Santri Cendekia
Home » Politik Citra dalam Pertempuran Israel dan Palestina

Politik Citra dalam Pertempuran Israel dan Palestina

Ada kesalahpahaman yang nampaknya penting untuk diluruskan. Ketika si Greschinov membagikan akun-akun personal IDF (militer Israel) sekaligus undangan terbuka untuk merujak mereka, kolom komentar dipenuhi dengan kata “gas”.

Berdasarkan analisis semantik-filologis menggunakan hermeneutika Gadamer, kata “gas” bagi orang Indonesia bermakna “ayo”, “laksanakan”, “siap kerjakan”, dan lain-lain. Di dalamnya mengandung makna persetujuan, dukungan, dan dorongan. Hal ini tentu saja telah melenceng jauh dari makna “aslinya” sebagai kumpulan molekul atau atom yang bergerak secara bebas dan acak.

Tapi berdasarkan telaah antropologi linguistik, kata “gas” bagi orang Israel memiliki makna khusus. Ketika mereka mendapati komentar “gas”, yang terbayang ialah perasaan traumatik pada kepulan asap hidrogen sianida. Zat kimiawi inilah yang telah membunuh jutaan orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi seperti Auschwitz, Sobibor, dan Treblinka selama Holokaus.

Tahu bahwa kata “gas” jadi mufradat paling sensitif bagi warga Israel, beberapa julidin wa julidat Indonesia kemudian memenuhi kolom komentar akun-akun personal IDF dengan kata ini. Apa yang mereka lakukan mungkin mulia, yaitu pelecehan psikologis biar tentara Israel kena mental. Tapi, hujatan semacam ini bisa jadi merugikan bagi warga Palestina. Apa sebab?

Untuk meluruskan hal ini, saya sudah mewawancarai Assoc Prof Ayub, Direktur Utama PT Santri Cendekia Bercahaya Mekar. Ayub merupakan pengamat keluarganya sendiri. Ia adalah seorang intelektual par-excellence dengan reputasi akademik yang tidak perlu dipertanyakan lagi—karena kalau dipertanyakan saya juga bingung mau jawab apa.

Menurut Ayub, menghujat kalau sekadar menghujat, kera juga bisa menghujat. Artinya sebagai manusia yang dianugerahi akal budi, hujatan kita mesti berkelas dengan pijakan pengetahuan luas yang memadai. Menggunakan kata-kata “gas” untuk membully tentara IDF tanda tak paham kontestasi wacana global antara pro Israel dan Palestina. Makanya di sini kita perlu pertajam wawasan dengan ilmu pengetahuan, supaya hujatan kita bisa lebih bertenaga.

Penting untuk diketahui bahwa konflik antara Israel dan Palestina tidak hanya terjadi di tingkat fisik dan politik, tetapi juga mencakup dimensi perang imej atau pertempuran citra. Pilihan kata dan retorika yang digunakan dapat memengaruhi persepsi publik internasional. Kata-kata yang diucapkan dapat menciptakan atau merusak citra suatu pihak. Perang citra di antara pro Israel dan pro Palestina ini ditandai dengan perihal: siapa yang lebih mirip dengan Nazi.

Baca juga:  Dampak Sosio-Ekonomi Arab-Palestina dari Kebijakan Pendidikan Negara Israel

Selama ini, simpatisan Israel selalu membangun wacana bahwa mereka korban dari Holokaus. Kekejaman Nazi, yang menimpa jutaan orang Yahudi di Eropa, bagi para Zionis hal ini menegaskan pentingnya mendirikan Negara Israel. Banyak orang Yahudi yang berhasil kabur dari kamp konsentrasi atau menyembunyikan diri, enggan untuk kembali ke wilayah Eropa timur. Ini disebabkan oleh meningkatnya sentimen antisemitisme di negara-negara Eropa, sehingga Negara Israel seakan menjadi satu kebutuhan penting bagi para tunawisma Yahudi.

Dalam rangka menggalang simpati dunia internasional, Zionis Israel seringkali mengungkit-ungkit peristiwa Holokaus dan kamp konsentrasi. Mereka tahu betul bahwa peristiwa ini menjadi aib terbesar bagi bangsa Barat modern. Dampaknya, orang Barat manggut-manggut saja tiap kali disuruh-suruh sama Zionis Israel. Lebih parah lagi, para cendekiawa Zionis sejak dulu aktif sekali membangun satu mitos berbahaya bahwa sesiapa saja yang menolak keberadaan Negara Israel, divonis terpapar ideologi Nazi yang antisemit.

Alhasil, pejuang Palestina yang sejatinya ingin mempertahankan tanah air mereka sendiri, dituduh antisemit dan berideologi Nazi. Baru-baru ini, dalam serangan darat di Gaza, militer Israel mengklaim menemukan buku kontroversial yang ditulis oleh diktator Nazi Jerman, Adolf Hitler, yaitu Mein Kampf. Presiden Israel, Isaac Herzog, menyatakan bahwa buku tersebut ditemukan di salah satu kamar milik warga sipil di Gaza yang digunakan oleh Hamas sebagai markas.

Netanyahu juga pernah secara terang-terangan mengatakan bahwa Hamas adalah Nazi Gaya Baru, sehingga perlu diberantas. Sejalan dengan ini, Perwakilan Tetap Israel untuk PBB Gilad Erdan menyebut Hamas sebagai “Nazi modern” dan menambahkan bahwa kelompok tersebut tidak mencari solusi atas konflik di Gaza. Dia mengatakan bahwa Hamas tertarik dengan pemusnahan orang-orang Yahudi.

Baca juga:  Wacana Mobilisasi Hamas: Mujahidin-Nasionalis

Dengan terus memelihara ingatan bahwa Hamas terpapar ideologi Nazi yang antisemit, itu sudah cukup bagi Zionis Israel sebagai alasan moral untuk terus menggempur Palestina. Itulah sebabnya para sarjana Muslim dengan penuh kesabaran terus menjelaskan bahwa yang mereka lawan bukanlah komunitas Yahudi, melainkan ideologi Zionisme Israel. Membesar-besarkan permusuhan terhadap Yahudi hanya akan merugikan para pejuang di Palestina.

Sementara itu, sangat penting untuk menghindari narasi-narasi yang bersifat antisemit, seperti memuji Adolf Hitler, berharap untuk mengulangi tragedi Holokaus, atau dalam bentuknya yang paling sederhana berkomentar “gas” di akun-akun personal IDF.

Jujurly, saya agak jengkel dengan para pendakwah kita yang malah menyuburkan budaya antisemit. Apalagi pas Aksi Bela Palestina di Monas beberapa waktu silam di mana orator terakhir lakukan blunder. Saya kutipkan secara verbatim: “Yahudi musuh atau bukan? Siap lawan Yahudi? Siap perangi Yahudi? Siap lawan antek-antek Yahudi? Siap lawan budaya Yahudi? Takbir! Yahudi tidak akan pernah kalah kecuali dengan diperangi, betul?!” Soalan ini sudah saya bahas di IBTimes.

Menurut Ayub, strategi yang tepat ialah mengembalikan keadaan: gunakan unsur-unsur Nazi untuk menggambarkan betapa bengisnya Zionis Israel. Strategi ini guna menjelaskan kepada dunia Barat dan Zionis Israel sendiri agar “minimal ngaca lah, Bangke!”. Hal inilah yang digunakan Lauran Booth. Misalnya, Booth dengan tegas mengatakan bahwa Gaza bukanlah penjara terbuka, melainkan kamp konsentrasi (Gaza is not an open air prison, it’s a concentration camp).

Penjara adalah tempatnya para kriminal. Itu adalah tempat bagi para penjahat, pengkhianat, dan orang-orang berdosa lainnya. Penghuninya adalah orang dewasa yang sudah sadar akan hukum. Di sana, hampir tidak ada anak-anak. Seorang anak yang melanggar hukum biasanya “dimaafkan” atas dasar belum cakap hukum. Lain dari pada itu, fasiitas di penjara masih menjamin hak-hak hidup paling asasi. Diberi makan dan minum, disediakan toilet umum, dan diberi tempat untuk istirahat.

Baca juga:  Historifobia: Penyakit di Balik Buntunya Upaya Perdamaian di Bumi Palestina

Gambaran penjara di atas samasekali tidak sepenuhnya mewakili keadaan di Gaza. Anak-anak dan perempuan yang tidak berdosa banyak yang mati mengenaskan. Mereka yang masih bernafas hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Karenanya, istilah yang cocok untuk mewakili seluruh penderitaan di Gaza tidak lain “kamp konsentrasi”. Secara umum istilah ini merujuk pada penahanan massal, kondisi hidup yang buruk, dan penggunaan kekerasan terhadap para penghuninya.

Kritikus Israel Illan Pappe juga menggunakan pandanan Nazi untuk memaparkan betapa biadabnya Zionis Israel, yaitu “Ethnic Cleansing”. Pappe bahkan tidak ingin menyebut konflik ini sebagai “perang”. Menurut Pappe, dalam buku The Ethnic Cleansing of Palestine ini, “Lebih dari setengah populasi asli Palestina, hampir 800.000 orang, telah terusir, 531 desa dihancurkan, dan sebelas lingkungan perkotaan ditinggalkan penghuninya”.

Terma “Ethnic Cleansing” begitu melekat dengan Nazi di Jerman yang membantai etnis Yahudi. Pappe nampaknya meyakini bahwa tindakan yang dilakukan Zionis, khususnya sejak tahun 1947, setara dengan kekejaman yang dilakukan oleh Nazi selama Holokaus di Jerman. Pandangan ini menciptakan analogi yang kuat, menyamakan tindakan Zionis dengan Nazi yang menyebabkan penderitaan besar bagi populasi Palestina.

Konflik antara Palestina dan Israel adalah salah satu isu internasional yang kompleks dan sensitif. Dalam menghadapi perdebatan ini, pembentukan wacana, citra, dan imej yang kuat menjadi krusial. Keberhasilan dalam mengelola dan membentuk persepsi publik dapat memengaruhi dukungan internasional, opini global, serta memainkan peran dalam membentuk kebijakan dan respons internasional terhadap konflik tersebut.

Ketika persespi publik sepenuhnya menjadi milik Palestina, maka teriakan-teriakan Zionis Israel hanya akan terdengar dalam gema.

Ilham Ibrahim

Warga Muhammadiyah yang kebetulan tinggal di Indonesia

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar