Santri Cendekia

Untuk apa Sekolah Lagi?

Sebelum anda melanjutkan studi, yang harus dipersiapkan bukanlah IELTS/TOEFL, bukanlah IPK, bukanlah biaya, namun tiga hal dibawah ini.

TENTUKAN DI MANA MAU BELAJAR

Jangan terus berpikir bahwa studi di luar negeri pasti lebih baik, lebih bonafide, lebih terjamin. Tidak juga. Jika standar perbandingan yang digunakan adalah jika kita belajar di negara maju (developed country) mungkin bisa benar di satu sisi. Namun tentu kita tidak bisa hanya menilai urgensitas sebatas kacamata intelektual namun juga moralitas. Banyak produk luar negeri yang turut membangun ummat dan bangsa ini, namun tidak sedikit pula yang gagal. Terjebak dalam degradasi pandangan hidup, terkurung dalam kebebasan duniawi dan hasrat syahwat.

Contoh fakta sejarah, tidak terhitung dari era Descartes hingga Kierkegaard orang-orang yang mengkritik sakralitas Ketuhanan, Kalau terbiasa gumun, yang diambil bukan ‘kritisnya’ tapi ‘menginjak-injak agama’-nya itu. Ada pula yang alumni Saudi yang mengkritik keras aplikasi tradisi keislaman tradisional. Padahal, yang dikritik itu juga pernah ke Ma’ha, juga berbahasa Arab dan menguasai karya Ulama klasik. Jadinya berseteru khilafi. Ribut sangat keras padahal hanya berbeda pandangan furu’i. Bagi saya, ini adalah satu problem yang sangat mengganggu motor aktivitas khususnya Umat Islam Indonesia. Ketika semestinya menjadi motor paling berpengaruh dalam kemajuan bangsa, namun jadinya malah sebaliknya. Generalisasi ini umum terjadi bahkan di depan mata saya.

Solusinya adalah sinergi. Dialog dan diskusi. Guru-guru saya pun yang jebolan Madinah dan Cairo pun bermusyawarah untuk menyampaikan apa yang paling dapat diterima oleh khususnya para santri dan umumnya khalayak masyarakat. Sedekat dan sebatas yang saya pelajari, sungguh tidak pantas seorang Alim ‘memaksakan’ keseluruhan pengetahuan yang dipelajari di tempat nanti dia berpulang. Walhasil, Studi di Indonesia justru sangat mendorong siswa untuk lebih memaknai realitas. Dia akan membuat formula yang betul-betul sesuai dengan kondisi masyarakat sebagai akademisi. Guru-guru saya banyak yang hanya studi di dalam negeri, namun kapasitas dan keilmuan luar biasa. Mulia luar dalam. Penuh jiwa perjuangan dan dedikasi. Saya yakin, banyak di antara kita yang menjadi saksi atas beliau-beliau itu.

APA URGENSI LANJUT BELAJAR?Postgraduate-arabic-teaching-department

Pertama, lihat ummatmu, lihat bangsamu, apa yang dia butuhkan? Apa yang dia perlukan untuk maju dan berjaya? Coba, pertanyaan ini dijawab dulu.

Kedua, kalau passionmu bukan untuk banyak membaca, riset dan publikasi, berarti takdirmu bukan  menjadi orang pintar namun menjadi kaya. Itu kata guruku. Sebelumnya saya tidak setuju, namun sekarang saya paham  pesan metaforis itu.

 MAU KEMBALI KE MANA USAI STUDI?

Mengabdi. Menjadi akademisi atau teladan umat dan bangsa yang berarti. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ilmutidak bermanfaat? Bahkan kalau tidak tahu ke mana harus kembali, kembalilah ke pena dan kertas. Kant  menjadi dosen di Konisberg; menjabat dekan selama dua periode sembari menulis 57 judul (buku, artikel, ringkasan). Suhrawardi menjadi penasihat sekaligus Malik al-Zahir bin Shalahuddin al-Ayyubi sembari menulis 49 judul (bukan jilid) buku. Imam al-Ghazali menulis sekitar 70 judul Buku. Dst.  Yang terakhir ini cambukan bagi saya, seorang sarjana yang sangat tidak produktif. Semoga Allah mengarahkan kita menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin… Allahummastajib.

Alparslan

Research Fellow of Centre for Islamic and Occidental Studies, University of Darussalam Gontor
MA Candidate of Theology and Religious Studies
Vrije Universiteit (VU) Amsterdam, Netherlands

Add comment

Tinggalkan komentar