Santri Cendekia
Home » The Beekeeper: Superhero Kaum “Gumunan dan Kagetan”!

The Beekeeper: Superhero Kaum “Gumunan dan Kagetan”!

Ada yang sudah nonton Beekeeper? Ya bisa dibilang film ini sesuailah dengan sifat-sifat yang selama ini memang terisbat tanpa takwil pada film Jason Satpam: seru aksinya, bolong-bolong ndak logis plotnya. Tapi mungkin itulah yang menarik pada pilem ini, dia tidak berpretensi memiliki pesan filosofis mendalam dengan mencoba-coba masuk ke area moral yang ‘abu-abu’.

Kompas moral film ini pertama-tama bisa dilihat di penokohannya. Lihat saja penjahatnya: sekelompok anak muda yang masih segar bugar, menguasai teknologi terkini, dan dekat dengan anak presiden. Namun karena memang jahatnya sudah mandarah daging, privilege dan skill mereka itu malah dipake buat nipu kakek-nenek pensiunan.

Film ini tidak tergoda untuk memberikan semacam pembenaran ala-ala Joker ke penjahat itu, semacam trauma masa lalu yang membuat motif mereka bisa dipahami. Tidak! mereka jahat karena mereka memiliki kuasa untuk itu dan mereka tega melakukannya. Mereka bahkan digambarkan menjalankan operasi penipuan rakyat kecil itu sembari bersenang-senang di sebuah ruang IT canggih, dikomandoi semacam kakak pembina, dilindungi oleh aparat pula!

Tokoh protagonis utamanya, si Adam Clay, juga digambarkan sebagai orang yang baik sekali. Meski dulu dia juga tukang pukul, tapi ‘kan dia sudah hijrah dan memilih berbisnis madu. Seandainya tidak diganggu kelompok pemuda tersesat itu, si Adam mungkin akan melebarkan bisnisnya ke herbal dan gamis. Eh. Intinya, dia orang baik.

Keengganan untuk merumit-rumitkan masalah dengan tujuan merabunkan nurani juga terlihat dari dialog si Adam ketika ketemu teman lamanya dekat kamar presiden. Si teman lama itu dulunya juga aparat yang jujur, tapi dia tergiur duit dan akhirnya terbeli. Parahnya, dia mencoba mengajak Adam untuk mikir-mikir dulu sebelum nahi munkar.

Baca juga:  Meninjau Ulang Gagasan Waris Satu Banding Satu (Bagian 2)

Adam disuruh tidak perlu melangkah terlalu jauh karena masalahnya lebih rumit dari sekedar ‘baik vs buruk’. Dia bilang ke Adam, “go away, you’ve made your point.” Adam disuruh pulang saja sebab dia sudah menyampaikan protesnya. Dia disuruh legowo saja sebab beginilah dunia bekerja. Seandainya si kepret ini orang Jawa, saya yakin di dialognya bakal ada “Ojo kagetan, ojo gumunan, biasa wae Dam.”

Tapi karena ini film aksion Jason Satpam, Adam tidak punya jawaban cerdas mendalam. Sebagai jawabannya, Adam si preman taubat mematahkan jari si kepret itu sembari memberikan ceramah, “there’s only bad and good”. Seandainya si Adam ini orang Jawa, dia pasti akan bilang “Rawe-rawe rantas malang-malang putung!”

Pola serupa terlihat juga dari cara Adam memperlakukan para polisi jujur – yang dalam film ini, sebagaimana di dunia nyata, adalah korban utama kelakuan korup koleganya. Adam tidak terlalu brutal kepada mereka. Selain satu orang yang badannya termutilasi dan beberapa yang pasti geger otak, secara umum mereka dibiarkan hidup.

Ketika aparat jujur mengingatkan Adam untuk menyerahkannya kepada hukum, jagoan kita ini malah ceramah balik, bahwa hukum kadang tidak berfungsi di hadapan system yang boborok dan bahwa keadilan tidak selalu sinonim dengan legalitas. Jadi, bagi Adam, ada hal-hal yang secara objektif buruk sehingga tidak akan jadi baik meskipun system hukum gagal meng-ilegal-kannya. “Putuskan kepada apa engkau akan mengabdi”, begitu pesannya sebelum loncat ke jendela lalu nyemplung ke laut.

Jika melihat keseluruhan tokoh di film ini, Adam Clay adalah tokoh yang paling sederhana pertimbangan moralnya. Darimana dia mendapatkan filosifinya? Film ini secara jelas mengulangnya berkali-kali, sampai bosan rasanya: Adam Clay mengikuti moralitas lebah prajurit. Seandainya film ini digarap Kang Abik, mungkin dia sudah bergerak Adam Clay an-Nahli. Dalam hal ini, film ini bisa dibilang beririsan deskripsi al-Qur’an tentang lebah: mereka memakan semua tumbuhan, tapi mengeluarkan madu yang baik belaka. Mereka mengikuti ‘jalan-jalan’ yang ditunjukan Allah melalui wahyu instingtif.

Baca juga:  Pembaruan Kurikulum Pendidikan Tradisional al-Azhar Mesir (3)

Satu lagi metafora unik dari film ini adalah nama si tokoh utama. Namanya adalah nama paling “manusiawi” yang bisa kita bayangkan. Namanya Adam si Tanah. Clay artinya tanah liat. Penerjemah al-Qur’an berbahasa inggris biasanya menggunakan kata ini untuk menggambarkan tanah yang jadi bahan penciptaan Adam. Jadi, dia yang mengikuti metaetik lebah itu adalah tokoh yang paling manusia. Sedangkan mereka yang gemar memperumit masalah untuk tujuan merabunkan nurani, mereka yang selalu mencoba untuk tidak gumun dan tidak kaget meski kemungkaran udah jelas terlihat, malah jadi serangga penganggu yang akan dilibas si Adam Clay.

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar