Santri Cendekia

Worldview Si Lemah Akal (Al-Anfal : 63)

Bismillahirrahmanirrahim

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

 

Dan (Allah) yang menyatukan hati mereka (orang-orang mukmin).Jikalau kamu infakan seluruh kekayaan yang ada di muka bumi, niscaya kamu tidak bisa menyatukan hati mereka, tetapi Allahlah yang telah menyatukan hati mereka. Sungguh Dia Maha perkasa dan Maha Bijaksana (Al-Anfal : 63).

 

Sudah tabiatnya bahwa manusia mudah dikumpulkan oleh sebuah kebutuhan maupun kepentingan. Dalam ayat ini kita bisa mengambil hikmah bahwa biasanya kepentingan dan kebutuhan yang paling sering digunakan untuk mengumpulkan manusia adalah “harta benda”. Maka jangan heran, dalam setiap momen-momen ajang pemilihan pemimpin dari skala desa sampai negara, masih saja ada orang-orang yang menggunakan money politic untuk mendapatkan suara yang banyak, entah itu untuk mendapatkan dukungan politik maupun mendapatkan bekingan preman kecil hingga yang besar. Atau bisa kita lihat para bos-bos mafia, tidak ada di dalam sejarah, seorang bos mafia hanya memiliki sedikit pengikut dan jaringan. Pengikut dan jaringannya dibuat sedemikian rupa demi untuk mengamankan usaha-usaha kotornya. Pengikut dan jaringan yang berasal dari preman-preman, pembunuh bayaran, elit-elit pejabat, penegak hukum, dan sebagainya. Semua kumpulan manusia itu dapat dibentuk dengan kucuran harta benda yang banyak. Dan begitulah kebanyakan aturan main yang berjalan di dunia ini, dari dulu hingga sekarang. Hatta akhirnya, banyak di antara kita menjadi lemah akal dan hanya berpikir bahwa sebuah jaringan kuat manusia hanya akan dibentuk jika ada harta benda yang berlimpah. Tidak! Dan sekali-kali tidak! Lupakah kita bahwa Allah yang menggenggam hati-hati kita? Lupakah bahwa Allah yang Maha perkasa ini mudah untuk memerintahkan apapun yang di dunia ini termasuk hati-hati kita? Kita tidak butuh harta yang berlimpah untuk membentuk sebuah jaringan yang kuat. Kita tidak butuh kekuasaan diktator untuk membentuk sebuah basis perjuangan. Kita hanya butuh sebuah syarat, dimana dengan syarat itu Allah yang akan menjamin kebersatuan hati-hati kita. Apa syarat tersebut? Iman. Ruh orang-orang beriman sudah saling mengenal bahkan sebelum mata saling bertatap dan tangan saling berjabat. Lihat sahabat-sahabat Rasulullah, terdiri dari berbagai macam suku, latar belakang, struktur sosial, profesi, kepribadian dan karakter, namun itu tidak menjadikan ikatan ukhuwah di antara mereka bersekat dan ringkih. Justru dengan iman, mereka menjadikan semua perbedaan itu sebagai sebuah kekuatan dan lukisan warna-warni nan indah dalam sejarah. Maka tidak bisa tidak, iman harus datang bersamaan dengan kecintaan dan loyalitas terhadap saudara-saudara seiman. Keimanan yang datang dengan semangat perpecahan dan penghianatan, adalah keimanan palsu yang dihias oleh syaithan laknatullah’alaih.

Baca juga:  Merenungi Ayat Mutasyabihat dalam al-Quran (1)

 

Demo 4 November yang lalu, kita melihat sebuah fenomena yang luar biasa. Umat islam yang biasanya sangat sulit untuk bersatu dan mudah pecah oleh hal-hal yang sepele, semua bersatu dan berkumpul jadi sebuah barisan yang menggetarkan hati yang menyaksikannya. Muslimin dari penjuru nusantara berkumpul untuk membela kemuliaan agamanya. Penulis pun sempat terheran-heran, ternyata umat islam bisa bersatu hingga seperti ini. Musuh-musuh islam pun melontarkan berbagai macam fitnah bahwa umat islam berkumpul seperti ini karena ada yang menggelontorkan yang milyaran rupiah. Subhanallah, memang orang-orang yang lemah akal hanya kuat berpikir hingga tataran materiil. Akalnya terlalu lemah untuk berpikir di tataran metafisik. Akalnya enggan dan sangat sulit mengakui bahwa ada kekuatan gaib yang menyatukan hati orang-orang yang beriman. “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan perkataan-perkataan mereka, Tapi Allah menyempurnakan cahayanya meski orang-orang kafir membencinya” (As-saff : 8). Fitnah-fitnah yang dilancarkan oleh musuh-musuh islam itu hanya semakin memperjelas kebenaran ayat-ayat Allah. Perkataan-perkataan semacam ini bahkan sudah disiapkan bantahannya oleh Al-Qur’an (Al-anfal :63) jauh hari sebelum si pemfitnah ini lahir ke dunia, bukankah hanya mukjizat yang bisa melakukan itu? Al-Qur’an dengan gamblang mebongkar kelemahan struktur berpikir mereka. Jangan biarkan orang-orang lemah akal itu berhasil menularkan penyakitnya kepada kita orang-orang beriman. Kita harus tetap optimis, bahwa tanpa harta benda yang terkucur deras, mudah bagi Allah untuk menyatukan gerak perjuangan orang-orang yang beriman. Allahu akbar!!

 

 

Allahu a’lam bishshawab

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: