Santri Cendekia

Tha’un; Antara Tha’awun dan Thanos

wabah tha’un memberikan pilihan; tha’awun atau thanos

Coronavirus versi 2019 ini mungkin adalah virus yang paling viral, meskipun mungkin bukan yang paling mematikan. Ia sudah punya banyak pendahulu sebenarnya. Makanya, literatur kuno dari hampir setiap peradaban pasti memiliki bab tersendiri soal wabah alias pageblug. Tak terkecuali literatur Islam, dimana wabah dibahas di bawah judul “tha’un”. Konon tema ini sudah dibahas cendekiawan Muslim lintas bidang sejak abad ketiga Hijriyah.

Para ulama membahas thaun sebab tak kurang dari Rasulullah sendiri yang berbicara tentangnya. Garis besar ajaran beliau tentang wabah penyakit krianya bisa menjadi gambaran bagaimana Islam membimbing manusia sebagai makhluk berakal. Meski belakangan ini banyak yang menyangka kekuatan iman jamaah mereka bisa menghalau pageblug, Rasulullah sendiri dengan tegas menyuruh kita menjauhinya, bukan malah menyongsongnya dengan pongah bertopeng pasrah.

Tha’un kerap memunculkan watak paradoks di dalam diri manusia; di satu sisi mereka adalah makhluk komunal, di sisi lain ia adalah makhluk yang egosentris. Kita lihatlah saja, tha’un ‘memaksa’ banyak orang yang awalnya bermusuhan malu-malu berangkulan. Tapi sebenarnya rangkulan itu dibuat untuk melindungi diri masing-masing. Jika seluruh dunia kena, bagaimana caranya biar negaraku sendiri yang selamat. Jika pun satu negara kena, semoga provinsiku aman. Jika provinsi kena, semoga kotaku tidak jebol. Bila kotaku pun harus jebol, semoga kampungku selamat, tapi bila kampungku tak selamat, setidaknya keluargaku aman. Tapi jika keluargakupun terpapar, semoga aku bisa menyintas.

Apa boleh buat, ternyata memang demikianlah manusia. Mungkin fans Dawkins akan menyatakan ya, bagaimanapun, kita hanyalah kendaraan bagi gen-gen egois (selfish genes), maka itu sangat wajar. Bahkan solidaritas yang tampak itu jika diteliti saksama sebenarnya didorong oleh motivasi yang sangat individualistik. Kita mengajak orang untuk solider, saling menjaga, supaya orang-orang tidak terinveksi dan menjadi jembatan menuju ke tubuh kita. Contoh lain dari gambaran pesimistik dan rada sinis ini didemonstrasikan oleh mereka yang sibuk panic buying, penimbun kebutuhan pokok dan APD, hingga politisi yang justru bermanufer aneh-aneh selama pandemik ini.

Baca juga:  Euthanasia dalam Tinjauan Etika dan Pidana

Sebagai orang beragama, kita bisa bilang, ya itulah manusia, tuhan saja dilupakan, apalagi hanya sesama manusia. Tapi Islam juga berfungsi untuk mentransendenkan kesadaran kita melampaui alam tabi’i ini; kehidupan bukan hanya di dunia ini, saya lebih mulia dari sekedar kendaraan selfish genes, saya harus berbuat untuk sesama. Islam lalu membingkai kepedulian ini dalam konsep tha’awun alias saling menolong. Prinsip tha’awun mengasumsikan bahwa tidak ada yang bisa hidup di dunia ini tanpa pertolongan orang lain. Saling bergantung sudah menjadi takdir manusia. Cuma takdir ini bisa disyukuri dan dijalani dengan bijak dan bajik, mungkin pula dieksploitasi demi keuntungan pribadi.

Nas tentang tha’awun lebih banyak, lebih umum, dan memiliki posisi epistemik lebih berakar di dalam struktur Islam dari nas-nas tentang tha’un. Oleh karena itu, fenomena tha’un ini mestinya diletakan di dalam bingkai nas-nas tha’awun. Maka anjuran Rasulullah saw untuk lari dari wabah harus selalu diamalkan di dalam batas-batas tha’awun. Menghindari wabah seperti yang diajarkan Rasulullah tidak menafikan solidaritas sosial, bahkan ketika wabah menyeranglah, solidaritas itu perlu diperkukuh. Sebab di masa pandemik, banyak orang yang menjadi rentan. Entah rentan karena imunnya kurang, atau rentan secara ekonomi.

Jika ada yang iseng bertanya, lah untuk apa saling menolong, toh wabah itu dari Allah dan hanya Allah saja yang punya kuasa menghilangkannya? Bersandarlah kepada Allah saja, hai antek kuminis! Jawabannya, ya karena menolong sesama adalah cara kita meminta pertolongan Allah. Di dalam tafsirnya atas ayat isti’anah di surah al-Fatihah (iyyaka nasta’in/hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan), Syaikh al-Maraghi menjelaskan bahwa ayat ini menjadi penanda keyakinan seorang Muslim; segala sesuatu ada di bawah kendali kehendak dan kekuasaan Allah. Sehingga sangatlah logis bila kita meminta pertolongan secara mutlak kepada-Nya.

Baca juga:  Hukum 'Shaf Distancing' demi Meminimalisir Penyebaran Virus Covid-19

Namun beliau juga menjelaskan bahwa Allah telah menjadikan alam ini bekerja mengikuti pola-pola yang bisa kita baca sebagai sebab akibat. Pembacaan yang tepat pada pola itu bisa menjadi jalan bagi kita untuk memenuhi keinginan. Itulah ikhtiyar.  Jika ingin selamat dari corona, kita bisa mengikuti nasehat para ahli yang telah meneliti seluk-beluk penyebarannya. Kita juga bisa tahu bahwa lockdown akan melesukan aktivitas di pasar, akibatnya si mbah penjual sayur akan kehilangan sumber nafkah. Nah, menurut al-Maraghi, di konteks inilah, manusia diperintahkan untuk bertha’awun sebagai upaya saling membantu untuk memaksimalkan ikhtiyar masing-masing.

Dengan demikian, tha’awun adalah bagian integral dari isti’anah. Al-Maraghi memberikan contoh, bila ada orang sakit, kita memberikannya obat (tha’awun) sembari tetap meyakini bahwa kesembuhan datangnya dari Allah, sehingga harus slelau meminta pertolongan-Nya (isti’anah). Kesimpulan ini dikuatkan oleh kabar gembira dari Rasulullah bahwa Allah akan selalu menolong hamba-Nya, selama si hamba masih setia menolong saudaranya (HR. Muslim).

Lalu, siapa sajakah para “saudara” yang harus ditolong selama masa pandemik ini? Jawabannya kembali ke konsep tha’awun. Al-Quran menetapkan pondasi tha’awun pada konsep al-birr. Sederhananya, al-birr adalah jenis kebaikan yang luas yang melampaui ritus-ritus simbolik. Ia memang berakar dari prinsip-prinsip keimanan, tapi ia meluas ke kepedulian sosial tanpa memandang latar iman seseorang (QS. Al-Baqarah: 177). Syaikh Nawawi al-Bantani bahkan menyatakan bahwa al-birr adalah ketika engkau membantu sesama padahal engkau sendiri masih rentan dari kefakiran dan kematian (Marah Labid, 1/57).

Jadi, lingkaran solidaritas kita memang dimulai dari keluarga terdekat (dzawil qurba). Tapi jangan sampai hanya berhenti di situ. Selama mampu, maka lingkaran itu harus terus diperluas seluas-luasnya agar bisa merangkul semua yang rentan. Baik rentan karena imunnya lemah, ataupun rentan secara ekonomi.  Mereka semua memiliki nyawa yang harganya sama. Al-Qur’an mengingatkan; barang siapa menyelamatkan satu nyawa, maka seolah ia menyelamatkan seluruh manusia (QS. Al-Maidah:32).

Baca juga:  Ketika Al-Qur'an Berbicara tentang Jahiliyyah

Ayat di atas inilah yang kurang dihayati oleh Thanos dan mereka yang berdiri di atas manhajnya. Manhaj Thanosiyyah mengasumsikan bahwa memang ada sekelompok orang yang patut dikorbankan demi ‘kemaslahatan umum’. Manifestasi manhaj Thanosi selama muslim corona ini bisa macam-macam. Kalau dia enviromentalis ekstrim, jatuhnya korban corona dianggap harga yang harus dibayar agar bumi kembali asri. Jika dia penjual herbal pecandu konspirasi, maka dia aktif mengampanyekan supaya upaya-upaya preventif ala WHO tidak usah dilakukan, yang penting herbal jualannya diminum nanti imun akan kuat dan terbentuk herd immunity.  Jika dia pemegang simpul kebijakan publik maka korban yang berjatuhan hanyalah statistik, yang penting indeks pertumbuhan ekonomi tetap ok dan investasi tidak macet. Bahkan jika ia punya waham kesalehan, mereka yang meninggal dianggapnya tumbang karena ‘tertembak’ tentara Allah yang tidak mungkin salah tembak.

Sayangnya, para Thanosi ini tidak pernah memasukkan dirinya ke dalam kelompok yang mesti dikorbankan itu. Itu karena mereka menempatkan diri sebagai individu-individu terpilih dengan misi mutlak benar dan visi mustahil kabur. Maka seberapa otoritatif apapun orang yang berpandangan beda dengannya, tidak akan didengarkan. Orang yang beda pendapat dengannya berarti telah tertipu media, tertipu rezim, tertipu Cina, tertipu WHO, tertipu kadrun, dan seterusnya. Bagaimanapun para Thanosi ini melihat diri mereka, toh ternyata pemikiran jenis ini hanyalah buah dari keegoisan manusia itu tadi. Maka obat waham Thanosi yang bisa mencelakakan kita semua di musim tha’un ini adalah komitmen pada tha’awun.

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: