Santri Cendekia
Home » Tips Meneladani Nalar Konspiratif Fir’aun

Tips Meneladani Nalar Konspiratif Fir’aun

Ketika diajak menyembah tuhan yang satu dan berhenti mengklaim diri sebagai tuhan, Fir’aun menolak, ia meminta bukti pada Musa. Utusan Allah itu pun memperlihatkan mukjizatnya yang mustahil Fir’aun bisa lakukan. Jika ia memang tuhan, pastilah ia mampu melakukan keajaiban serupa mukjizat Musa. Namun, setelah melihat mukjizat Musa, Fir’aun bukannya beriman atau setidaknya berkontemplasi mempertanyakan klaim ketuhanan dirinya yang konyol, ia malah bergegas menyewa tukang sihir. Dipikirnya Musa dan Harun tak lebih dari dua tukang sihir yang berusaha berkonspirasi merebut kekuasaannya. Padahal jelas, permintaan Musa sederhana saja, sembahlah Allah yang esa dan hentikan perbudakan pada anak keturuan Israil.

Fir’aun melihat kritikan pada kebijakan dan jalan hidupnya sebagai ancaman kekuasan. Ia mengukur Musa dengan ukuran dirinya, seorang gila kekuasaan. Dalam benak kerdil Fir’aun, selalu ada dinamika perebutan kekuasaan dan semua orang berusaha melucuti ia dari singgasana. Kenyataan bahwa Musa membawa keajaiban dan pesan kebajikan tidak dipedulikannya, mungkin ia berpikir “Ah, modus!”

Lalu terjadi pertandingan sihir disaksikan semua warga beserta pembesar-pembesar istana. Ketika tukang sihir melempar tali-tali mereka, penonton melihat tali-tali itu berubah menjadi ular menakutkan. Padahal tali-tali itu tidak berubah, cuma mereka menggunakan semacam ilusi visual sehingga tali itu tampak seperti ular bagi penonton. Musa lalu melempar tongkatnya yang benar-benar berubah menjadi ular dan memakan tali-tali para penyihir. Melihat mukjizat Musa, para penyihir langsung beriman. Fir’aun mengancam menghukum mereka, iman para penyihir tetap teguh dan justru semakin jelas mendeklarasikan kebenaran ajaran Musa.

Keimanan para penyihir sewaan Fir’aun itu memang berpijak pada ilmu yang mendalam. Soal sihir menyihir mereka adalah otoritas tertinggi. Terbaik se-Mesir raya, hasil seleksi tim khusus yang dibentuk oleh Fir’aun sendiri. Maka mereka tahu persis bahwa tadi tongkat itu benar-benar berubah menjadi ular! Itu bukan tipuan visual seperti trik mereka. Jadi jika orang ahli begini mengakui sebuah kebenaran, tentu patutlah kiranya dipikirkan, dipertimbangkan, jika tidak mau langsung ikut-ikutan.

Namun, Fir’aun tidak demikian, ia seorang berotak konspiratif. Lagi-lagi ia menilai para tukang sihir dengan ukuran dirinya yang kerdil, bahwa semua orang pasti gila kekuasaan. Itulah satu-satunya penjelasan bagi setiap fenomena yang ia lihat. Maka Fir’aun pun menduduh para penyihir itu adalah antek-antek Musa, yang memang telah disiapkan sebagai bagian dari makar besar menjatuhkan kekuasaan Fir’aun.

Baca juga:  Tadabbur Asmaul Husna (Al-Wasi', Yang Maha Luas)

Itulah Fir’aun, kasihan sekali dia. Ia menguasai lembah Nil yang subur, mampu membangun monumen-monumen agung, tapi cara berpikirnya sangat kerdil dan labil. Walaupun begitu, mungkin ada di antara teman-teman yang berminat mengikuti jejak Fir’aun, berikut tiga langkah mudah dan praktis;

Pertama-tama, Fir’aun ini tipikal orang yang jika diberi kritik selalu meminta bukti terlebih dahulu tapi bukan untuk dicermati untuk mencari unsur kebenarannya. Sikap kritis itu cuma lagaknya saja, Ia sebenarnya tidak peduli pada bukti dan pembuktian, ia sudah tetap pada asumsinya, sebuah asumsi yang dibangun di atas kecurigaan dan dugaan semata-mata. Bukan dari pengamatan yang jernih serta refleksi mendalam pada realitas. Alhasil, bukti yang dipaparkan padanya diperlakukan bak angin lalu.

Kedua, Fir’aun berasumsi setiap orang pasti gila kekuasaan seperti dirinya. Ia mengukur semua orang dengan variabel rekaannya yang arbiter. Ini seperti Iblis yang ketika diperintahkan untuk menunjukan rasa hormat pada Adam sebagai makhluk yang dikaruniai ilmu, ia justru membuat-buat variabel sendiri, “aku lebih mulia, aku terbuat dari api, dia dari tanah” Padahal api tidak pernah lebih mulia dari tanah, ini ukuran arbiter yang dibuat-buatnya sendiri. Parahnya dari asumsi tak berdasar ini, Iblis hendak menimbang semesta bahkan membantah perintah Allah

Ketiga, jika asumsi kerdilnya itu terancam, ia tidak mau berefleksi, ia alergi kritik. Semua yang tidak setuju pada dirinya, dilihatnya sebagai bagian dari konspirasi jahat untuk menjatuhkannya, padahal kritikan itu untuk kebaikan dirinya sendiri. Disamping itu, Fir’aun punya bonus yang mantap, ia membuat dirinya dikelilingi oleh orang-orang yang sepemikiran dan setipe dengannnya, al-Qur;an bahkan sering menyinggung sifat ini ketika menyebut si penguasa Mesir itu; Fir’aun wa malaaihii, Fir’aun dan pembisik-pembisiknya.

Baca juga:  27 Mei 2020, Momentum Kalibrasi Arah Kiblat

Itulah tiga langkah praktis menjadi Fir’aun, selamat mencoba, mudah kok, banyak orang yang mungkin sudah berhasil mengamalkannya.

(al-A’raf 103 – 123)

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar