Santri Cendekia

Tauhid Wujudiyyah: Penjelasan Sederhana

Kewujudan (bisa disebut juga keber-ada-an atau eksistensi) merupakan realitas yang paling asasi atas sesuatu. Kewujudan itu sangat nyata dimana ia mencangkup segala sesuatu yang ada. Ia pula tidak dapat diragukan, karena adanya keraguan itu merupakan kenyataan keberadaan wujudnya, maka itu merupakan kewujudan pula.

Sesuatu yang kita sebut sebagai sesuatu itu pasti memiliki status wujud, karena ketika sesuatu itu ada/wujud, maka konsep wujud itu pasti ada padanya sebagai eksistensi kemendasarannya. Pada saat yang sama kewujudan ini wujud pada segala sesuatu yang mewujud.

Kenyataannya, kita sebagai manusia serta apa yang ada di sekitar kita juga merupakan sesuatu yang wujud. Namun, kewujudan kita berserta alam semesta bersifat mumkin (contingent), bermakna bahwa kita bisa saja ada, bisa saja tidak, keberadaan kita bukan sesuatu yang harus ada, dimana akal kita bisa membayangkan kita bisa saja tidak ada. Misal sederhananya, kita bisa saja membayangkan bahwa kedua orangtua kita bisa saja tidak bertemu dalam ikatan cinta sehingga melahirkan kita ke dunia, sehingga kita tidak pernah ada. Artinya keberadaan kita ini terikat pada sesuatu yang berperan memilih menetapkan keberadaan daripada ketiadaan kita.

Jika kita kembali lebih jauh ke belakang pada awal keberadaan alam semesta yang dikatakan berasal dari suatu Dentuman Besar (Big Bang). Maka keberadaannya juga bersifat mungkin, yakni bisa saja tidak terjadi Dentuman Besar sehingga alam semesta tidak pernah ada! Namun, kenyataannya alam semesta ini ada, maka pasti ada Sesuatu yang mengadakan (atau katakanlah menyebabkan) kewujudan alam semesta, yang memilihnya untuk ada.

Sedangkan Sesuatu yang Wujud yang mengadakan segala sesuatu yang mewujud (atau mengada) dikenal dengan istilah Tuhan oleh kalangan agamawan. Tuhan menjadi sumber dan kemendasaran dari segala yang wujud, karena Dia adalah Wujud Mutlak itu sendiri. Akan tetapi, orang yang bingung sering memunculkan pertanyaan “terus siapa atau apa yang mengadakan Tuhan?” “Kemudian siapa atau apa yang mengadakan siapa atau apa yang mengadakan Tuhan?” Dan seterusnya.

Baca juga:  Antara Tajdid dan Dekonstruksi Syariah; Telaah Pemikiran Syahrur

Sejatinya pertanyaan di atas merupakan pertanyaan yang tidak logis, disebabkan beberapa hal:

Pertama, pertanyaan itu bertentangan dengan dirinya sendiri (self-contradict) karena Wujud Mutlak tidak memerlukan sesuatu yang lain untuk mewujudkan-Nya.

Kedua, karena hal tersebut akan mengarahkan kepada kemunduran tak terbatas (Infinity Regression). Karena kalau ini yang terjadi, maka kita tidak akan pernah ada untuk membicarakan ini. Mengapa? Karena kalau ia terus ada dalam keabadian, kapan alam semesta ini akan mulai ada?

Ketiga, wujud merupakan konsep yang paling mendasar. Dimana segala sesuatu berasal dari wujud. Maka adanya Tuhan sebagai Wujud Mutlak wajib adanya dengan sendirinya! Oleh karena itu, Ibn Sina menyatakan bahwa keberadaan Tuhan adalah Wajib al-Wujud.

Tuhan sebagai asal atau sumber segala wujud, maka Dia pasti bersifat tunggal karena kemendasaran-Nya. Dimana wujud selain-Nya merupakan bayangan atau pinjaman dari keberadaan-Nya, yakni segala yang mengada bersumber dari Tuhan, makanya wujud selain Tuhan disebut Wujud li Ghayrihi, dimana Tuhan yang mengadakannya. Artinya wujud yang hakiki secara ontologis adalah Tuhan satu-satunya dimana ketunggalan wujud ini dalam terminologi konsep Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi sebagai Wahdah al-Wujud.

Ibn ‘Arabi mengibaratkan ketunggalan wujud Tuhan dengan pantulan wujud tunggal pada ratusan bahkan ribuan cermin. Pantulan tersebut meskipun sangat nyata terlihat, namun kenyataannya ia hanya merupakan sekedar bayangan dari wujud tunggal itu. Dengan demikian, segala sesuatu di alam semesta ini merupakan manifestasi (Tajalliyat) dari wujud ketunggalan Tuhan, karena Dia sebagai Wujud itu sendiri. Namun, bukan berarti penampakan wujud makhluk itulah sebagai perwujudan Tuhan yang sebenarnya, dimana hal ini merupakan pemahaman yang keliru atas konsep Ibn ‘Arabi.

Berdasarkan hal ini, maka nampak adanya korelasi antara konsep Wajib al-Wujud Ibn Sina dengan Wahdah al-Wujud Ibn ‘Arabi. Jika benar demikian, maka pendekatan Burhani Ibn Sina dengan canggih ditransformasikan secara Irfani oleh Ibn ‘Arabi.

Baca juga:  Bermazhab dan Perkembangan Ide Para Pembaharu Islam

Mengakui Wahdah al-Wujud, Mulla Sadra memiliki caranya sendiri dalam menjelaskan konsep ini. Sebagai Filsuf yang kembali menegaskan konsep kemendasaran wujud (ashalah al-wujud), ia secara brilian menyatakan bahwa wujud itu tunggal namun pada saat yang bersamaan bertingkat dan berlapis-lapis yang diistilahkan olehnya dengan Tasykik al-Wujud.

Jika berdasarkan kewujudan, maka segala sesuatu yang ada itu sama-sama wujud, namun yang membedakannya pada tingkat gradasi masing-masing yang boleh dikatakan perbedaannya secara esensial. Sehingga hal ini dapat dimaknai sebagai wujud realitas yang bertingkat. Dimana realitas yang paling nyata adalah Tuhan itu sendiri.

Oleh karena itu, sangat patut bahwa hanya Tuhan yang menjalankan peran Rububiyyah serta yang mendapatkan hak Uluhiyyah, karena sesungguhnya Dia telah Esa secara Wujudiyyah.

Wallahu a’lam.

Shadiq Sandimula

Pemerhati Ekonomi Islam

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: