Santri Cendekia
Sumber gambar: https://www.dream.co.id/

Tsarid Idaman Nabi

Oleh. R. Tanzil Fawaiq Sayyaf*

Mungkin para sahabat belum tahu apa itu tsarid. Tsarid adalah sejenis makanan terlezat yang ada di tanah arab. Bahannya terbuat dari remahan roti yang dilumuri dengan kuah daging.

Makanan ini, menjadi favorit pada zaman Rasulullah Saw. Konon, roti dan daging yang dipadu secara sempurna, akan melahirkan cita rasa Arab yang tiada tandingannya.

Sayangnya kita tidak akan terlalu jauh berbicara tentang kuliner. Tsarid adalah perumpamaan. Rasulullah Saw. pernah menyebut isterinya, Aisyah binti Abu Bakar, dengan istilah tsarid. Tentu hal ini sama sekali bukan bermaksud merendahkannya. Karena panggilan tsarid sejatinya adalah ekspresi cinta yang estetis.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan Ahmad, Rasulullah Saw. pernah membahas mengenai masalah ini. Menurut Rasul, ada sosok para perempuan yang sempurna. Yakni, Maryam binti Imran dan Aisyah istri Firaun.

Maryam adalah sosok sempurna karena perjalanan yang amat berat ketika harus mengandung, melahirkan dan membesarkan Isa As. Sementara Aisyah, mengalami kehidupan yang tidak kalah menderita, terutama ketika merawat Musa. Pada intinya, keduanya dianggap sempurna karena memiliki ketangguhan dan kekuatan super.

Namun menurut Rasul, ada sosok yang ketiga, yakni Aisyah. Selaksa tsarid, dalam benak Rasul, ia kekuatan yang mampu membangkitkan spirit hidup manusia. Tsarid adalah perlambang keistimewaan makanan. Tsarid yang dimasak dengan baik, mampu mencukupi kebutuhan gizi manusia. Di samping itu, kelezatannya bisa menyembuhkan orang sakit, membahagiakan mereka yang susah, gelisah dan nestapa, serta mengobati hati siapa saja yang terluka.

Aisyah di mata Rasul tentu memiliki banyak keistimewaan. Ia cantik dan menawan. Cerdas dan berakhlak mulia. Di samping itu, ia satu-satunya sosok yang menyaksikan kehidupan Muhammad dalam sinaran cahaya kenabian, di hampir seluruh waktu yang dimilikinya. Semenjak belia sebagai isteri Nabi, ia belajar mengenai banyak hal, memperhatikan dan meneladaninya. Karenanya, tidak heran jika ia mewarisi ribuan hadis yang terpercaya.

Baca juga:  Tadabbur Asma'ul Husna (Al-Mushawwir)

Bagaimana Menjadi Tsarid seperti Aisyah?

Sebagai Muslimah, tentu kita juga mendambakan menjadi sosok seperti Aisyah sang tsarid bukan? Bagaimana caranya?

Rasulullah Saw. pernah menuturkan bahwa, “Perempuan yang sempurna adalah yang pandai mengendarai unta.” (Hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan Ahmad). Secara kontekstual, kemahiran mengendarai unta sebenarnya merupakan hal yang melekat pada sosok laki-laki. Artinya, Muslimah tsarid harus setangguh para laki-laki yang berani mengendalikan sesuatu yang dianggap liar.

Dalam konteks kekinian, jika lelaki dianggap tangguh apabila memiliki gelar akademik yang tinggi, kekayaan yang melimpah dan posisi sosial politik yang hebat, demikian pula dengan perempuan. Dengan kata lain, di hadapan kehidupan publik, posisi mereka setara.

Kendati demikian, di rumah, tsarid adalah sosok yang dicintai anak-anak. Ia lemah lembut, perhatian dan senantiasa mencurahkan kasih sayang kepada buah hatinya. Bukan hanya itu, ia mampu menjadi sahabat dan mendidik suaminya sehingga kehidupan rumah tangganya didirikan atas dasar gotong-royong yang penuh cinta dan kebahagiaan.

Dalam sejarah Islam, Aisyah juga dikenal sebagai tentara penunggang kuda di saat terjadinya Perang Jamal. Tentu hal ini dilakukannya, dalam rangka berikhtiar menyelesaikan masalah. Saat itu, ia dianggap memiliki ketegasan, lantang membicarakan kebenaran dan memiliki empati yang besar untuk mencarikan solusi yang berarti bagi perkara yang dihadapi oleh khalayak ramai. Secara politis, ia adalah sosok yang disegani.

Sebagai tsarid, Muslimah harus menjadi sosok yang kehidupannya berorientasi pada penyelesaian masalah. Terutama, masalah orang banyak. Di samping itu, ia tegas, berani, memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan juga di dalam jiwanya melekat kekuatan kepemimpinan yang kokoh.

Di dalam sebuah hadis, ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, “Perempuan bagaimanakah yang paling baik?” Saat itu, Rasulullah menjawab, “Yang membahagiakan ketika dipandang, taat terhadap suaminya, tidak berselisih dengan suaminya dan tidak menyulut api kebencian.” (Diriwayatkan oleh al-Nasa’i).

Baca juga:  Persiapan Menyambut Hari Kiamat!

Ketaatan terhadap suami tidak boleh dimaknai sebagai penerimaan terhadap kesewenang-wenangan. Ketaatan terhadap suami bermakna bersama-sama saling menjaga amanah rumah tangga dan saling tolong-menolong dalam kebajikan serta ketakwaan.

Memang di dalam QS al-Baqarah ayat 228 disebutkan bahwa, “Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Namun para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan dari isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Makna “satu tingkatan kelebihan” dari ayat ini adalah, menekankan pentingnya tanggungjawab dan kerelaan untuk berkorban demi keluarga bagi para suami. Dengan kata lain, suami sebagai seorang imam, harus menerima secara tulus dan ikhlas bahwa ialah tulang punggung keluarga yang paling utama. Jangan sampai, seorang suami justru menjadi beban bagi anak dan isteri.

Mengenai hal ini, Rasulullah sudah sepatutnya kita jadikan teladan dalam persoalan ketahanan keluarga. Ia mengajarkan bahwa, tidak ada dominasi antara hak suami atas isteri, melainkan semuanya berjalan secara seimbang dan harmonis.

Suami hendaknya memiiki tanggungjawab di luar dan di dalam rumahnya. Seorang sahabat pernah menanyakan kepada Aisyah, “Apa yang dilakukan Nabi pada saat ada di alam rumah?” Ia menjawab, “Nabi selalu membantu keluarganya. Jika tiba waktu shalat, maka ia keluar untuk melaksanakannya.”

Demikianlah, marilah kaum Muslimah masa kini membekali diri dengan karakter yang mulia, pendidikan yang tinggi dan kemahiran mengatur urusan domestik dan publik. Semoga Allah menjadikan kaum Muslimah yang tangguh sebagai para tsarid.[]

*Kepala Laboratorium Syariah, Prodi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang

 

 

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: redaksi@santricendekia.com

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: