Santri Cendekia

Otoritas Dakwah yang Diperebutkan dalam Ruang Maya

Penulis: Fahmi Ilmi Rafiqi Zaaahidun Halim

Sebuah potongan video ceramah seorang yang diduga ustadz akhirnya tersebar lebih cepat daripada wabah paling mengerikan sekalipun. Video ceramah yang berisi pembedahan yang diduga menggunakan analisis semiotika suatu masjid karya seorang gubernur suatu daerah yang diduga lagi, bertentangan secara politik dengan sang ustadz. Sang Ustadz memberikan istinbat bahwa masjid itu adalah masjid Illuminati. Drama berakhir ketika keduanya dipertemukan di sebuah forum untuk saling mengklarifikasi.

Ustadz yang sama, sebelumya, pernah membahas bahwa UFO adalah kendaraan pengikut Dajjal dan masih banyak bahasan semacam itu dibalit dengan embel-embel ‘teori konspirasi’. Yang menarik, masih juga banyak kalangan Islam yang mengamini hal serupa, mereka ini ber-khusnudzon bahwa sang ustadz tidak mungkin berniat jahat mencelakakan umat Islam dengan data yang ngawur. “Pasti ada informasi yang hanya bisa diakses oleh sang ustadz, dan kita tinggal mendengarkan dan menggamininya saja.” Begitu kata pengikut fanatik sang ustadz.

Fenomena semacam ini bukan hanya terjadi dikalangan orang yang beragama yang dianggap dogmatis, dalam buku Sains Religius Agama Saintifik karya Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdala, banyak dijelaskan bahwa kalangan yang mendaku sebagai penganut sains juga mengamini dogma bahwa sains bisa menjawab segalanya. Tapi, tulisan ini bukan tidak akan membahas pergulatan antara sains dan agama, ada hal di ruang maya yang membuat orang melihat sesuatu tidak berdasarkan otoritas sains maupun agama, ruang maya ini menciptakan ilusi kebenaran yang membuat pemakainya dapat mengamini suatu informasi yang jelas-jelas menyesatkan.

‘Ustadz’ tadi terus melakukan hal yang ia anggap benar dan bersama para pendukungnya terus melakukan ‘dakwah’ yang seakan mengungkap realitas dibalik kekuasaan yang selama ini tertutupi. Akhirnya, kini ustadz tersebut mendekam di penjara akibat kasus penyebaran hoax. Lalu, Apakah dakwah itu deikian? Selalu berakhir dengan kasus pencemaran nama baik atau hoax dan mendekam di bui? Seakan ia telah memperjuangkan nama Allah padahal ia serupa sisifus yang mengangkat batu ke atas gunung, lalu menggelindingkannya lagi, mengambilnya, dan mengangkat ke atas gunung kembali, begitu terus, dan ia bangga akan yang ia kerjakan.

Media sosial tempat keramaian yang memuakkan

Suatu ketika, seorang teman mengeluh saat sedang melakukan sidang suatu organisasi kampus secara virtual. Sidang organisasi kampus yang terkenal lama dan berbelit-belit itu, yang kini terpaksa dilakukan secara virtual, terpaksa semakin lama akibat ada salah satu peserta siding yang menggugat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) yang berisi tempat sidang dilaksanakan. Sidang ini harus jelas tempat dan waktunya. Menurutnya ruang virtual tidak diatur dalam AD-ART, dan perlu adanya amandemen untuk mengaturnya.

Baca juga:  Cara Kiyai NU dan Muhammadiyah Merangkul eks-PKI

Kita tidak akan memperpanjang urusan ruang secara virtual itu letak geografisnya dimana, kita akan membahas bahwa ruang virtual ada, tapi tidak dalam wujud materi layaknya keberadaan kita dalam ruang kelas, atau kamar mandi, bukan juga berupa metafisik seperti alam barzah maupun alam ghaib. Ruang media sosial menekankan pada adnya koneksi antar subjek penggunanya, koneksi inilah yang menciptakan ruang maya yang seakan antara ada dan tiada.

Ruang ini menyingkap berbagai batas territorial yang selama ini membatasi seorang manusia untuk bercengkrama, bertukar pikiran, dan bertukar hinaan. Meski dalam penggunaannya nanti, ada batas-batas yang tercipta secara kultural maupun diciptakan oleh penyedia platform media sosial itu. Jika kita mau menganalogikan ada suatu ruangan semacam aula, di sana berkumpul banyak orang, semua bebas mengatakan apapun. Mereka semua berkata semau mereka dan saling menarik perhatian satu sama lain. Ada beberapa orang yang menjadi pusat perhatian, dari mereka ada yang memamerkan suaranya yang indah, ada yang mengiklankan suatu produk, ada yang menyediakan ceramah, dan semacamnya.

Orang-orang ini berlomba menarik perhatian khalayak, berebut pengaruh dan semakin memperkuat basis massa mereka. Tak jarang suara-suara minor muncul dan menjadikannya pemain besar. Dalam keadaan yang ramai dan penuh sesak semua orang tidak dapat mendengarkan semua suara, ia akan memilih suara mana yang mau ia dengarkan saja. Ia mengesampingkan suara lain, walaupun itu adalah suara arus utama. Begitulah ruang maya, sama ramainya dengan aula tadi, tapi keramaian itu tidak terlalu terasa karena secara fisik kita tidak merasakan pengapnya ruangan itu. Seakan kita berada di ruang yang hampa, padahal kita sedang berdesak-desakan dan hampir kehabisan napas, dan telinga kita menengung akibat terlalu banyak ditimpa berbagai informasi.

Hilangnya Otoritas dalam Dakwah

Kita sudah jengah dengan fenomena otoritas palsu yang dihadirkan melalui layar televisi kita, beberapa telah dirangkum oleh Remotivi dengan cukup menarik. Televisi banyak memberikan gelar pakar tertentu pada seseorang yang tidak jelas siapa dia. Dalam bidang dakwah, hal semacam ini tidak jarang kita temui pada televisi ayng seharusnya memiliki kemampuan untuk menyeleksi sesiapa pakar yang dihadirkan kepada publik. Tapi, ada motif lain dari media televisi sehingga seorang yang mestinya memiliki otoritas dalam suatu bidang keilmuan menjadi tidak ditampilkan di layar televisi, lebih tepatnya, tidak laku di layar televisi.

Media sosial menjadi platform yang seharusnya menjadi tempat para pendakwah yang benar-benar otoritatif untuk menunjukkan kepada publik mana yang benar dan mana yang keliru. Tapi, ternyata media sosial tidak datang semulia itu, ia membawa persoalan baru yang sebelumnya belum ada di televisi. Ruang maya ini justru membuat seseorang dapa dianggap sebagai pakar dari tampilan-tampilan luaran (baca: kosmetik) yang menyerupai seorang pakar. Dengan menggunakan bahasa yang sesuai habitus suatu kelompok, ia akan dianggap bagian dari kelompok itu.

Baca juga:  Membincang Geliat Bangkit Komunisme Bersama Taufiq Ismail

Budaya post-modern juga ikut menambah kegaduhan pada ruang maya ini, ia mengakomodir pendapat-pendapat minor dan menyetarakan dengan pendapat mayor. Wujudnya adalah pluralisme agama yang mencoba mengangkat pandangan pemula yang belajar ushul fiqh saja belum pernah, dihadapkan dengan fatwa dari ulama besar yang tentu otoritatif dalam bidangnya. Keduanya dianggap setara dalam kacamata pluralisme. Di ruang maya keduanya memiliki pengikut yang fanatik, tapi bisa jadi si pemula memiliki pengikut yang jauh lebih banyak, akhirnya suaranya seakan lebih nyaring akibat dari banyaknya telingnya yang mendengarnya.

Secara Paradoks, Platform media sosial sendiri juga menggunakan algoritma filter bubble agar penggunanya semakin betah berlama-lama dalam dunia yang diciptakan olehnya sendiri. Orang-orang menjadi semakin fanatik dengan kebenaran yang ia yakini. Lengkap sudah, pluralis yang fanatik. Dakwah menjadi tidak terarah untuk mengajak manusia menuju kepada kebenaran dan kebaikan, karena makna kebenaran dan kebaikan telah kabur menjadi makna yang jamak dan bisa jadi saling bertentangan dan saling memperkuat hegemoni di ruang maya ini.

Para da’i akhirnya tidak hanya menguasai ilmu yang akan ia sampaikan kepada umat luas, tapi ia dituntut melakukan personal branding agar suaranya bisa bersaing dengan para influencer yang memang memiliki seperangkat sumber daya yang ia dediksikan untuk bisa meng-influence banyak orang. Sampai di sini kita akan berkesimpulan bahwa otoritas dan popularitas tidak jarang menempuh jalur yang berseberangan.

Dakwah yang Penting Viral

Para da’i yang mengisi panggung pada ruang virtual akhirnya harus menggunakan suplemen untuk tetap bersinar, suplemen itu bernama kontroversi. Fatwa, ceramah, kata-kata kotor yang kontroversial menjadi suplemen agar mereka tetap menjadi pembicaraan. Bad news is Good news, begitu kaidahnya. kencingi sumur Zamzam, maka kau akan terkenal, kata pepatah Arab. Tapi, jika yang kencing di sumur Zamzam adalah seorang yang memiliki tulisan da’i di keningnya, ia bukan lagi terkenal, justru ia akan kehilangan marwahnya sebagai seorang da’i.

Sosial media membuat kita merasa besar dengan jumlah followers dan like, padahal itu hanya ilusi semata. Belum tentu seseorang memberikan like, atau mengikuti akun seorang da’i dan benar-benar mendapatkan ilmu darinya. Ia hanya melihat sekilas apa yang diunggah oleh sang da’i dan memberikan like secara refleks seperti pada postingan meme, video tutorial, dan sebagainya yang barusan ia lewati. Ia memperlakukan postingan sang da’i sama dengan postingan seorang artis yang sedang memamerkan jam tangan barunya seharga ratusan juta.

Baca juga:  Memperingati Malam Nisfu Syakban

Target viral juga menjadi acuan keberhasilan suatu da’i. Satu sisi membiasakan telinga orang untuk mendengar kebaikan, tapi di sisi lain, reduksi makna terus saja terjadi. Misal, Kata hijrah, awalnya digunakan sebagai perubahan pola pikir seseorang menuju kebaikan Islam. Semakin sering kata itu digunakan, maknanya menjadi semakin liar dan kehilangan bobot. Kata hijrah menjadi digunakan dalam konteks: cieee.. hijrah.. Kesan peyoratif melekat pada istilah yang seharusnya dalam. Demikian juga dengan kata Sunnah, ia berakhir menjadi gamis sunnah, jilbab sunnah, peci sunnah, dan penyematan lainnya yang terkesan hanya sebuah komoditas saja.

Dakwah mestinya beranjak dari materi yang dangkal, apalagi yang mudah viral menuju pada tataran epistemik. Tentu ini akan menurunkan dengan perolehan jumlah like, followers, dan subscriber. Dan memang bukan itu yang dicari dari pekerjaan dakwah.

Da’i Lebih Banyak Daripada Mad’u

Akun-akun atas nama dakwah kian hari kian banyak dan memenuhi ruang maya. Tidak ada salahnya, toh secara probabilitas ini menunjukkan orang yang peduli akan dakwah semakin banyak. Tentu, pemasukan pemilik platform juga akan semakin kaya dan menimbun hartanya. akun-akun yang menambah bingung masyarakat karena mengangkat isu yang mengarahkan uamt pada perpecahan. Isu yang sebenarya perkara cabang dan ditarik kepada perkara yang besar.

Dalam Buku Model Kebangkitan Umat Islam Karya Dr. Majid Irsan Al Kilani, banyak digambarkan tentang madzhabisme yang menjadi salah satu akar mundurnya umat Islam. Para penuntut ilmu sibuk dengan pembicaraan yang menghabiskan banyak waktu dan tenaga dan tidak menghasilkan apapun.

Maka, sudah sepantasnya kita merenungi penggunaan ruang maya ini, selama ini jangan-jangan kita melihat jagat media sosial dibatasi oleh algoritma yang membuat kita semakin sempit melihat dunia. Nicholas Carr dalam bukunya, The Shallows mengatakan bahwa sebelum ada internet ia adalah penyelam lautan buku, ia menjelajahi buku tidak hanya di permukaan saja. Tapi setelah hadirnya internet ia menjelma menjadi peselancar saja, ia hanya berada dipermukaan dan tidak menyelami apa yang ada di dalam lautan.

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: redaksi@santricendekia.com

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: