Santri Cendekia

Merenungi Ayat Mutasyabihat dalam al-Quran (1)

Serial ini – sebagaimana nampak pada judul – mengangkat secara khusus tema Mutasyabihat Alfadzh. Karena sebagian masih bertanya apa maksudnya, maka saya coba sederhanakan perkaranya dalam tulisan ini.

Ilmu ini membahas ayat-ayat yang mirip (mutasyabihat) tapi tak seutuhnya sama dari sisi lafal / teks disertai upaya membedakannya dengan trik ataupun dengan tadabbur (perenungan) mendalam.

Dengan trik seperti misalnya membedakan antara “asmi’ bihim wa abshir” dengan “abshir bihi wa asmi’“, di mana kita akali dengan mengatakan bahwa “asmi’” mengandung huruf Mim, sehingga ia didahulukan daripada “abshir” di surat Maryam (ayat 38) yang nama suratnya diawali huruf Mim.

Adapun di surat Al-Kahfi (ayat 26) yang tidak diawali huruf Mim, maka “abshir” dulu daripada “asmi’“.

Metode tadabbur meskipun tidak sesederhana metode trik, tetapi lebih kokoh dalam hafalan serta lebih jauh dari kesan cok-gali-cok (digali-gali cocok) atau ilmu cocokologi.

Ia justru memancing kita berpikir keras dan merenungi bagian awal / akhir serta konteks ayat, sesuatu yang memang menjadi salah satu tujuan primer diturunkannya Alquran.

Unsur ijtihad tetap menjadi dasar utama metode ini, tapi sekali lagi, ia ijtihad yang bukan asal-asalan.

Melalaikan pembahasan ini sama sekali memang tidak otomatis berarti membuat hafalan seseorang lemah dan mudah tertukar-balik. Semua juga ditopang dengan frekuensi dan intensifitas muraja’ah.

Tanpa muraja’ah, surat Alkafirun pun bisa tidak selesai-selesai dibaca dan membaca surat At-Tin pun bisa berujung di surat Al-‘Ashr!

Tapi setidaknya pembahasan-pembahasan ini membantu para penghafal Alquran agar tidak slip dan pindah ayat, juga untuk membantu mereka dalam tadabbur Alquran serta menyingkap sisi-sisi indahnya tiap ayat, sebab Allah Al-Hakim mustahil asal berfirman. Beda sedikit, tentu ada hikmah yang menantang untuk dikuak.

Baca juga:  Ali Ash-Shobuni dan Miskonsepsi atas Janji Allah dalam Pernikahan!

Berbeda dengan “Mutasyaabihaat Ma’aani” yang mengulas ayat-ayat dengan kandungan makna yang masih multitafsir atau bahkan tidak diketahui banyak kalangan, ilmu ini berkutat utamanya pada variasi kemiripan ayat.

Setidaknya ada tujuh variasi kemiripan tersebut, sebagaimana berikut:

  1. Kebalikan

Di satu tempat, posisinya a-b, tapi di ayat lain posisinya bertukar jadi b-a. Contohnya:

(… وَٱدۡخُلُوا۟ ٱلۡبَابَ سُجَّدࣰا وَقُولُوا۟ حِطَّةࣱ …)

QS. Al-Baqarah: 58

(… وَقُولُوا۟ حِطَّةࣱ وَٱدۡخُلُوا۟ ٱلۡبَابَ سُجَّدࣰا …)

QS. Al-A’raf: 161

  1. Tambahan Huruf

Pada satu ayat, hurufnya hanya misalnya tiga, pada ayat lain hurufnya ditambahi jadi lima huruf misalnya. Contoh:

(… فَمَن تَبِعَ هُدَایَ …)

QS. Al-Baqarah: 38

(… فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ …)

QS. Taha: 123

  1. Nakirah-Ma’rifah

Pada satu posisi Allah gunakan kata Nakirah (untuk kasus ini hanya yang tidak berawalan AL), tapi di ayat lain Allah tambahi ia AL sehingga jadi Ma’rifah. Dalam bahasa Inggris, Nakirah itu seperti “a book” dan Ma’rifah itu seperti “the book”. Contoh kasusnya:

(وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَ ٰ⁠هِـۧمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَـٰذَا بَلَدًا ءَامِنࣰا …)

QS. Al-Baqarah: 126

(وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَـٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنࣰا …)

QS. Ibrahim: 35

  1. Mufrad-Jamak

Satu kali Allah pilih kata Mufrad (singular), tapi di lain kesempatan Allah gunakan bentuk Jamak (plural), seperti berikut:

(… لَن تَمَسَّنَا ٱلنَّارُ إِلَّاۤ أَیَّامࣰا مَّعۡدُودَةࣰ …)

QS. Al-Baqarah: 80

(…لَن تَمَسَّنَا ٱلنَّارُ إِلَّاۤ أَیَّامࣰا مَّعۡدُودَ ٰ⁠تࣲ …)

QS. Ali-Imran: 24

  1. Pergantian Suatu Huruf

Yakni Allah ubah satu huruf di satu ayat dengan satu huruf lain di ayat lain yang sangat mirip. Sebagai contoh:

(أَفَلَمۡ یَهۡدِ لَهُمۡ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا …)

QS. Taha: 128

(أَوَلَمۡ یَهۡدِ لَهُمۡ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا …)

Baca juga:  Perkembangan Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Respon Cendekiawan Islam (1)

QS. As-Sajdah: 26

  1. Pergantian Suatu Kata

Diksi yang Allah gunakan di ayat yang satu beda dengan diksi di ayat yang satunya lagi. Pasti ada rahasianya, sebab Allah presisi dalam berfirman. Berikut misalnya:

(… أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَۖ فَٱنفَجَرَتۡ مِنۡهُ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَیۡنࣰاۖ قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسࣲ مَّشۡرَبَهُمۡۚ…)

QS. Al-Baqarah: 60

(… أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَۖ فَٱنۢبَجَسَتۡ مِنۡهُ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَیۡنࣰاۖ قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسࣲ مَّشۡرَبَهُمۡۚ …)

QS. Al-A’raf: 160

  1. Penggabungan Huruf (Idgham dalam Sharaf)

Idgham dalam Sharaf berbeda sedikit dari Idgham dalam istilah Tajwid. Dalam Sharaf, Idgham merupakan penyatuan dua huruf menjadi satu huruf bertasydid.

Lawannya ialah Fakk (memecah huruf). Sisi kesamaannya dengan Idgham dalam tajwid ialah pengertian secara bahasanya, yaitu: memasukkan. Contohnya ialah:

(… بِٱلۡبَأۡسَاۤءِ وَٱلضَّرَّاۤءِ لَعَلَّهُمۡ یَتَضَرَّعُونَ)

QS. Al-An’am: 42

(… بِٱلۡبَأۡسَاۤءِ وَٱلضَّرَّاۤءِ لَعَلَّهُمۡ یَضَّرَّعُونَ)

QS. Al-A’raf: 94

Demikian. Semoga bermanfaat

Fastabiqul khairaat.

***

Baca artikel lain: Merenungi Ayat Mutasyabihat dalam al-Quran (2)

Nur Fajri Romadhon

Ketua Majelis Tarjih PCIM Arab Saudi, Anggota Divisi Fatwa MUI Jakarta, dan Mahasiswa Pascasarjana King Abdulaziz University

Add comment

Tinggalkan komentar