Santri Cendekia
Home » Mintalah Langsung Pada Allah!; Tadabbur Surah al-Ikhlas (2)

Mintalah Langsung Pada Allah!; Tadabbur Surah al-Ikhlas (2)

Bismillah, subhanaka la’ilmallana illa ma ‘allamtana.

  1. Katakan, Dialah Allah yang Ahad
  2. Allah yang menjadi tempat bergantungnya segala sesuatu
  3. Tidak beranak dan tidak diperanakan
  4. Dan tidak ada siapapun yang setara dengan Dia

Pada tulisan sebelumnya, telah dipaparkan tentang gambaran ajaran  pengenalan tentang “siapakah Allah” secara umum. Kali ini, mari berfokus pada penyebutan Allah sebagai Ash-shomad, Allah tempat bergantung segala sesuatu, apa maksudnya? Dalam tafsir Ibnu Katsir, beberapa ulama berpendapat penjelasan tentang Ash-shomad justru ada di ayat selanjutnya, bahwa Allah yang Ash-shomad ini, tidak beranak maupun diperanakan.

Allah tidak beranak, karena Allah adalah tempat bergantungnya segala sesuatu, maka Allah tidak perlu anak ataupun jenis anggota keluarga apapun yang biasa digunakan oleh orang-orang kafir / musyrik sebagai perantara untuk beribadah kepada Allah. Nasrani menyebut yesus anak Allah, Yahudi menyebut uzair anak Allah, kafir Quraisy juga menyebut latta sebagain anak perempuan Allah. Sudahlah, sikap-sikap jahiliyyah seperti ini sudah menjadi sisi gelap dalam sejarah tauhid.

Maha Suci Allah dari semua yang orang-orang bodoh itu persangkakan dan sifatkan. Mereka senantiasa ingin menghadirkan sistem penyembahan Tuhan yang sesuai dengan akal mereka yang lemah. Dan satu hal yang perlu kita cermati bersama, bahwa kebanyakan berhala-berhala yang mereka buat itu, adalah Nabi ataupun orang-orang saleh yang sudah meninggal, yang tadinya adalah orang-orang memiliki kemuliaan yang tinggi di tengah-tengah kaumnya.

Namun, syaithan berhasil menggelincirkan mereka agar mereka menempatkan para Nabi/ orang-orang salih tersebut pada tempat yang tidak seharusnya. Dan sistem metode penyembahan sesat ini pun bertransformasi mengikuti zaman, meski bentuk berbeda, namun esensinya sama. Misalnya, ada beberapa orang-orang pada golongan tertentu meyakini, bahwa dalam berdoa kepada Allah akan lebih mustajad apabila melalui perantara orang-orang saleh yang sudah meninggal, hingga ada yang sebelum berdoa, menyebut-nyebut nama-nama orang-orang saleh tertentu, hingga sampai ke titik ekstrimnya, datang ke makam orang-orang saleh untuk berdoa atau memohon hajat macam-macam.

Baca juga:  Rabbani ; Konsep Ilmuwan Ideal dalam Islam

Menurut seseorang yang dipanggil ustad di daerah tempat saya pernah tinggal dulu, ketika kita ingin berdoa kepada Allah, ibarat ketika kita yang rakyat biasa ini ingin bertemu atau berbicara dengan presiden, sehingga kita butuh perantara untuk menyampaikan aspirasi kita seperti RT, RW, Lurah, Camat, bupati, walikota, gubernur, dst. Derajat kita yang hina ini tidak pantas untuk berkomunikasi langsung ataupun memohon doa secara langsung kepada Allah,itu kenapa kita butuh perantara, begitu kata si ustad.

Awalnya Cuma menjadikan orang-orang salih itu perantara, lama-lama akhirnya orang-orang salih itu yang kita ingat ketika kita punya hajat, lama-lama kita berdoa kepada mereka, akhirnya syirik, titik. Kronologinya sama persis seperti kronologi kesyirikan yang terjadi di makkah akibat ulah Amr bin Luhay (penulis tidak dapat menjelaskan detail di sini, mohon pembaca dapat mencari sumber dimanapun soal tokoh ini).

“Apabila hambaku bertanya soal Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa kepadaku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan berimanlah kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” Al-Baqarah:186. Maka pahamilah dalam-dalam ayat ini, Allah sudah memberikan lampu hijau kepada kita, bahwa kita yang hina ini, dapat memohon dan mengiba langsung dengan Dzat-Nya Yang Maha Suci.

Tidak pernah ada satu ayat atau hadist manapun yang melarang kita untuk berdoa kepadanya, Hatta sekalipun kita adalah ahli maksiat. Maka sudahlah, cukupkan diri kita dengan kemurahan Rabb kita ini. Dia begitu dekat, Dia begitu Pengampun, Dia begitu Penyayang dan Pengasih, hingga sesungguhnya tidak ada satupun hujjah di sisi kita untuk mengambil ‘perantara’ untuk beribadah kepada-Nya. Buang jauh-jauh logika lemah macam itu. Allahu a’lam bishshawab

Baca juga:  Adillah kepada Anak-Anakmu! (Yusuf 4-5 End Part)

Bersambung..

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar