Santri Cendekia
Home » Tinggalkan Dzikir hingga Berbuat Melampaui Batas (Al-Kahfi 28 Final Part)

Tinggalkan Dzikir hingga Berbuat Melampaui Batas (Al-Kahfi 28 Final Part)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (Al-Kahfi 28)

 

            Allah ‘azza wa jalla memberikan kaidah penting kepada kita di dalam redaksi selanjutnya dari ayat ini.

  1. “Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat Kami”. Jangan sampai kita menjadi pengikut dan penurut terhadap orang-orang yang dalam hidupnya begitu lalai mengingat Allah. Orang yang jauh dari dzikrullah, biasanya adalah orang yang juga hidup jauh dari hukum-hukum Allah. Yang ada di pikirannya hanyalah soal syahwat-syahwat dunia yang tiada habisnya. Tak sempat lagi ia memaknai hidup dan keberadaannya di dunia ini, hingga tak pernah berkembang pula kedewasaan dan kebijaksanaannya.
  2. “Serta menuruti hawa nafsunya”. Setelah orang itu melalaikan dzikrullah dalam hidupnya, mereka akan hidup hanya untu mengikuti keinginan-keinginan hawa nafsunya. Dzikrullah adalah proses pengendalian hawa nafsu, ibarat kuda yang dikendalikan oleh tali kekang. Jika dzikrullah sudah hilang dari hati seseorang, maka hatinya ibarat kuda liar yang lepas dari kandang dan tak terkendali. Hawa nafsu menjadi pengisi hari-harinya. Wajahnya keruh, matanya redup, tingkah lakunya tak tenang, hatinya terus gelisah dan bergejolak.
  3. “Dan urusannya melampaui batas”. Jika hawa nafsu sudah dominan, maka yang terjadi adalah urusan-urusannya melampaui batas. Jika memiliki kelebihan harta, maka ia akan sombong bagai qarun. Jika terhadap orang berkuasa yang ia harapkan ridhonya, maka ia akan takut kepadanya melebihi takutnya kepada Allah. Jika mengejar tahta, maka tak peduli ia meski harus berdusta atau menghabisi nyawa. Jika mengejar harta, tak ada lagi halal dan haram di dalam kamusnya, cara kotor pun tak mengapa. Tak peduli lagi sudah betapa tua usianya, masih saja terus berbuat kerusakan di muka bumi. Betapa banyak perampok dan perusak negeri ini justru kita dapati mereka adalah orang-orang yang usinya sudah tak lagi muda. Betapa banyak diktator-diktator di belahan yang terus menumpahkan darah di muka bumi ini pun adalah orang-orang tua. Tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Pokoknya, hingga malaikat pencabut nyawa menarik paksa nyawa-nyawa mereka, mereka tidak akan berhenti membuat kerusakan di muka bumi ini.
Baca juga:  Tadabbur Asma'ul Husna (Al-Mushawwir)

     Maka begitulah sunnatullah yang akan terus berlaku. Tinggalkan dzikir, ikuti hawa nafsu, dan berbuat melampaui batas. Maka jangan pernah meremehkan aktivitas dzikrullah. Karena meninggalkan dzikrullah adalah hulu, sedangkan perbuatan melampaui batas adalah muaranya. Dan jika kita dapati orang-orang dengan ciri-ciri seperti ini, maka jangan kita mau mengikuti langkahnya barang sejengkal, karena tak ada sedikitpun kebaikan yang ada padanya.

     Di dalam ayat ini, Allah menyebutkan frasa aktivitas dzikir dengan dzikrinaa (mengingat kami) dan bukan dengan dzikrini (mengingat aku) karena mungkin Allah hendak memuliakan makhluk-makhluk-Nya dan memberikan keleluasaan dan ruang yang cukup luas dalam aktivitas dzikir itu sendiri. Tak harus langsung mengingat Allah, tak masalah jika yang kita ingat ketika ingin melakukan sesuatu adalah Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam dan sunnah-sunnah beliau. Tak masalah pula jika ketika sedang berjihad, kita berharap bantuan malaikat-malaikat yang dikirimkan-Nya. Tak masalah pula jika ketika kita ingin berbuat dosa, maka kita mengingat neraka dan yaumul hisab-Nya. Tak masalah jika kita hendak bersedakah, kita mengingat surga dan kenikmatan di dalam-Nya. Tak masalah jika hendak sedang berkonflik dengan sesama mukmin, kita mengingat bagaimana kisah-kisah para sahabat mulia berkonflik tanpa meniadakan iman dan ukhuwah. Tak masalah semua itu dilakukan, karena semua itu adalah makhluk-makhluk-Nya yang Allah ciptakan dalam rangka untuk membimbing, mengingatkan, dan memotivasi kita untuk senantiasa mengejar ridho-Nya.

     Dzikrullah pun tidak hanya harus dilakukan setelah salat atau ketika berkumpul bersama-sama di masiid atau di rumah seseorang. Islam mengajarkan bahwa dzikrullah dapat dilakukan setiap saat, even ketika dalam dua kondisi yang agak ‘tabu’, ketika buang air atau ingin berjima’ (berhubungan suami istri). Bukankah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarkan doa ketika akan melakukan dua aktivitas tersebut? Doa itupun adalah sebuah bentuk contoh aktivitas dzikrullah. Tak ada satupun aktivitas muslimin dan mukminin yang tidak dianjurkan untuk berdoa di dalamnya. Seolah-olah islam menghendaki bahwa memang hidup seorang mukminin tidak boleh terlepas dari aktivitas dzikrullah.

Baca juga:  Tadabbur Surat Al-Lahab Bag. 4 (terakhir) - Hati yang Rusak & Fitrah yang Mati

     Bahkan ketika kita sedang melamun memandang langit, maka di situ pun ada ruang yang disediakan Allah untuk kita tetap menjadikan ‘lamunan’ kita itu berbuah pahala dan kebaikan dalam bentuk dzikrullah. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali-Imran : 191).

     Mengapa sampai begitu penting untuk melakukan dzikrullah setiap saat dan setiap waktu sebanyak mungkin? “Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).’” (QS. Al A’raf : 16-17). Iblis begitu besar menyimpan dendam dan dengki terhadap anak cucu Adam. Menggoda manusia adalah menjadi sumpah dan tujuan yang tersisa di dalam sisa hidup mereka, begitupun anak cucunya. Maka dalam setiap kesempatan, dalam setiap celah, menggelincirkan manusia dari jalan yang lurus lah yang akan menjadi aktivitas utamanya. Jika iblis memanfaatkan setiap momen untuk menggelincirkan manusia dari jalan yang lurus, maka kita juga harus memanfaatkan setiap momen untuk mengingat Allah.

 

Allahu a’lam bishshawab

 

 

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar