Santri Cendekia
Home » Teladan Umar Untuk Merawat Toleransi Beragama di Indonesia

Teladan Umar Untuk Merawat Toleransi Beragama di Indonesia

Toleransi sudah menjadi tradisi Rasulullah dan para salaf salih umat ini. Bila para sejarawan sering memuji-muji Magna Charta sebagai dokumen fundamental peletakan HAM di dunia, maka umat Islam enam abad sebelumnya telah memiliki Piagam Madinah. Tradisi Rasulullah ini kemudian dilanjutkan oleh salah satu Khalifahnya yang mulia, Umar bin Khattab. Dari peri hidup al-Faruq, ada ibrah tentang bagaimana toleransi dirajut dan dirawat. Kita perlu belajar darinya, terutama di masa-masa ketika banyak insiden intoleransi menimpa negri Muslim nan besar ini.
Pesona toleransi pemangku gelar amir al-mukminin itu ada banyak. Namun salah satu episode monumental terjadi pasca direbutnya Jerussalem dari Bizantium. Patriak Jerussalem, Sophronius, secara langsung menyerahkan kunci kota kepada Khalifah Umar. Lebih dari itu ia menawarkan Umar untuk menunaikan shalat di Gereja Holy Sepulchre. Tawaran itu ditolaknya dengan sopan. Alasan Umar menolak tawaran sang Patriak cukup visioner; ia takut tindakannya itu kelak dijadikan justifikasi untuk menggantikan gereja suci umat Kristen tersebut dengan masjid.
Menarik untuk menyimak betapa bijaksananya Umar dalam kasus ini. Beliau tahu persis signifikansi sosiologis dari sebuah rumah ibadah. Meski ia bebas untuk shalat dan mendirikan masjid di setiap sudut Jerussalem, Umar memilih untuk tidak mendirikannya di tempat yang menjadi pusat ibadah umat Krsiten. Sungguh berbeda dengan mereka yang dengan dalih kebebasan mengabaikan dampak buruk pembangunan rumah ibadah bila menabrak sensitifitas sosial dan abai terhadap aturan yang ada. Padahal aturan itu ada agar kisruh terkait pendirian rumah ibadah bisa dihindari. Khalifah Umar mengajarkan bahwa kebebasan pun harus dilaksanakan dalam bingkai aturan dan menghargai nilai masyarakat setempat.  
 
Setelah penyerahan Jerussalem, Umar bin Khattab lalu menerbitkan al-ʿUhda al-ʿUmariyya. Teks perjanjian itu disebutkan oleh beberapa sejarawan seperti at-Thabari, al-Ya’qubi, al-Himyari, Mujiruddin al-Hanbali dan Ibnul Jauzi. Sedangkan laporan dari sejarawan non Mulim bisa dilihat pada tulisan Eutychius (Ibnu Batriq), seorang Patriak Gereja Ortodoks Yunani asal Alexandria. Dokumen bersejarah ini pun diabadikan oleh orang-orang Yahudi Karaisme dan Geniza.[1]
Sebelum membahas lebih jauh, perlu diingat bahwa ada dua dokumen perjanijian dengan negara taklukan yang disandarkan pada Umar bin Khattab. Salah satunya biasa disebut sebagai Umar’s Pact atau Syuruthu Umar. Dokumen ini juga memiliki banyak versi dan mengandung beberapa aturan diskriminatif yang tidak dikenal di masa Khalifah Rasyidah. Tambahan diskriminatif tersebut, oleh sejarawan sekelas Thomas W Arnold ditolak keasliannya.[2]Dokumen yang kita bicarakan ini adalah dokumen yang disepakati kesahihannya, sebab isinya bukan hanya ditemukan dalam manuskrip klasik Islam, tapi juga Kristen dan Yahudi.
Sebagaimana Rasulullah dalam Piagam Madinah, al-Uhdah al-Umariyah pun memuat jaminan kebebasan beragama bagi seluruh penduduk Aelia, sebutan lain untuk Jerussalem. Eutychius menyebut veris pendek dari jaminan Umar sebagai berikut;  
 Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ini adalah dokumen dari Umar bin al-Khattab pada penduduk Aelia. Mereka mendapatkan jaminan keamanan atas diri dan anak-anak mereka. Gereja-gereja tidak akan dihancurkan, atau diambil alih oleh umat Islam”[3]
Perlakuan baik Umar pada umat Kristiani begitu mengesankan Eutychius. Ketika muncul penguasa Muslim yang buruk, Patriak ini mengeluh dan membandingkannya dengan masa Umar yang toleran.[4]Namun dibandingkan umat Nasrani, kalangan Yahudi jauh lebih bahagia dengan kehadiran Umar. Daniel al-Qūmisī seorang tokoh Yahudi merayakan dalam tulisannya betapa akhirnya umat Yahudi bisa berdoa lagi di Jerussalem.[5]
Menyangkut nasib kaum Yahudi, ada yang perlu dicermati dalam al-ʿUhda al-ʿUmariyya versi at-Thabari. Dalam laporan at-Thabari, disebutkan bahwa salah satu poin jaminan Umar adalah dilarangnya orang Yahudi memasuki wilayah Jerussalem.[6]  Tentu ini menimbulkan pertanyaan, mengapa kiranya tabiat toleran Umar kepada Nasrani justru bertolak belakang dengan sikapnya pada Yahudi? Bila dicermati, ini justru bukti kebijaksanaan Khalifah Umar dalam memelihara toleransi.
Telaah mendalam M.M Karmouz terhadap teks-teks yang ditulis sejarawan Yahudi Karaisme menunjukan konteks larangan tersebut. Dua kaum ahlul kitab ini sering bersitegang berebut Tanah Suci sebelum Islam datang. Sikap permusuhan itu menyusup dalam perjanjian damai mereka dengan Umar. Nyatanya, larangan kepada Yahudi tersebut adalah syarat dari orang-orang Kristen. Meski tampak diskriminatif, Umar mengakomodasii aspirasi rakyatnya. Namun akhirnya, sikap Umar berubah setelah diskusi dengan dua belah pihak. Umar membolehkan umat Yahudi memasuki Jerussalem, tapi tidak pada daerah-daerah yang disakralkan oleh umat Kristen.[7]
Umar mengajarkan kita bahwa tuntutan masyarakat yang sekilas tampak intoleran tetap perlu ditampung dan didalami konteksnya. Umat Kristen keberatan sebab mereka tidak ingin tempat-tempat yang mereka sucikan “dikotori” oleh Yahudi. Maka sungguh bijaksana solusi Umar, Yahudi boleh memasuki Jerussalem asal tidak berkeliaran di daerah inner Aelia yang didominasi Kristen.
Sikap Umar ini jauh lebih baik daripada tergesa mengutuk insiden intoleransi tapi alpa menganalisa akar masalahnya. Sayangnya, tidak jarang kealpaan seperti itu terjadi di negri kita. Pengusa dan aktivis HAM misalnya sibuk mengutuki insiden yang melibatkan aliran-aliran sesat, atau rumah ibadah liar. Tapi enggan melihat akar masalahnya, bahwa ada warga yang resah sebab akidahnya terancam. Teladan Umar sangat tepat untuk mereka ikuti. Dalami akar masalahnya, temukan solusi terbijak.
tulisan Eutychius yang di dalamnya ada pujian buat Umar
Demikianlah, nama Umar sebagai pemimpn toleran tidak hanya harum di catatan sejarah umat Islam, tapi juga Kristen dan Yahudi, bahkan orientalis sekuler. Dari kisahnya hidupnya, bertebaran pelajaran tentang kiat merawat toleransi yang perlu kita petik. Khususnya bagi mereka yang memgang kekuasaan. Tegas dan bijaklah seperti Umar, maka negrimu akan aman.
    

Baca juga:  Edisi 'Iedul Adha : Ibrahim dan Isma'il Final Part

[1] Mahmoud Mataz Kazmouz,. Multiculturalism in Islam: the document of Madīnah & Umar’s assurance of safety as two case studies. Diss. University of Aberdeen, 2011.
[2] Thomas W Arnold, The Spread of Islam in the Worl, (ttp :Goodword Books, 2001), hal 57
[3] Said ibu Batriq Eutychius, at-Tarikh al-Majmu’ ala Tahqiq wa Tashdiq, Edisi Cheiko SJ (Beirut :SIB, 1905) vol II. hal 17.
[4] Arthur Stanley Tritton. Caliphs and Their Non-Muslim Subjects: A Critical Study of the Covenant of’Umar ( Routledge, 2013) hal 52.
[5] Mahmoud Mataz Kazmouz,. Multiculturalism in Islam: the document of Madīnah & Umar’s assurance of safety as two case studies. Diss. University of Aberdeen, 2011. Hal 232
[6] Abd al-Fattah M  El-Awaisi. “Umar’s Assurance of Aman to the People of Aelia (Islamicjerusalem): A Critical Analytical Study of the Greek Orthodox Patriarchate‟ s Version.” World Journal of Islamic History and Civilization 2.3 (2012), hal 130
[7]Mahmoud Mataz Kazmouz,. Multiculturalism in Islam: the document of Madīnah & Umar’s assurance of safety as two case studies. Diss. University of Aberdeen, 2011. Hal 234

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar