Santri Cendekia

Wajah Allah ada Banyak????? (Al-Baqarah 115)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (AlBaqarahh : 115)

 

      Di dalam kitab tafsirnya, Beliau Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai ayat yang mengandung hiburan bagi Rasulullah dan para sahabatnya yang harus terusir dar i makkah dan terpisah dari masjidil haram dan tempat salat mereka. Ketika di makkah Rasulullah bisa salat menghadap Baitul Maqdis sekaligus menghadap ka’bah. Namun, ketika beliau hijrah ke madinah, beliau hanya bisa menghadap Baitul Maqdis dan tak bisa menghadap ke ka’bah lagi. Hal ini terjadi sekitar 16 atau 17 bulan. Baru setelah itu turun ayat Al-Baqarah 144, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya..” untuk menasakh surat Al-Baqarah 115 ini.

        Imam Ibnu Katsir juga menyampaikan pendapat Ibnu Jarir dan para Ulama lain yang mengatakan bahwa ayat ini turun kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk pemberian izin dari Allah ‘azza wa jalla bagi beliau untuk mengerjakan salat dengan menghadap ke arah mana saja ia menghadap, ke barat maupun ke timur, sesuai dengan arah perjalanannya, dalam keadaan perang sedang berkecamuk, dan dalam keadaan sangat takut (Khouf).

       Setidaknya dari dua pendapat di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ayat inia turun sebagai hiburan atau sebagai keringanan. Lalu Allah tutup ayat ini dengan “Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui”. Allah begitu luas rahmat dan kekuasaan-Nya, kemana saja engkau menghadap, selama itu masih berada dalam aturan yang Allah berikan, maka sesungguhnya engkau  sedang menghadap wajah Allah. Allah tak sesempit barat dan timur. Karena di hari kiamat pun, bumi dan langit ini pun berada dalam genggaman-Nya, ““Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Pada hari kiamat kelak, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melipat langit. Setelah itu, Allah akan menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya sambil berkata: ‘Akulah Sang Maha Raja..(HR Muslim).

Baca juga:  Tsarid Idaman Nabi

            Maka ayat ini bukanlah diartikan dengan seperti tulisan Bapak Profesor Doktor Nasarudin Umar yang sempat viral,

“Dalam diskusi lain, seorang murid mengadu ke mursyid (guru spiritual), bagaimana saudara kita yang beragama Kristen mengaku berketuhanan YME tetapi memiliki doktrin Trinitas, atau saudara kita yang beragama Hindu memiliki doktrin Trimurti? Sang mursyid menjawab, di situlah kelirunya mereka karena membatasi Tuhan hanya tiga, padahal semua yang ada adalah Dia, tidak ada yang ada (maujud) selain Dia.

Sang mursyid mengutip sebuak ayat: Wa lillah al-masyriq wa al-magrib fa ainama tuwallu fa tsamma wajh Allah (Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al- Baqarah/2:115).

Setelah mendengarkan panjang lebar penjelasan mursyid barulah murid itu lega. Akan tetapi kembali bertanya, kalau saudara kita tadi keliru karena hanya membatasi Tuhan hanya tiga, bagaimana dengan saya yang hanya membatasi Tuhan hanya satu. Sang mursyid menjawab: Sesungguhnya mungkin tidak ada yang salah, termasuk anda, karena yang banyak itu ialah yang satu itu dan yang satu itulah yang memiliki wajah yang banyak (al-wahdah fi al-katsrah wa al-katysrah fi al-wahdah/the one in te many and the many in the one).

      Ayat Al-Baqarah 115 ini tidak ada hubungan dengan semua penjelasan yang berbelit-belit di atas yang tak jelas arahnya kemana. Ketika ayat ini berkata bahwa kemana kita menghadap di situ ada wajah Allah, maka artinya bukan berarti wajah Allah ada banyak dan berada di mana-mana. Seperti Rasulullah yang mengisahkan tentang agungnya sosok Jibril as, “Rasulullah ﷺ menjawab, “Itulah Jibril yang tidak pernah kulihat ia dalam wujud aslinya. Kecuali pada dua kesempatan itu saja. Aku melihatnya turun dari langit, dimana tubuhnya yang besar memenuhi ruang antara langit dan bumi.” (HR. Muslim). “Rasulullah ﷺ melihat Jibril dengan bentuk aslinya. Dia memiliki enam ratus sayap. Setiap satu sayapnya dapat menutupi ufuk (timur dan barat). Dari sayapnya berjatuhan mutiara dan yaqut dengan beragam warna.” (HR. Ahmad). Saat itu jibril hanya satu, namun dengan sosoknya yang besar dan agung, sayapnya pun terbentang hingga menutupi ufuk, tubuhnya yang besar memenuhi langi dan bumi. Loh, jibril saja bisa seperti itu, apalagi Allah Yang Maha Besar dan Maha Agung.

Baca juga:  Tanggap Corona; Saatnya Kas Masjid Dikosongkan!

     Makanya wahai para pembaca, menafsirkan Al-Qur’an itu tak bisa seenak perut. Meski kelihatannya indah, sastrawi, dan begitu hakikati, jika ngawur ya tetap aja ngawur dan bisa menyesatkan. Jangan kita mudah tertipu oleh gaya bahasa yang dipoles begitu indah, padahal di dalamnya hanya ada kekosongan dan ketidak benaran. “Demikianlah Kami menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh,yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin,sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).”(QS Al-An‘am : 112).

       Kembalikan tafsir Al-Qur’an kepada kitab-kitab tafsir atau pendapat para mufassir dan Ulama yang memang berkapasitas di bidang tafsir. Jangan cari tafsir “alternatif”, ini Al-Qur’an, bukan pengobatan, hehe.

 

Allahu a’lam bishshawab

 

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: