatif terhadap apapun, karena itu adalah ciri hati sedang sakit. Pujian orang pun serasa hinaan, Candaan terasa hujatan. Nikmat yang datang pada orang lain, serasa pisau yang menusuk jantungnya. Na’udzubillahi min dzalik. Tidak kah cukup kita belajar dari yahudi? Mereka kafir bukan karena bodoh, mereka kafir bukan karena kurang informasi, mereka kafir karena penyakit sudah menggerogoti hati. Rasul yang jelas nyata kebenarannya dalam kitab mereka, mereka sangkal karena Sang utusan bukan berasal dari kaumnya dan justru berasal dari kaum yang selama ini selalu mereka pandang hina. Hati rusak, fitrah mati, tinggal tunggu iman pergi.

Allahu a’lam bishshawab

Baca juga:  Tentang Rasa Takut (Al Baqarah 155 part 1)

Foto oleh umar nasir

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar