Santri Cendekia

Tiga Problem Agama di Masa Pandemi

Pandemi corona memancing munculnya gugatan-gugatan pada agama. Sejauh yang kami baca, gugatan tersebut bisa dikelompokan menjadi tiga poin besar

Salah satu topik yang lumayan hangat diperbincangkan selama masa pandemi corona adalah relasi pandemi ini dengan agama dan keberagamaan. Perbincangan tersebut ternyata tidak dimonopoli oleh mereka yang beriman saja. Bahkan, sebagian orang yang di hatinya tak tersisa sedikitpun iman, malah senang sekali membahas topik ini. Ada beberapa poin yang kerap muncul dari perbincangan mereka yang antipati pada agama ketika membicarakan agama dan covid-19.

Pertama, terkait sikap orang beragama yang dianggap anti-sains sehingga memperburuk pernyebaran virus, kedua terkait probelm of evil, dan ketiga tentang nihilnya peran agama dalam mitigasi wabah. Artikel ini secara ringkas akan membahas ketiga gugatan ini dengan perspektif seorang Muslim. Ketiga pemikiran ini penulis temui di berbagai forum di media sosial maupun artikel-artikel di berbagai website. Oleh karena sifatnya yang merupakan ‘tren’ pemikiran, maka pemilik gugatan-gugatan ini tidak semuanya bisa dituliskan secara spesifik.

Agama dan Sikap Fatalistik Anti-Sains

Harus diakui, di tubuh umat Islam, meskipun otoritas-otoritas terpandang telah memberikan tuntunan mengambil rukhsah dalam perkara fikih demi menghindari penularan, masih ada yang memilih bersikap sendiri. Sikap yang kadang tidak dilandasi pemahaman dalil agama maupun ‘dalil’ kedokteran yang benar ini terbukti beberapa kali berujung pada tragedi. Sayangnya, tragedi-tragedi itu malah dimanfaatkan oleh mereka yang memang tidak suka agama.

Mereka menunjuk fenomena tersebut sebagai representasi sempurna bagaimana agama adalah candu yang membuat orang mabuk dan kehilangan akal sehat. Ketika pemerintah ternyata menyunat dana riset untuk mitigasi Covid-19, tak jarang yang berteriak di media sosial, mengapa bukan dana departemen agama saja yang dipotong? Toh agama tidak ada gunanya, malah membuat orang menjadi anti-sains.

Penilaian di atas hanya benar sejauh ia menunjukan bahwa memang ada orang-orang yang menjadi fatalis karena faham keagamaan. Namun penilaian ini salah total ketika hendak menjadikan fenomena tersebut sebagai dakwaan pada agama. Apalagi mengklaimnya sebagai jati diri agama itu sendiri. Mereka yang berkata ‘takutlah pada Allah, jangan takut pada corona’ sama sekali tidak mewakili faham keislaman yang tepat. Meskipun kalimat tersebut secara teknis benar, tapi ia digunakan untuk menjustifikasi keyakinan Jabariyah. Faham ini secara aklamasi dianggap menyimpang oleh para ulama.

Bila menelaah Al-Qur’an dan Sunnah beserta penjelasan para ulama, akan nampak bahwa Islam sama sekali tidak mengajarkan fatalisme dalam konteks wabah. Ayat-ayat al-Qur’an melarang orang beriman membahayakan jiwanya (QS. Al-Baqarah:195). Hadis-hadis malah lebih spesifik memberikan tuntunan soal wabah. Jika memakai istilah moderen, Sunnah Nabi ketika wabah adalah karantina wilayah dan physical distancing. Seperti yang diungkapkan oleh Craig Considine (2020), Islam mengajarkan untuk memakai common sense dalam menghadapi wabah.

Baca juga:  Ramadhan 2020: Tuntunan dari Muhammadiyah (Sebuah Catatan dari Mark Woodward)

Para ulama sudah menulis banyak sekali karya tentang wabah. Filolog UMSU, Arwin J. Butarbutar (2020) menyebutkan bahwa setiap kali wabah, para ulama dan dokter Muslim kerap menulis puluhan karya tentang wabah tersebut. Karya-karya itu tak hanya berbicara soal wabah sebagai azab atau ujian serta perlunya meningkatkan iman. Karya-karya itu juga mengupas penyebab serta cara menghindari wabah, tentu sesuai dengan kemajuan ilmu kedokteran pada masa mereka masing-masing.

Sebagai gambaran, salah satu manuskrip dari abad ke-5 Hijriyah ditulis oleh Ibnu al-Banna al-Baghdady menjelaskan tentang perlunya menjaga keselamatan dengan tetap tinggal di rumah (luzum al-bait). Singkat kata, munculnya sikap fatalis yang cenderung anti-sains dalam di tubuh umat bukan karena mereka terlalu mendalami agama. Sebaliknya, hal itu karena sebagian Muslim saat ini telah keliru memahami ajaran Islam serta terputus dari khazanah warisan pendahulu mereka.

Corona Sebagai The Problem of Evil

Mereka yang anti pada agama juga sering menjadikan ganasnya virus corona sebagai senjata menafikan Tuhan. Luthfi Asysyaukanie, salah satu pentolan JIL, mengajukan gugatan semacam ini di medsos; jika Tuhan Maha Baik, mengapa Dia membiarkan virus ini membunuh banyak orang, termasuk mereka yang tak berdosa. Gugatan semacam ini bukanlah hal baru. Di dalam filsafat agama, ia sering disebut the problem of evil.

Masalah ini muncul karena konsep Tuhan yang keliru. Ada pula yang berpendapat bahwa ini adalah masalah yang khas Kristen. Dalam teologi Kristen, Tuhan selalu ditekankan sebagai Absolute Good. Akibatnya, kejadian buruk yang menimpa mereka yang tidak berdosa, semisal anak kecil terserang corona, menjadi kontradiktif dengan doktrin tersebut (Malik, 2018). Di dalam Islam, masalah ini pernah dimunculkan oleh kalangan Muktazilah dengan konsep shalah dan ashlah yang ‘mewajibkan’ Allah melakukan yang baik menurut nalar mereka.

Perlu diingat bahwa di dalam akidah Islam, Allah selalu ditekankan memiliki qudrah dan iradah; mahakuasa dan maha berkehendak.  Perbuatan Allah tidak mungkin bisa masuk ke dalam penilaian moral manusia yang pandangannya terbatas. Meskipun begitu, manusia diberikan kehendak dan kemampuan berbuat yang disebut kasab. Dengan kasab inilah mereka dimintai pertanggung jawaban. Jika dikaitkan dengan bencana, Al-Qur’an memberikan ketetapan tegas; perbuatan manusia (kasab) yang menimbulkan kerusakan (fasad) di bumi – menurut ketetapan Allah – akan berujung bencana (QS. al-Rum: 41).

Jadi, di dalam pandangan Islam, manusia tidak punya hak untuk protes pada Allah bila ada bencana yang muncul akibat perusakan lingkungan. Itu sepenuhnya tanggung jawab mereka. Dalam konteks covid-19, Peter J. Li, pakar ekonomi-politik Asia Timur di University of Houston-Downtown, menyebutkan bahwa perlakuan kejam pada binatang-binatang di pasar hewan Wuhan berkontribusi pada munculnya virus tersebut.

Baca juga:  Perempuan Haid Boleh Puasa?

Lalu bagaimana dengan orang tak berdosa yang juga terkena dampak bencana? Al-Qur’an juga telah mengingatkan; bila bencana terjadi, maka yang tertimpa bukan hanya mereka yang memang zalim (Al-Anfal: 25). Hal ini menjadi pengingat agar kita selalu menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar. Jadi tanggung jawab tidak hanya pada diri saja, tapi ada kesadaran untuk mencegah kerusakan yang berpotensi mendatangkan bencana. Jika seseorang telah melakukannya, lalu masih menjadi korban, maka ia harus tetap bersabar.

Dalam konteks wabah, Rasulullah memberikan kabar gembira; korban wabah yang tetap sabar dan menerima keadaan itu dengan rida dan iman akan mendapatkan pahala syahid. Tentu syahid yang berhadiah surga itu hanya bagi mereka yang beriman. Tapi bukan berarti umat Islam hanya peduli pada sesama Muslim di tengah wabah ini. Di dunia ini, Islam memerintahkan kita untuk menjaga keselamatan setiap insan, menyelamatkan satu manusia sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia (QS. Al-Maidah: 32).

Agama Tidak Berperan Apa-apa?

Gugatan pada agama kadang juga berbunyi begini; apa peran agama di tengah pandemi ini? Mereka berkata bahwa para ulama tidak bisa apa-apa, para saintis dan dokterlah yang terjun menolong para korban, berjibaku mencari obat corona. Pandangan ini memang sangat picik. Ia berangkat dari sentimen agama versus sains yang sangat khas Barat. Allah mengutus para Rasul bukan untuk mengajarkan ilmu kedokteran, sehingga jawaban agama untuk pandemi bukanlah dengan menyodorkan resep vaksinnya.

Memakai istilah Imam Syafi’i, petunjuk wahyu tentang pandemi bersifat jumlatan (umum/implisit). Nas hanya menyebutkan bahwa menuntut ilmu itu terpuji, dan bahwa semua penyakit ada obatnya. Agama juga mengajarkan untuk menolong siapa saja dengan landsaan kebaikan dan ketakwaan. Konsekuensinya, orang-orang yang beriman akan termotivasi untuk turut berjibaku menjadi relawan, meneliti, atau merawat korban.

Agama adalah petunjuk hidup, ia menjadi penentu dan penggerak langkah. Agama menggerakan guru besar ITB untuk bertahannus di masjid Salman hingga berhasil menemukan ventilator alternatif; menggerakan ribuan relawan; jutaan sumbangan; berjuta lagi orang yang bergerak menolong sesama tanpa mengahrapkan imbalan duniawi. Agama juga mencegah banyak orang untuk menimbun barang, panic buying, atau bahkan berbohong pada dokter tentang kondisi kesehatannya.

Agama banyak memotivasi para dokter untuk tetap tegar di garis depan. Mereka terdorong oleh kekuatan iman. Semua ini sangat berarti selama pandemi. Tentu mereka yang tidak beragama juga bisa memiliki komitmen kemanusiaan. Namun komitmen mereka yang beragama lebih mengakar sebab ia terbebas dari pertimbangan dan motivasi duniawi.

Baca juga:  Awal Syakban 1441 H di Tengah Pandemi Corona

Sebagai worldview, peran agama memang ada di pembentukan sikap hidup, bukan di persoalan sepraktis menemukan vaksin. Dengan logika para penggugat itu, tidak ada satupun sistem pandangan hidup yang berguna. Sekularisme bahkan Ateisme juga tidak bisa menunjukan vaksin corona. Vaksin itu insyaallah akan ditemukan melalui proses penelitian yang serius, melalui sains. Kepicikan mereka ini karena menganggap sains hanya milik Ateisme atau Sekularisme, sehingga capaian sains diklaim sebagai keberhasilan kedua isme itu. Ini tentu pemikiran yang memprihatinkan.

Sebelum vaksin Covid-19 ditemukan, keberhasilan umat manusia melewati masa-masa pandmei ini sangat ditentukan oleh sikap hidup mereka. Yuval Noah Harari yang ateis-Darwinis itu sudah mewanti-wanti perlunya kerjasama dan kejujuran pada level individu dan global. Sebagai Muslim, tanpa diceramahi Harari pun, kita sudah punya kesadaran berlandaskan takwa dan al-birr untuk melakukan semua itu. Dengan ketakwaan, orang beriman tak perlu pengawasan berlebihan untuk mau jujur. Dengan al-birr, orang beriman akan mempersembahkan kebaikan kepada sipapun melampaui motivasi-motivasi duniawi.

Tentu apa yang kami paparkan ini banyak yang bersifat normatif. Ia tidak akan berarti jika sikap kita sebagai Muslim sendiri ternyata malah membenarkan gugatan-gugatan itu. Apabila umat Islam terus-menerus menolak beragama berdasarkan tuntunan para ulama otoritatif; bila mereka tidak terdorong berkontribusi penuh dalam perang melawan corona, maka semua gugatan itu menjadi tampak benar.

Ajaran Islam memang memang demikian; ia tak akan berarti tanpa adanya amal. Maka cara terbaik untuk membela agama kita dari gugatan-gugatan atau bahkan hinaan orang-orang yang anti-agama adalah dengan mengamalkan agama ini dengan sungguh-sungguh. Tentu, amal itu harus dilandasi ilmu yang benar. Islam yang diamalkan dengan benar adalah jawaban terbaik untuk semua tuduhan padanya. Membela Islam adalah dengan tekun mempelajarinya dan giat mengamalkannya. Termasuk dan terutama di dalam suasana pandemi corona ini.

Wallahu a’lam.

tulisan ini telah dimuat di Majallah Tablig Edisi Mei 2020 M/Ramadan 1441 H, dimuat ulang untuk tujuan pendidikan.

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: