Santri Cendekia

Tanggap Corona; Saatnya Kas Masjid Dikosongkan!

Sampai saat ini, tampaknya masih saja ada yang mempertanyakan keputusan para ulama lintas mazhab dan golongan untuk mengganti salat Jumat dengan salat Zuhur atau meniadakan dahulu salat jamaah di masjid. Mereka ini tak usah ditanggapi lagi.

Sudah saatnya kita melangkah lebih jauh dari sekedar geger masjid dikosongkan. Sudah saatnya wacana yang digulirkan adalah kas masjid yang dikosongkan! Maksudnya mungkin sudah jelas. Pandemi corona ini memporak-porandakan kehidupan kita bukan hanya sebagai sebuah penyakit, tapi sebagai sebuah batu sandung laju ekonomi.

Meskipun penerapan lockdown masih alot, pemerintah masih banyak pertimbangan, tapi dengan kesadaran sendiri banyak orang yang sudah me-lockdown-kan diri.

Kelompok yang paling terimbas adalah mereka yang tidak punya kemewahan untuk bisa WFH alias work from home, mereka yang RMRM; ra metu, ra mangan.

Kelompok orang-orang seperti itu mungkin ada di sekitar kita. Hidup di dekat-dekat masjid kita. Ataupun mangkal mencari penghidupan di sekitar mushala kita.

Maka apapun ‘mazhab’ masjidmu saat ini; salat berjamaah dengan ‘shaf distancing’, atau tidak ada jamaah, mereka ini tetap saja nasibnya sama. Sedikit banyak mereka akan terkena imbas ekonomi, dan semakin lama pandemi ini singgah di negeri kita, semakin parah juga dampak itu.

Seperti yang disampaikan pengamat dari INDEF, lockdown berpotensi menjadi ‘neraka’ bagi si miskin; di satu sisi sumber penghasilan mereka mampet sedangkan di sisi lain harga kebutuhan kian meroket. Mereka terpaksa benar-benar mempertaruhkan nyawa demi membuat asap dapur keluarga mengepul.

Banyak yang gregetan menuntut agar negara bisa hadir, atau ingin agar orang-orang kaya negeri ini segera ambil peran. Namun di dalam edarannya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah justru mengingatkan bahwa kita semua hakikatnya harus turut berbuat.

Disebutkan bahwa salah satu hal penting selama masa pandemi corona ini adalah menghidupkan ruh ihsan di antara kita. Wujudnya adalah dengan saling  menolong  (taawun)  di  antara warga  masyarakat,  terutama  kepada  kelompok  rentan,  misalnya  berbagi  masker, hand sanitizer, atau mencukupi  kebutuhan  pokok  dari  keluarga  yang  terdampak secara langsung.

Keberhasilan melewati ujian Corona ini bukan terletak pada selamat atau tidaknya kita, tapi pada kesanggupan kita mempersembahkan respon yang paling baik.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk [67]: 2).

Baca juga:  Pandemi Corona sebagai Titik Konflik Agama dan Sains

Selain itu, edaran tersebut juga menganjurkan agar kita semakin giat bersedekah, bukan malah semakin panik menimbun barang.

Semoga sedekah yang kita lakukan secara kolektif ini bukan saja meringankan beban mereka yang terdampak secara ekonomi, tapi menjadi upaya tansenden untuk menghalau kesulitan akibat pandemik ini.

Rasulullah saw telah menjelaskan dimensi keilahian dari solidaritas sosial,

وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selama ia senantisaa menolong saudaranya” (HR. Muslim).

Untuk bisa memaksimalkan solidaritas sosial kita selama musim pandemik ini, maka salah satu opsinya dengan menjadikan masjid sebagai basisnya.

Tentu bukan hanya masjid sebagai sebuah bangunan, tapi sebagai suatu unit sosial yang kecil. Allah swt telah memuji-muji mereka yang memakmurkan masjidnya di surah at-Taubah ayat 18,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk

Ayat ini diriwayatkan turun sebab orang-orang kafir Quraisy sering membangga-banggakan diri di hadapan kaum Muslimin, bahwa merekalah yang telah memakmurkam Masjidil Haram. Ayat ini kemudian membantah ucapan mereka dengan menunjukan hakikat ta’mir yang sebenarnya.

Syaikh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa pemakmuran masjid itu berdimensi ganda; fisik dan maknawi. Fisik tentu sudah maklum, sedangkan maknawi adalah dengan menjadikannya episentrum peribadatan, termasuk di dalamnya: zakat.

Bisa difahami bahwa jika selama ini kemakmuran masjid hanya ditekankan pada fisiknya, maka apa bedanya kita dengan kaum musyrik pra-Islam yang juga memakmurkan fisik Masjidil Haram? Dimensi maknawi dari pemakmuran masjid itulah yang menjadikan kaum beriman paling berhak disebut sebagai ‘ta’mir’.

Terkait dengan pandemi corona, poin bahwa salah satu tanda masjid yang makmur adalah ia menjadikan sentra zakat menjadi entitas penting. Imam al-Razi mengakui bahwa memperbaiki bangunan masjid memang termasuk di dalam makna ‘memakmurkan’, tapi jika opsinya adalah soal bangunan dan zakat, maka zakat lebih didahulukan.

Di dalam ayat di atas, Allah juga menyifati takmir masjid sebagai kaum yang ‘muhtadin’, secara literal berarti mereka yang mendapat petunjuk.

Baca juga:  Akhlak Rasulullah Terhadap Penyintas Kejahatan Seksual

Penjelasan Syaikh Ibnu ‘Asyur tentang sifat ini kiranya cukup relevan dengan penanganan pandemik corona. Menurut beliau, takmir masjid disebut muhtadin karena mengejar hidayah sudah menjadi akhlak yang integral di dalam diri mereka.

Tandanya adalah mereka tidak pernah tertipu (ghurur) dan  berpuas diri dengan amal yang telah rutin dilakukan selama ini, tapi selalu mencari petunjuk (ihtida’) dengan mengerjakan amal-amal kebaikan lainnya.

Singkatnya, takmir sejati itu selalu kreatif dan inovatif di dalam upaya mereka memakmurkan masjid. Maka selama pandemi corona ini, mereka sudah seharusnya berpikir inovatif untuk membuat masjid bisa dirasakan kehadirannya oleh warga.

Salah satu masjid yang sering jadi buah bibir karena keberhasilannya dalam membina warga sekitar adalah masjid Jogokaryan, masjid yang kasnya selalu nol itu.

Salah satu pelajaran penting dari masjid Jogokaryan adalah rapinya data-data warga yang mereka miliki. Maka inilah langkah pertama yang mesti diambil oleh takmir; mendata warga sekitar masjid, atau pengasong yang suka mangkal di dekat masjid itu.

Pemetaan itu akan memberikan gambaran siapa saja yang perekonomiannya terkena imbas langsung dan seberapa  besar imbas tersebut.

Saya kira, data seperti ini kemungkinan besar telah dikantongi hampir setiap takmir, sebab mereka sudah terbiasa mendistribusikan zakat, minimal zakat fitrah dan daging qurban.

Itulah mengapa filantropi berbasis masjid itu bisa lebih efektif dari LSM manapun; ini adalah upaya yang murni dari warga untuk warga, kelekatan sosilogisnya menjadikan filantropi itu menjadi lebih lancar.

Jika masjid Jogokaryan menjadi contoh di saat ‘normal’, maka setahu penulis, di Nitikan, Jogja ada percontohan bagus untuk masa corona ini. Mereka mendata warga yang penghasilannya menurun drastis selama pandemik, lalu menyalurkan bantuan kepada mereka.

Bantuan disalurkan tiap hari Jumat dalam bentuk paket sembako senilai Rp. 50.000. Namun bantuan juga sangat mungkin dalam bentuk sandang, pangan, dan papan. Sandang sudah jelas; pangan berupa bantuan makanan, bahan pokok, dan sejenisnya; sedangkan papan bisa berupa bantuan cicilan kos atau kontrakan.

Jika memiliki data yang jelas, maka pengajuan ke lembaga-lembaga ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf)) menjadi lebih mudah. Namun jika ternyata kas masjid masih mencukupi, maka bisa juga dengan menguras kas itu sampai habis.

Pada akhirnya, tentu kita semua sudah maklum bahwa kemakmuran masjid tidak hanya berarti menara menjulang tinggi indah, tidak cuma bermakna karpet tebal harum lembut, apalagi sebatas saldo sekian juta yang diumumkan saban Jumat.

Jika selama ini kita mungkin masih ‘tega’ mengumumkan berapa juta duit yang berhasil dihimpun untuk membangun menara dan membeli karpet baru sedangkan di luar masjid pedagang siomay sepi-sepi saja, maka saat inilah ‘ketegaan’ itu ditebus lunas.

Sudah saatnya kas masjid itu dikuras sampai nol rupiah! Biarlah orang-orang merasakan kehadiran masjid, merasakan betapa beruntungnya dekat dengan orang-orang salih. Biarlah untuk sementara ruang-ruang masjid kita sepi, tapi amalannya justru sedang ramai-ramainya.

Jangan berpuas diri dengan mengosongkan ruang masjid agar virus tak tersebar, tapi kosongkan pulalah kas masjid agar kaum mustad’afin bisa melewati pandemi ini dengan tegar.

Baca juga:  Doa dan Tata Cara Qunut Nazilah dalam Kondisi Darurat Covid-19

***

Baca artikel menarik lainnya tentang corona:

  1. Tinjauan Fikih: Lebih Baik Tidak Salat Jumat Selama Wabah Corona
  2. Tidak ke Masjid di Masa Wabah Corona Bukan Pembangkangan atas Syariat Islam
  3. Pandemi ‘Fitnah’ Netizen atas Fatwa tentang Corona
  4. Hadis Kontradiktif, Kausalitas, dan Coronavirus
  5. 14 Rekomendasi Muhammadiyah Amerika Serikat terkait Wabah Corona
  6. Mengenal Aliran Teologi Islam Melalui Virus Corona
  7. Tanya Jawab soal Corona, Azab, dan Masjid (1)
  8. Tanya Jawab soal Masjid dan Corona (2)
  9. Surat Terbuka bagi Mereka yang Bilang jangan Takut Corona Takutlah kepada Allah

  10. Hukum ‘Shaf Distancing’ demi Meminimalisir Penyebaran Virus Covid-19

  11. Syahidkah orang yang Meninggal Karena Virus Corona? 

  12. Hukum Salat Jamaah via Video Call atau Sejenisnya

  13. Fikih Thaharah dan Shalat bagi Tenaga Kesehatan di Tengah Wabah Covid-19 (1)
  14. Fikih Thaharah dan Shalat bagi Tenaga Kesehatan di Tengah Wabah Covid-19 (2)
  15. Fikih Thaharah dan Shalat bagi Tenaga Kesehatan di Tengah Wabah Covid-19 (3)
  16. Bantahan atas Cocokologi ‘Arti Corona dalam al-Quran’

  17. Tata Cara Adzan Saat Darurat Covid-19

  18. Doa dan Tata Cara Qunut Nazilah dalam Kondisi Darurat Covid-19

  19. Pandemi Corona sebagai Titik Konflik Agama dan Sains

  20. Alokasi Zakat untuk Jihad Medis Melawan Covid-19

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: