Santri Cendekia

Transportasi Futuristik Berwawasan Ekologis: Perspektif Filsafat Teknologi Rhoma Irama

Perhatian utama filsafat pada dimensi manusia sebagai subjek yang dihadapkan dengan realitas membuatnya mampu mengelaborasi pelbagai temuan saintifik secara lintas disiplin. Bagi kalangan saintis, persoalan etika terkait capaian teknologi mungkin hanya berhenti pada isu-isu keamanan dalam penggunaan, tetapi para filsuf membicarakan ranah kesadaran, hubungan antarmanusia, dan konstruksi sosial terhadap makna teknologi itu, bahkan sampai pada fenomenologi lingkungan sebagai konsekuensi etis dari teknologi.

Terdapat pemaknaan baru terhadap alam, bahwa alam memiliki kewujudannya sendiri yang harus dimuliakan, dan relasi manusia-alam bukan lagi berlangsung dalam bentuk eksploitasi dan eksperimentasi sebagaimana berkembang sejak Descartes menarik jarak manusia dari alam; manusia sebagai “cogito”.

Kita, masyarakat Indonesia yang hidup dalam kepungan teknologi dan berusaha menemukan makna diri di dalamnya, patut bersyukur karena memiliki filsuf besar yang sudah memikirkan persoalan ini nyaris setengah abad lalu, yakni Raja Diraja Agung Semesta Cakrawala Dangdut dalam Kosmologi Soneta, Yang Mulia Haji Rhoma Irama. Di tahun 1970-an, beliau menulis sebuah lirik untuk dinyanyikan Evie Tamala. Simaklah lirik berikut yang saya ambil dari blog klikbait gratisan:

Kereta Malam

Pernah sekali aku pergi

Dari Jakarta ke Surabaya

Untuk menengok nenek disana

Mengendarai kereta malam

Jug gejak gejuk gejak gejuk

Kereta berangkat

Jug gejak gejuk gejak gejuk

Hatiku gembira

Jug gejak gejuk gejak gejuk

Kereta berangkat

Jug gejak gejuk gejak gejuk

Hatiku gembira

Kebetulan malam itu

Cuacanya terang bulan

Ku melihat kekiri kanan

Hai indahnya pemandangan

Sayang lama kantukku datang

Hingga tertidur nyenyak sekali

Wahai ketika aku terbangun

Rupanya hari pun sudah pagi

Hingga tiada aku sadari

Aku tlah tiba di surabaya

Jug jag jug jag jug

Kereta berangkat

Jug gejak gejuk gejak gejuk

Hatiku gembira

(Sumber: Di sini)

Ya, jika lagu tersebut familiar di telinga Anda beberapa tahun belakangan, itu karena para pedangdut pemula menyanyikannya kembali tanpa menyadari muatan filosofis di dalam lirik tersebut. Budaya populer memang membuat kita kehilangan kepedulian pada sesuatu yang dalam dan filosofis, karena pretensinya pada kedangkalan, kesegeraan, kegampangan, dan produksi massal selagi bisa mendatangkan khalayak ramai sebagai pasar. Maka kita memang tak bisa berharap dapat memperoleh muatan filosofis dari semua yang dihasilkan budaya populer, bahkan sesuatu yang sejak awal filosofis (seperti ajaran agama, ideologi Marxisme, sikap skeptisisme, dan pandangan Rhoma Irama ini) bisa kehilangan kedalaman ketika disampaikan dengan cara populer.

Padahal di dalam lirik tersebut terkandung ajaran-ajaran terkait filsafat teknologi dan bagaimana kita harus menjadikannya pedoman bagi pengembangan teknologi, apalagi di zaman industri 4.1. Mengapa 4.1, bukan 4.0? Di Indonesia, kita sudah selangkah lebih maju dari teori dan analisis 4.0 itu, karena kita senantiasa melibatkan unsur-unsur metafisika, baik yang diajarkan agama atau takhayul, dalam setiap perkembangan teknologi dan industri, sehingga kita lebih unggul 0.1 poin dibanding yang lain.

Baca juga:  Berkaca pada Keilmuan Imam asy-Syaukani: Motivasi untuk Para Penuntut Ilmu

Filsafat teknologi Rhoma Irama ini adalah bukti keunggulan tersebut. Berikut ikhtiar saya –yang cuma pembelajar pemula dalam dunia filsafat- mengeksplisitkan pandangan filosofis Rhoma Irama di bidang teknologi dalam 3 aspek penting.

  1. Subjek (Self) Esensial

Lirik lagu Kereta Malam dimulai dengan penjelasan bahwa sang penyanyi, yang dituliskan dengan kata ganti orang pertama “aku”, hendak pergi menengok neneknya di Surabaya.

Sebuah mazhab kaum empiris ekstrim, Positivisme Logis, menyebutkan bahwa “aku” hanya sebuah kata deiktis yang maknanya setara dengan kata lain, dan secara ontologis baru bisa diverifikasi kebenaran atau kesalahannya jika dapat diteliti secara empiris. Posmodernisme lalu menihilkan status subjek ini dengan menempatkannya bukan hanya sekadar kata deiktis, melainkan kata yang dibentuk wacana. Mereka memang menempatkan setiap “teks” (yakni semua yang terkatakan lewat bahasa atau direpresentasikan simbol) adalah bentukan kekuasaan yang berkepentingan mengekalkan wacana, tetapi kekuasaan itu sendiri jika ditelusuri (secara arkeologis menurut Foucault atau secara gramatologis menurut Derrida) ternyata mengantarkan kita pada kerumitan tak berujung, sehingga nihilisme menjadi satu-satunya penjelasan bagi ini semua.

Tetapi subjek dalam perspektif lirik Rhoma Irama tersebut bukanlah subjek yang sekuler seperti di atas, melainkan subjek yang memiliki nurani, sehingga ia rela menengok neneknya. Perjalanan sang subjek dari Jakarta ke Surabaya menunjukkan pula posisi esensialis sang subjek, yang tetap dan berkesadaran, tak berubah seturut kontingensi wacana sebagaimana pandangan posmodern.

Subjek esensialis tersebut merasakan setiap peristiwa di kereta, “juk gejak gejuk gejak gejuk”, sebagai peristiwa yang dialami langsung tanpa konstruksi wacana oleh kekuasaan apapun sehingga “hatiku gembira”. Ini tentu karena konsep subjek dalam filsafat Rhoma Irama adalah subjek yang berhati Kakbah, seperti ungkapannya di hadapan Rika, “Walau tampang abang berubah, tetapi hati abang tetap Kakbah.” Hati yang tertambat pada kiblat umat Islam akan mengatasi persoalan “Yang Tetap” dan “Yang Berubah”.

Sebagai tambahan, subjek ini juga memiliki posisi yang dimuliakan. Penyanyi Kereta Malam, sejak zaman Elvie Sukaesih sampai Juwita Bahar, berjenis kelamin perempuan. Penghargaan Islam terhadap perempuan termasuk kemampuannya tampak jelas dalam lirik ini, “…mengendarai kereta malam.” Ya, lagu terebut ternyata bukan tentang penumpang kereta, melainkan masinis, lebih tepatnya: perempuan berprofesi masinis! Dari konsep subjek ini, kita bisa mendapat gambaran tentang subjek esensialis, berkeadilan, berkesadaran, berhati Kakbah, dan peka teknologi.

  1. Otonomi Subjek di Hadapan Teknologi
Baca juga:  Abu Jahal, Figur Kebodohan yang Hakiki

Sang subjek dalam lagu Kereta Malam ternyata bukan cuma esensial, tetapi juga otonom. Ia memiliki kemampuan mengurus keperluannya sendiri (autos nomos), tak tergantung apalagi diperbudak teknologi. Ketika rasa kantuk datang melanda, ia “tertidur nyenyak sekali” bahkan hingga pagi dan sudah sampai di Surabaya.

Teknologi apa yang membuat subjek begitu otonom? Harus ditegaskan sekali lagi bahwa sang subjek adalah penyanyi sekaligus masinis. Dalam sejarah perkeretaapian, masinis memiliki peran penting dalam mengendalikan kereta. Tetapi masinis yang bisa tidur nyaman sepanjang malam hingga pagi tentu saja mengendarai kereta malam yang canggih, yakni yang memiliki teknologi autopilot. Penulisan lirik tentang kereta api berteknologi autopilot menunjukkan daya imajinasi Rhoma Irama yang berwawasan ke depan, karena beliau sudah dapat mengantisipasi kehadiran Artificial Intelligence (AI) atau Big Data.

AI dan Big Data menjadi amat diperlukan bagi pengembangan teknologi berbasis informasi seperti sekarang. Kalangan intelektual mewanti-wanti konsekuensi etis dari perkembangan itu, karena bukan hanya mengurangkan peran manusia secara kuantitas ketika mesin-mesin berkecerdasaan buatan itu menggantikan peran manusia, tetapi juga secara kualitas karena menghilangkan keakraban, kepercayaan, dan cinta.

Kita harus menjadi subjek yang masih memiliki perasaan ingin mengunjungi nenek dengan gembira sesuai fitrah kemanusiaan, namun juga mampu mengoperasikan teknologi secerdas kereta malam autopilot itu dengsn otonomi diri. Telepon “pintar”, TV “pintar”, dan semua yang berpredikat “pintar” dalam “internet of things” masa kini hanya bisa memproses data dan informasi dengan “pintar”, bukan bijaksana. Kebijaksanaan, kemampuan meraih hikmah, dan memahai makna realitas yang penuh hikmah itu hanya dimiliki oleh manusia yang diterangi Islam. Rhoma Irama mencerahkan kita tentang kebingungan itu sejak puluhan tahun lalu.

  1. Wawasan Ekologis

Meski mengakui penggunaan teknologi canggih bahkan Artificial Intelligence di dalamnya, Rhoma Irama tetap memperhatikan dimensi lingkungan. Wawasan ekologis dalam lirik tersebut akan terlihat kalau kita menghadirkan apa yang dalam Cultural Studies disebut “teks pembanding”, yakni lagu anak Naik Kereta Api yang konon diciptakan Ibu Soed.

Naik kereta api tut… Tut… Tut…

Siapa hendak turut?

Baca juga:  Jalaluddin al-Suyuthi dan Perjuangannya Mencari Pengakuan sebagai Mujtahid Mutlak

Ke Bandung Surabaya

Bolehlah baik dengan percuma

Ayo kawanku lekas naik

Keretaku tak berhenti lama

Dalam lagu itu, Ibu Soed mengisahkan subjek yang berkata “keretaku”, dan bisa diartikan sebagai masinis atau pemilik kereta. Cara subjek membolehkan pendengar lagu itu, yang merupakan “kawanku”, untuk naik dengan gratis (“bolehlah naik dengan percuma … ayo kawanku lekas naik”) menunjukkan kemungkinan yang kedua, sebab cuma pemilik kereta yang bisa menentukan siapa yang boleh dan tak boleh ikut. Ia adalah subjek yang kaya raya, tetapi tetap memiliki kebaikan hati seperti subjek dalam lagu Kereta Malam.

Tempat keberangkatan di lagu Ibu Soed itu tak disebutkan, tetapi bisa diduga adalah Jakarta, karena kereta itu menuju Bandung lalu baru ke Surabaya. Meski sama dengan Kereta Malam, tetapi jalur yang ditempuh berbeda. Jika harus ke Bandung dahulu untuk sampai ke Surabaya, kereta tersebut berarti menempuh jalur Selatan. ini mungkin sesuai dengan konteks di mana lagu tersebut ditukis, yakni tahun 60-an, di mana jalur dan teknologi perkeretaapian masih amat terbatas.

Lirik Kereta Malam lebih progresif dan visioner dari itu. Ia tak menyebut kota-kota apa saja yang dilalui, karena sang subjek tertidur. Ia hanya bercerita bahwa bulan sedang terang sehingga pemandangan indah bisa dilihat dari dalam kereta. Dengan kata lain, teknologi canggih berupa kereta dengan autopilot itu melaju di rel yang di sisi kiri dan kanannya adalah pemandangan alam yang indah. Tak ada kerusakan ekologis apapun di sana, baik yang menyangkut tanah (pemandangan indah) maupun udara, karena cahaya bulan bisa menerangi pemandangan itu dengan begitu jelasnya tanpa polusi cahaya.

Filsafat Teknologi Rhoma Irama dengan demikian bisa disimpulkan sebagai kesatuan pandangan tentang subjek, teknologi, dan ekologi yang utuh, padu, dan berketuhanan sehingga terwujud tatanan alam yang selaras. Itulah mengapa blog klikbait gratisan yang entah dimiliki siapa dan (sialnya) saya promosikan dengan gratis di atas itu bernama Lirik Lagu Dunia. Filsafat Rhoma Irama memang bagian dari filsafat dunia, dan bermanfaat bagi kebaikan dunia.

Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 19/01/2019

Ismail Alam

Penumpang kereta api, Peneliti Institute of Rhoma Irama Studies  for Civilizations (IRISC)

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: