Santri Cendekia

Tanggapan Kritis Atas Konsep Ikhlas Hasnan Bachtiar

Tulisan ini merupakan tanggapan kritis terhadap coretan Hasnan Bachtiar yang beberapa waktu lalu mencuat di lini masa publik. Tulisannya itu dikemas apik dan provokatif dengan tema Jihad itu Bukan Demi Bidadari.

Hasnan Bachtiar dalam tulisannya menempatkan jihad sebagai bahan kritik. Namun di samping itu, beliau juga mengangkat ide pokok lain yang lebih mendasar sebagai pijakan kritikanya, yaitu konsep ikhlas. Maka di sini, saya fokus pada konsep ikhlas yang beliau kemukakan saja, meskipun pandangan beliau tentang jihad terdapat beberapa catatan khusus juga.

Ikhlas merupakan topik fundamental yang bersinggungan langsung dengan dimensi tauhid. Ia menjadi muqaddimah sekaligus landasan pacu setiap amal. Oleh sebab itu, dalam klasifikasi fiqih Islam, ayat dan hadits tentang ikhlas diletakkan pada urutan pertama sebelum masuk pada fiqih yang besifat praktis, salah satunya adalah jihad. Lalu, apakah konsep ikhlas yang menjadi landasan kritik Hasnan Bachtiar baik-baik saja?

Mari kita kaji!

Konsep Ikhlas yang Ditawarkan Hasnan Bachtiar

Hasnan Bachtiar mengakui apresiasi Allah ‘Azza Wajalla terhadap orang-orang yang berjihad (berperang) dan syahid (mati) dijalan-Nya (sabīlillah). Mulai dari pengampunan dosa, surga, mahkota berlian, bidadari, dan bentuk apresiasi lainnya sebagaimana yang termaktub dalam banyak firman-Nya dan hadits-hadits Nabi-Nya. Namun, dengan tangkas beliau segera menghentikan antusiasme kita saat merefleksi janji-janji manis Allah itu dengan pertanyaan yang bertubi-tubi :

Apakah jika benar-benar tulus berjihad tanpa mengharapkan balas budi, lantas dianggap menghina kitab suci dan teladan kenabian? Apakah dianggap meremehkan pemberian Tuhan? …. Apakah masuk akal, jika jihad yang dilakukan berlandaskan kepada pikiran kotor, amarah yang meluap, kebencian yang berurat akar dan bahkan kepentingan birahi?”
(memecah-luapkan kegelisahan yang lama berkecamuk, sambil menarik simpati para pembaca yang semadzhab dengannya)

Luapan kegelisahan beliau itu diakhiri dengan sebuah klaim yang tampaknya mencoba menggagalkan antusiasme yang sesaat mengisi jiwa kita: “Sudah barang tentu, jihad yang serba pamrih tidak akan diganjar pahala“. Parahnya, klaim tersebut dilempar begitu saja tanpa meninggalkan argumen yang memadai. Kemudian beliau menutup klaimnya itu dengan beberapa asumsi liar, ia berkata :

Namun, sebenarnya, jika manusia memang memiliki sifat-sifat yang buruk, apakah iming-iming bidadari merupakan bentuk toleransi? Atau, itu adalah strategi komunikasi kepada manusia yang “sulit mengerti” (bebal) agar mau melakukan perbuatan yang baik?”

Konsep Ikhlas ala Sufi

Sebenarnya, pemikiran keyakinan cacat seperti ini bukanlah hal yang baru dalam sejarah intelektual Islam. Hanya saja pemikiran seperti ini tidak teridentifikasi publik karena keberadaannya yang hanya dapat ditemukan di sudut-sudut peradaban Islam. Maksudnya ?

Keyakinan semacam ini tumbuh dalam tradisi sufi yang notabennya secara sengaja menyisihkan diri dari kehidupan sosial. Mereka tidak mau hadir ditengah khalayak yang cenderung berselimutkan atribut kebendaan, yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam “pikiran kotor”. Ini adalah jurang ketidak-ikhlasan.

Lebih jauh, kita bisa menerjemahkan pikiran beliau di mana ketika Allah ‘Azza Wajalla mengkampanyekan janji-janji manis-Nya kepada seorang hamba, maka hadiah berupa kerajaan dan mahkota surga akan dianggap sebagai kepentingan kekuasan saja bagi hamba yang mendambakannya dalam taat.

Makanan-makanan dan minuman-minuman lezat yang diimingi Allah kepada hambanya akan dianggap kepentingan perut semata bagi hamba yang mengejarnya dalam ibadah. Bidadari-bidadari perawan akan dianggap kepentingan birahi dan pikiran kotor bagi hamba yanh memintanya dalam doa-doanya.

Baca juga:  Membesarkan Anak di Tengah Fitnah LGBT (Catatan Seminar Sexual Education and Islamic Parenting)

Lebih jauh, jika ingin ditegaskan dengan bahasa syari’at, interpretasi beliau tersebut memposisikan pelakukannya sebagai seorang musyrik, karena tidak ikhlas alias pamrih.

Ekstrim bukan?

Sebenarnya pemikiran neo-sufisme ekstrim seperti ini tidak secara ujuk-ujuk tumbuh mekar di era yang serba modern ini, melainkan telah terdahulu dalam sejarah kuno peradaban Islam. Siapa pendahulunya?

Adalah imamah besar yang bernama Robi’ah Al-‘Adawiyah, sufi feminin kondang abab 1 H, yang pemikirannya itu terekam dalam sya’ir-sya’irnya. Tidak hanya itu, kita juga bisa mengutip pemikiran yang sama pada pertengahan abad ke 5 H, dari seorang imam agung yang dijuluki hujjatul Islam, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi Asy-Syafi’i, yang kemudian akrab dipanggil imam Al-Ghazali.

Sufi klasik ada yang sangat ekstrim dalam mengartikulasikan makna keikhlasan di hadapan Tuhan. Orang yang berharap pahala, berharap surga, berharap tidak jatuh ke neraka dalam beribadah kepada Allah ‘Azza Wajalla disifati sebagai “pekerja yang buruk” oleh Robi’ah al-‘Adawiyah, dan kebanyakan penghuni surga yang memperoleh surga dengan cara itu oleh Al-Ghazali disifati sebagai orang dungu (al-Balah). Lalu bagaimana buruk dan tercelanya lagi seorang hamba yang meminta pahala dunia, seperti pekerjaan yang bergaji besar, kedudukan yang tinggi (dalam kekuasaa) dst.

Robi’ah al-‘Adawiyah dengan “Pekerja yang buruk”. Ia berkata:

مَا عَبَدْتُهُ خَوْفًا مِنْ نَارِهِ وَلاَ حُبًّا فِي جَنَّتِهِ فَأَكُوْنَ كَأَجِيْرِ السُّوْءِ، بَلْ عَبَدْتُهُ حُبًّا لَهُ وَشَوْقًا إِلَيهِ

Aku tidaklah menyembah-Nya karena takut neraka, dan tidak pula karena berharap surga-Nya sehingga aku seperti pekerja yang buruk. Akan tetapi aku menyembah-Nya karena kecintaan dan kerinduan kepada-Nya“. (Ihyaa’ Uluum ad-Diin 4/310]

Demikian juga Al-Ghazali mensifati orang yang seperti ini dengan orang yang balah (dungu). Ia barkata,

فَالْعَامِلُ ِلأَجْلِ الْجَنَّةِ عَامِلٌ لِبَطْنِهِ وَفَرْجِهِ كَالْأَجِيْرِ السُّوْءِ وَدَرَجَتُهُ دَرَجَةُ الْبَلَهِ وَإِنَّهُ لَيَنَالُهَا بِعَمَلِهِ إِذْ أَكْثَرُ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْبَلَهُ وَأَمَّا عِبَادَةُ ذَوِي الْأَلْبَابِ فَإِنَّهَا لاَ تُجَاوِزُ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى وَالْفِكْرِ فِيْهِ لِجَمَالِهِ … وَهَؤُلاَءِ أَرْفَعُ دَرَجَةً مِنَ الْاِلْتِفَاتِ إِلَى الْمَنْكُوْحِ وَالْمَطْعُوْمِ فِي الْجَنَّةِ

Seseorang yang beramal karena surga maka ia adalah seorang yang beramal karena perut dan kemaluannya, seperti pekerja yang buruk. Dan derajatnya adalah derajat al-balah (orang dungu), dan sesungguhnya ia meraih surga dengan amalannya, karena kebanyakan penduduk surga adalah orang dungu. Adapun ibadah orang-orang ulil albab (yang cerdas) maka tidaklah melewati dzikir kepada Allah dan memikirkan tentang keindahan-Nya …. maka mereka lebih tinggi derajatnya dari pada derajatnya orang-orang yang mengharapkan bidadari dan makanan di surga”. (Ihyaa Uluumid Diin 3/375).

Kritik Atas Konsep Ikhlas ala Sufi

Syekh Yusuf Al-Qaradhawi mengecam pemikiran sesat semacam ini yang tidak beradab dalam menempatkan firman-firman Allah Jalla Wa’ala dan hadits-hadits Rasulullah ‘alaihissalam. Mereka pada akhirnya harus mengingkari kebolehan beribadah dengan mengharap surga atau takut neraka. Padahal, Allah Jalla Wa’ala mensifati para hamba-Nya yang taat dengan ‘ibādurrahmān lalu memuji amal perbuatan dan doa mereka :

Dan orang-orang yang berkata, ‘ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal” (QS. Al-Furqān : 65)

Baca juga:  Riwayat-Riwayat Masyhur Namun Tidak Sahih di Dalam Sirah Nabawi

(Yaitu) orang-orang yang berdo’a, ‘ya Tuhan kamo, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali ‘Imran : 16)

Kekasih Allah, yang tiada sembarang hamba dapar menyandang gelar tersebut, Kahlilullah, Ibrahim as, juga berdo’a dan sangat berharap kepada Allah Jalla Wa’ala agar beliau diberi tempat kembali yang paling baik, yakni surga dan dijauhkan dari tempat kembali yang paling buruk, yakni neraka, dan dijauhkan dari kehinaan di hari akhir (QS. Syu’arā : 82-87).

Nabi Muhammad ‘alaihissalam memerintahkan umatnya agar memohon kepada Allah Jalla Wa’ala pada waktu yang maqbul (setelah adzan) kedudukan yang tertinggi di surga untuk beliau. Dan orang yang mau meminta kedudukan itu untuk beliau, diimingi dengan syafa’at beliau.

Syekh Yusuf Al-Qaradhawi mengutip penjelasan para ulama, di mana mereka berkata: “Beramal untuk meraih surga dan keselamatan dari neraka adalah tujuan yang ditetapkan oleh pembuat syari’at pada umat-Nya, agar surga dan neraka tersebut selalu di dalam ingatan mereka dan tidak melupakannya. Dan beriman terhadap adanya surga dan neraka itu merupakan syarat untuk meraih keselamatan, serta beramal untuk meraih surga dan selamat dari neraka, maka keimanan di sini merupakan keimanan yang murni”. (Al-‘Ibadah fil Islam: 148)

Imam Ibn Qayyim menengahi persoalan ini setelah menyanggah perkataan mereka. Beliau berkata :

Dia, Allah Jalla Wa’ala, adalah ruh atas penamaan dan kehidupan surga. Dengan-Nya surga menjadi membahagiakan, dan dengan-Nya surga ditegakkan. Lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa seseorang tidak menyembah Allah Jalla Wa’ala lantaran mencari surga-Nya, dan bukan lantaran takut neraka-Nya?” (Madārijus Sālikīn: 2/75-76)

Yang menjadi dambaan para Nabi, para Rasul, shiddīqīn, syuhada, dan orang-orang shalih adalah surga. Dan yang sangat dihindari oleh mereka adalah neraka” (Madārijus Sālikīn: 2/80-81)

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan keberadaan surga dan neraka dengn mengutip tiga riwayat yang marfu’. Beliau mengatakan bahwa posisi surga dan neraka itu seperti siang dan malam. Jika terjadi siang, maka yang hilang bukan berarti tidak ada, tapi ia berada pada suatu tempat. Beliau berkata:

Demikian pula halnya surga, ia berada di tempat yang paling atas di atas langit di bawah Arasy, yang luasnya adalah seperti yang diungkapkan di dalam firman-Nya: ‘seluas langit dan bumi’ (Al-Hadid: 21). Sedangkan neraka berada di tempat yang paling bawah. Dengan demikian, berarti tidaklah bertentangan antara pengertian luasnya surga yang seluas langit dan bumi dengan keberadaan neraka

Dengan demikian, kita bisa memahami bahwa neraka itu berada di atas langit ketujuh dan di bawah surga. Surga itu berada di bawah ‘Asry, dan Allah ‘Azza Wajalla berada di atas ‘Arsy sekaligus di atas surga. Dari surgalah kemudian seorang hamba dapat melihat wajah Allah ‘Azza Wajalla.

Ini adalah hujjah untuk menjelaskan kenikmatan surga yang dijelaskan Ibnu Qayyim sebagai kesatuan dengan kenikmatan dapat melihat wajah Allah ‘Azza Wajalla, yang tidak dapat dinikmati oleh ahli neraka. Kenikmatan yang diimingkan Allah kepada hamba-Nya dapat kita pahami dengan arti pertingkatan.

Adapun sebab utama kekeliruan konsep ikhlas Hasnan Bachtiar termasuk para pendahulunya ialah karena mereka memaknai ikhlas itu sebagai “tanpa pamrih”. Padahal, meniadakan pamrih dalam syari’at sama halnya dengan menentang syari’at, karena pamrih dalam syari’at diartikan sebagai do’a atau permintaan seorang hamba kepada Tuhan. Kenapa seorang hamba meminta? Karena tidak ada daya dan upaya seorang hamba melainkan diberi Allah ‘Azza Wajalla, seorang hamba senantia butuh kepada Rabb-Nya, maka segala kebutuhannya pun tidak bisa penuhi kecuali dengan meminta kepada Allah ‘Azza Wajalla.

Baca juga:  Liberalisasi Pendidikan dan Keberhasilan Dakwah (Catatan Kuliah Bersama Ust. Adian Husaini)

Nabi ‘alaihissalam menjarkan cara meminta yang beradab kepada kita, yakni shalat. Shalat itu sendiri secara bahasa bermakna do’a atau permintaan. Sebab itulah 20% kandungan shalat itu isinya pujian dan 80% nya adalah permintaan seorang hamba. Mulai dari meminta ampunan dosa, mensucikan kita dengan air yang suci, meminta rizqi (diberi gaji yang cukup), meminta diberi jalan yang lurus, meminta dijauhkan dari azab qubur, azab neraka jahannam, perlindungan dari fitnah hidup, mati dan fitnah dajjal.

Bahkan secara khusus Nabi ‘alaihissalam memerintahkan untuk banyak meminta saat sujud. Bukankah itu semua subsatnsi shalat itu pahrih ? Dalam KBBI, pamrih itu justru keinginan atau harapan kepada sesuatu yang tersembunyi, sedangakan dalam shalat, seorang hamba melafalkan langsung keinginan atau permintaannnya itu kepada Allah’Azza Wajalla.

Apakah beliau Hasnan Bachtiar tidak pamrih dalam shalatnya? Atau tidak perlu shalat karena banyak embel-embel seorang hamba dalam shalatnya? Apakah kita akan mengingkari setiap ayat dan hadits yang mengabarkan janji-janji manis Allah ‘Azza Wajalla?

Tentu saja tidak. Bahkan saya dapat mengungkapkan makna ikhlas yang lebih “hedon” dan “kotor” dari itu. Bahwa seorang hamba boleh, sah, halal, untuk menjadi sematerialis mungkin dalam ibadah kepada Allah ‘Azza Wajalla, baik meminta pekerjaan, jabatan, istri yang banyak, harta berlimpah, kehormatan, perhatian, dan embel-embel duniawi lainnya asalkan ia berharap hanya kepada Alla ‘Azza Wajalla, karena letak persoalannya ialah bukan pada “apa yang dipinta”, melainkan “kepada siapa” harapan dan permintaan itu dialamatkan.

Contoh : seorang ahli Al-Qur’an yang mengajarkan Al-Qur’an (ibadah mahdhah) boleh mengharap imbalan dalam bentuk apapun saat ia mengajar, asalkan ia mengalamatkan pinta dan harapnya itu kepada Allah ‘Azza Wajalla semata. Dengan demikian, jika Allah ‘Azza Wajalla tidak atau belum memberinya, ia tidak menuntut orang yang diajarnya, tidak marah kepada orang di sekitarnya lantaran tidak peduli kepada harapnnya, dan tetap senang mengajarkan Al-Qur’an meksi orang tak menghargainya, itulah makna ikhlas yang sebenarnya.

Terkahir, saya mengutip perkataan Hasnan Bachtiar saat mengomentari hadits riwayat imam Tirmidzi No. 1712, beliau berkata : “Jika memang jihad dimotivasi bidadari-bidadari surga, jelas hal itu sulit diterima akal sehat“. Dan saya mengutip kembali pernyataan Ibn Qayyim, beliau berkata : Yang menjadi dambaan para Nabi, para Rasul, shiddīqīn, syuhada, dan orang-orang shalih adalah surga (dan seisinya, termasuk bidadari)

Sepertinya “tidak masuk akal” yang dimaksud Hasnan Bachtiar hanya berlaku pada dirinya sendiri !

Wallahua’lam

Rolan Al Fatih

Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhamamdiyah PP Muhamamdiyah

3 comments

Tinggalkan komentar

  • Balasan yang juga sangat subjektif serta tendensius. Mempertarungkan Al-Ghazali dengan Yusuf Qardhawi dan Ibnu Qayyim? Itu juga cuma selera si penulis.

    Maka memang, untuk kelompok umat yang “tidak selesai” dengan penisnya, dengan perutnya, dll, itu harus dibawa sampai akhirat. Betapa tidak selesainya.

    Saya juga ingin tertawa, tapi gak enak sama munkar atau nakir, ketika Santri (c)endikia ini mengatakan bahwa Allah berada di atas surga dan neraka berada di atas langit ke 7, which meanssssss… neraka ada di atas Allah? atuh nanti dibokongin dajjal dari atas?

    Terus yg di surga, karena berada dibawah Allah, bisa lihat wajah Allah?? Ow cuuuyyyy, mukholafatul lil hawadisi nya gimana?? Ganteng atau cantik tuh Allah?

    Ini respon yang sangat literal. Tulisan si Hasnan nyoba ngajak masuk substansi, dibales sama redaksi yg bahkan tidak lebih menarik dari komik Slam Dunk. Njeeeerrrr,

    Wajar, majunya peradaban hari ini tidak pernah lagi datang dan dibidani oleh Islam,

    Bahkan Allah nampak dengan jelas lebih ridho emanasi keilmuannya harus “terciprat” Pada orang2 kafir.

    Demi tata surya, tulisan balasan ini sangat LEMAH.

    • Tipe-tipe komentator semacam pemilik akun bernama Al Ka-Fa-Ra ini adalah orang yang berkomentar Asal-asalan, tidak bertanggung jawab, dan sama sekali tidak mendatangkan satu argumen sama sekali yang berbobot dari naqli al-qur’an, naqli hadits, maupun dari penalaran yang jernih.

      Dia hanya datang berkomentar dengan sentimen dan lalu seenak mulutnya melemparkan ucapan-ucapan kekafiran yang secara tidak sadar telah membinasakan dirinya, dunianya, serta akhiratnya.

      (1) Dia telah menghina dan melecehkan Seluruh Nabi Dan Rasul, serta Seluruh orang-orang shaleh dari kalangan sahabat nabi, tabiin, tabiut tabiiin, dan imam-imam setelah mereka,

      ketika dia berucap dengan sembarangan:

      _”Maka memang, untuk kelompok umat yang “tidak selesai” dengan penisnya, dengan perutnya, dll, itu harus dibawa sampai akhirat. Betapa tidak selesainya.”_

      Siapa yang dia hina ini? Siapa yang sebenarnya dia lecehkan? rolanda kah? atau ibnul qayyim?

      Jawabnha, dia sedang melecehkan para nabi dan orang-orang shaleh seluruhnya.

      karena surga yang didalamnya terdapat berbagai makanan-makanan dan minuman-minuman yang sedap (lihat qs: al-haqqah: 54), terdapat buah kurma dan buah delima (lihat ar-rahman: 68), terdapat daging burung (lihat al-waqi’ah: 21), Dan serta terdapat juga air susu dan air madu (al-hadits), adalah Surganya yang para nabi sangat ingin memasukinya,

      begitu juga Surga yang didalamnya terdapat bidadari-bidadari yang elok rupanya, juga merupakan surga yang sama yang diceritakan para nabi dalam qur’an,

      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

      وَطَلَبُ الْجَنَّةِ وَالِاسْتِعَاذَةِ مِنْ النَّارِ طَرِيقُ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيعِ أَوْلِيَائِهِ السَّابِقِينَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَصْحَابِ الْيَمِينِ

      _“Meminta surga dan berlindung dari siksa neraka adalah jalan hidup para Nabi Allah, utusan Allah, seluruh wali Allah, ahli surga yang terdepan (as sabiqun al muqorrobun) dan ahli surga pertengahan (ash-habul yamin).”_

      dengan ini, si komentator itu telah menghina para nabi dan rasul,

      betapa buruk dan berbahayanya konsekwensi ucapannya itu seandainya dia menyadarinya

      (2) dia juga telah mengingkari dan menolak aqidah islam tentang ketinggian Allah di atas ‘Arsy (qs: thaha: 5), sedangkan ‘Arsy Allah berada di atas surga (hadits shahih riwayat bukhari).

      Juga bahkan telah tegak aqidah islam, bahwa kelak Allah akan bisa Dilihat di hari kiamat, Dilihat dengan mata, dan Kenikmatan yang terindah adalah melihat Wajah Allah.

      Sesuatu yang memang tidak pernah menjadi keyakinan bagi ahlul bid’ah semisal jahmiyyah dan mu’tazilah.

      (3) kemampuan membaca dan ketelitian yang sangat rendah, sampai-sampai dia ini menyimpulkan dengan salah tulisan akhi rolanda,

      _”katanya rolanda telah mengatakan bahwa allah berada di bawah neraka sedangkan neraka berada di atas allah”_

      Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah,

      Baca dulu dengan baik, setelah itu baru berkomentar

      (4) Baik Hasnan Bakhtiar Maupun salah seorang pengagumnya ini (pemilik akun bernama al ka-fa-ra),

      Keduanya telah salah fatal memahami makna ikhlas dan menempatkan makna syirik dengan pemahaman yang menyesatkan,

      dan Rolanda telah Hadir membantah pemikiran sesat hasnan bakhtiar dengan bantahan yang ‘ilmiyyah, sesuai Qur’an, Hadits, Qaul Ulama, Dan Penalaran yang benar.

      (5) tidak perlu banyak bacot dengan menyebut tulisan akhi Rolanda Ini Sebagai Tulisan “Lemah”,

      Kalau memang anda punya alternatif pemahaman yang lebih argumentatif, silahkan bantah dan tuliskan argumennya,

      insya allah Akan Kami Jawab semua Semua Syubhat-syubhatnya

    • Mermpertarungkan imam Al-Ghazali dengan Yusuf Al-Qaradhawi dan Ibnu Qayyim ?

      Sorry deh jika harus mengusik kefanatikan anda. Saya tidak sedang membandingkan beliau-beliau sekalian loh, melainkan apa yang mereka kutip dari syari’at ini : praktik para Nabi terdahulu, Nabi Muhammad dan para sahabat dan deminsi syari’at yang menfasilitasi pamrih dengan shalat dan do’a

      Seorang anak kecil pun, jika ia mengakui bahwa Allah telah menyeru hamba-Nya memohon dan meminta kepada-Nya dari segala kebutuhan, dunia & akhirat, dengan ringan hati kita harus mengatakan bahwa ucapan itu lebih benar dari pada perkataan imam Al-Ghazali rahimahullah, apalagi Hasnan Bachtiar karena itu bertentangan dengan firman Allah Jalla Wa’ala :

      وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

      Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Ghafir : 60)

      Ibn Katsir berkata :
      “Allah ‘Azza Wajalla menganjurkan kepada hamba-hamba-Nya untuk meminta kepada-Nya dan Dia menjamin akan memperkenankan permintaan mereka”

      Ibnu Katsir mengutip Sufyan Ats-Tsauri yang berkata :
      “Hai orang yang paling dicintai oleh-Nya di antara hamba-hamba-Nya, karena dia selalu meminta kepada-Nya dan banyak meminta kepada-Nya. Hai orang yang paling dimurkai oleh-Nya di antara hamba-hamba-Nya, karena dia tidak pernah meminta kepada-Nya, padahal tiada seorang pun yang bersifat demikian selain Engkau, ya Tuhanku”

      Begitulah Imam Sufyan menafsirkan ayat ini untuk membadakan hamba yang buruk dan hamba yang baik, yakni tergantung pada sifat suka meminta kepada Allah dan yang tidak. Demikian QS. Al-Baqarah 201. Sejauh mana makna “do’a” itu ?

      Meminta segala kebutuhan kepada Allah ‘Azza Wajalla termasuk bagian dari mentauhidkan-Nya. Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jāmi’ul Ahkām mengomentari QS. Al-Ghafir ayat 60 :

      رَوَى النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: “الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ” ثُمَّ قَرَأَ “وَقالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ داخِرِينَ” قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ. وَكَذَا قَالَ أَكْثَرُ الْمُفَسِّرِينَ وَأَنَّ الْمَعْنَى: وَحِّدُونِي وَاعْبُدُونِي أَتَقَبَّلْ عِبَادَتَكُمْ وَأَغْفِرْ لَكُمْ. وَقِيلَ: هُوَ الذِّكْرُ وَالدُّعَاءُ وَالسُّؤَالُ. قَالَ أَنَسٌ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: “لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَهُ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ”

      “Nu’man bin Basīr berkata : ‘aku mendengar Nabi ‘alaihissalam bersabda, ‘do’a adalah ibadah, lalu beliau membacakan QS. Al-Ghafir ayat 60’. Abu ‘Isa berkata hadits ini hasan shahih. Ini menunjukkan bahwa do’a adalah ibadah. Demikian yang dikatakan kebanyakan ahli tafsir, dan bahwa makna ucapan ‘esakanlah Aku, berdo’alah kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan do’a kalian, dan Aku ampuni dosa kalian. Makna lainnya ialah dzikir, do’a, dan permintaan. Anas berkata, Nabi ‘alaihissalam bersabda, ‘agar setiap kalian meminta segala kebutuhannya kepada Rabb-nya, hingga ia meminta menyambungkan sandalnya jika putus”

      Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman :
      “Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan, kecuali orang yang aku berikan makan. Maka mintalah makan kepadaku, niscaya aku akan berikan. Wahai hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian, kecuali yang aku berikan pakaian, Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan aku berikan”. (HR. Muslim no. 2577).

      Ibn Rajab berkata :
      “Dan hadits tersebut adalah bukti bahwa Tuhan mencintai para hamba untuk meminta kepadanya semua kepentingan agama mereka dan dunia: makanan, minuman, pakaian, dan sebagainya, … dan beberapa salaf meminta kepada Tuhan dalam doanya segala kebutuhannya hingga garam adonan dan makanan domba-dombanya … “. (Al-Jāmi’ Al-‘Ulūm Wal Hukm: 1/225)

      Lalu, hanya karena kefanatikan anda kepada imam Al-Ghazali rahimahullah anda berkata bahwa hamba yang menggantungkan segala perkaranya, baik dunia apalagi akhirat, sebagai hamba yang tidak selesai dengan kemaluan dan perutnya ? Padahal Allah mencintai mereka. Siapa anda, Hasnan Bachtiar dan imam Al-Ghazali yang menyelisihi hujjah di atas ?

      2. Neraka ada di atas Allah? aduh nanti dibokongin dajjal dari atas ?

      Tendensi anda membuat anda salah menyimpulkan. Baca ulang !

      3. Karena berada dibawah Allah, bisa lihat wajah Allah? Mukholafatul lil hawadisi nya gimana ?

      Mukhalafatu lil hawaditsnya adalah saya tidak mengatakan bahwa wajah Allah sama dengan wajah anda. Saya hanya mengatakan bahwa seorang hamba bisa melihat wajah Allah saja, titik.

      Sama halnya seperti manusia itu wujud, Allah pun wujud, manusia memiliki zat, Allah pun memiliki Zat, manusia bisa melihat, Allah pun bisa melihat, manusia punya kekuatan, Allah pun punya kekuatan, namun bukan berarti manusia sama dengan Allah, Maha Suci Allah dari sangkaan dan silogisme tasybih anda.

      4. Ganteng atau cantik tuh Allah ?

      Apa kaitanya menetapkan wajah Allah dan dapat melihat-Nya dengan ganteng atau cantik. Asumsi anda terlalu liar. Tidak ada yang mengetahui kaifiyah perkara tersebut kecuali Allah sendiri.

      5. Tulisan si Hasnan nyoba ngajak masuk substansi, dibales sama redaksi yg bahkan tidak lebih menarik dari komik Slam Dunk ?

      Ya Salām, firman Allah ‘Azza Wajalla, uswah Khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam, hadits-hadits Rasulullah dan praktik beliau, tafsir ayat berikut hadits oleh para ulama yang saya kutip lebih literal dan tidak substansial dari pada tulisan Hasnan Bachtiar, dan tak lebih menarik (sebagai hujjah) dibandingkan komik Slam Drunk ?!

      Istighfar ! Mumpung masih di bulan suci

%d blogger menyukai ini: