Santri Cendekia
Home » Udah Sembelih Aja! ; Refleksi Qurban dan Nikah Beda Agama

Udah Sembelih Aja! ; Refleksi Qurban dan Nikah Beda Agama

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Qurban adalah salah satu tonggak penting agama tauhid yang penuh dengan hikmah. Peristiwa besar ini diperankan oleh dua bapak utama tauhid, yakni Nabi Ibrahim as dan putranya tercinta Ismail as. Kisah ini mungkin sudah terjadi berabad-abad yang lalu. Detail ceritanya pun sudah sungguh masyhur dan diketahui oleh setiap muslim. Namun demikian, peristiwa besar ini akan terus diperingati hingga hari kiamat, sebab maknanya akan terus menjadi refleksi dan kolam jernih hikmah bagi setiap muslim hingga dunia berakhir. Sejak awal, Allah ta’ala memang menjadikan ibadah qurban yang dilakukan untuk memperingati peristiwa tersebut bukan sebagai ritual belaka. Ia telah mewanti-wanti kita bahwa bukan daing dan darah hewan kurban yang diinginkan oleh-Nya. Allah menginginkan kita untuk menggali hikmah dari peristiwa ini hingga takwa kita meningkat dan tauhid kita terbaharui.
Allah ta’ala berfrman dalam surah al-Hujrat : 37 ;  
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.
Lihatlah, takwa adalah tujuan utama dari ibadah qurban. Takwa adalah sikap hati-hati agar tidak terjatuh ke dalam murka Allah. Sikap mawas diri agar senantiasa berada di dalam jalan ketaatan kepada-Nya. Sikap inilah yang ditunjukan oleh keluarga Ibrahim ketika perintah qurban pertama kali menyapa mereka. Ketika itu, perintah qurban bukanlah seperti sekarang, perintah qurban ketika itu membutuhkan takwa yang sungguh besar. Sebab seperti telah aku dan kau tahu, Ibrhim dan Sarah diperintahkan untuk menyembelih anaknya! Mereka diperintahkan untuk menyembelih cinta mereka, selain cinta kepada Allah. Ada satu hikmah agung yang bisa petik dari peristiwa bersejarah tersebut ; cinta kepada makhluk harus selalu berada di dalam naungan cahaya takwa kepada khalik.
Bayangkan saja, bagaiamana dalamnya perasaan cinta Nabi Ibrahim kepada putra semata wayangnya Ismail. Buah hati yang telah lama ia nanti-nantikan. Bagaimana mungkin ia sanggup membiarkan anaknya itu disembelih, apalagi dengan tangannya sendiri. Begitupun cinta Nabi Ibrahim kepada istirnya Sarah, ibu Ismail yang hatinya pasti teriris-iris menahan pilu jika sesuatu yang buruk terjadi kepada anaknya. Ismail sebagai anak juga mestilah mencintai kedua orang tuanya, sungguh luka hatinya jika kedua orang tuanya itu ternyata bersepakat untuk membunuhnya. Namun semua persaan tersebut dikesampingkan oleh keluarga Ibrahim sebab ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekedar cinta kepada makhluk yakni ketakwaan kepada sang khalik. Maka berangkatlah Ibrahim dan putranya ke sebuah bukit, mengorbankan cinta, berserah penuh padaAllah.Tapi kita tahu bahwa Allah tidak pernah menginginkan Ismail dijadikan tumbal, Ia hanya menguji cinta kekasih-Nya itu. Terbukti cinta dan takwa Ibrahim dan keluarganya kepada Allah tidak tergoyahkan.
Cinta memang harus tunduk kepada ketakwaan, sebab Allah menganugrahkan daya yang luar biasa kepada perasaan yang satu ini. Sebuah syair dengan apik menggambarkannya sebagai kekautan yang mampu memngubah duri menjadi mawar, duka menjadi suka bahkan iblis pun akan menajdi nabi di mata para pecinta. Daya ini tentu harus dikendalikan oleh ketakwaan kepada Allah, sebab takwalah yang menjadi pengendali jiwa. Cinta yang lepas kendali akan menghasilkan kegilaan seperti Majnun yang menggelandang di sahara gersang demi cintanya kepada Laila, atau tragedi seperti Romeo dan Juliet yang bunuh diri berjamaah sebab cinta mereka ditentang keluarga. Cinta yang berada dibawah naungan cahaya tauhid dan takwa tentu tidak akan  berakhir demikian. Ia justru akan tumbuh menjadi tonggak ketataan yang tangguh, seperti cinta keluarga Nabi Ibrahim yang agung itu. Sungguh tangguh cinta mereka, jangankan mengubah iblis menjadi nabi, Ibrahim justru melempari Iblis dengan batu ketika ia mencoba menggoyahkan ketataan Sang Khalilullah dengan dalih cinta.  
Jika mengingat agungnya pengorbanan cinta keluarga Ibrahim, tentu akan sangat janggal rasanya menyaksikan kini kelompok-kelompok tertentu yang justru menjadikan cinta kepada makhluk sebagai alasan mengingkari sang khalik. Beberapa waktu yang lalu publik dibuat terkejut dengan seorang mahasiswi berjilbab yang meminta kepada MK agar nikah beda agama dibeolehkan di Indonesia. Padahal kita tahu, syariat jelas melarangnya. Meskipun ada pengecualian terhadap ahlul kitab, tapi ulama pun masih berbeda pendapat tentang ahlul kitab yang dimaksud. Imam Syafi’i misalnya menyebutkan bahwa ahlul kitab merujuk kepada ras Yahudi, bukan pada penganut Kristen atau Judaisme sebab sejak awal kedua iman tersebut, menurut penegasan al-Qur’an, adalah ajaran lokal. Lebih dari itu Nabi Muhammad telah mewanti-wanti kita agar memilih pasangan berdasarkan agamanya. Nasihat siapa lagi yang hendak didengarkan jika sang Nabi pun tidak diindahkan? 
Lebih dari itu, kitah harus ingat bahwa agama bukan hanya soal hukum. Titik tertinggi dalam berislam justru terletak pada penyerahan hati dalam ketaatan kepada Allah.  Bila saja cinta mereka diterangi cahaya takwa, tentu mereka akan sangat berhati-hati tidak tergiring pada jurang murka Allah. Namun cinta mereka sematan-mata cinta semu. Ironisnya mereka menyebut itu cinta yang suci. Bila mereka menganggap perjuangan melegalkan nikah beda agama tersebut adalah sebuah perjuangan cinta yang suci, maka pantas dipertanyakan, sesuci dan seagung apakah cinta mereka jika dibandingkan dengan cinta keluarga Ibrahim? Kalau cintamu hanya cinta buta yang tidak diterangi cahaya takwa, sebaiknya sembelih saja cinta itu!
Udah, sembelih aja!
bonus..
Baca juga:  AL-QUR'AN YANG MENAMPAR

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar