Santri Cendekia

Surat Terbuka bagi Mereka yang Bilang jangan Takut Corona Takutlah kepada Allah

Mereka-mereka yang dengan gigih menganjurkan untuk tidak salat jumat di masjid, saya yakin besok bakal tetep jumatan di masjid. Karena ada kesan janggal kalau salat jumat dilakukan di rumah. Tapi orang-orang ini sebenarnya hanya ingin memberikan pilihan alternatif untuk daerah yang memang begitu rawan terjangkit kalau diadakan kumpul-kumpul massal.

Nah yang menyebalkan tuh yang nganggap seolah-olah virus corona samasekali tak berefek pada orang-orang beriman. Dikira semua orang beriman secara fisik bakal sehat wal afiyat terus. Kagaklah! Enak aja. Tak ada bedanya antara orang beriman dan non-beriman dalam soal anatomi, yang membedakan mungkin hanya tingkat kekebalan imun aja. Keimanan bisa bertambah dan berkurang, begitu juga dengan keimunan yang bisa fluktuatif.

Corona tak memandang tingkat keimanan kita, yang mereka lihat hanya tingkat keimunan seseorang. Orang dengan iman lemah tapi imun kuat, bisa jadi lebih selamat dari serangan corona. Maka, sejatinya seorang muslim sebagaimana isyarat dalam beberapa hadis, kita harus memiliki iman yang kuat dan imun yang kebal. Kombinasi antara iman dan imun yang kokoh merupakan citra ideal seorang muslim.

Jujur ingin sekali menjitak manusia-manusia yang dengan pongah bilang jangan takut corona takutlah kepada Allah. Diperkuat lagi sama politis-politisi caper yang mencoba menjadi “bapak” bagi mereka yang sok-sokan punya kelebihan iman dibanding yang lain. Seolah mereka-mereka ini juru bicara Allah. Kalau dibandingkan dengan mantan panglima TNI atau mantan ketum PSSI, tentu para ulama notabenenya lebih dekat dengan Allah. Maksud saya, ilmu agama para ulama itu semendalam ilmu baris-berbaris mantan panglima TNI. Jadi abaikan saja seruan mantan panglima TNI itu dan hilangkan anggapan kalau kita tetap salat jamaah di masa-masa seperti ini sebagai “lebih beriman”.

Baca juga:  14 Rekomendasi Muhammadiyah Amerika Serikat terkait Wabah Corona

Para ulama telah sepakat untuk tidak melakukan kegiatan yang melibatkan massa dengan jumlah yang banyak. Mereka khawatir bila kegiatan keagamaan justru berkontribusi menyebarkan virus. MUI, Muhammdiyah, NU, Persis, wahabi, telah sepakat, terus apa lagi yang kurang? Coba dicek, barangkali otak Anda sudah dijual.

Himbauan untuk tidak melakukan selebrasi salat jumat di masjid yang menampung banyak jamaah bukanlah siasat Yahudi agar menjadi ‘muslim tanpa masjid’, bukan pula akal-akalan Cina supaya umat Islam tidak lagi merapatkan shafnya, dan tolong jangan dihubung-hubungkan ini sebagai agenda terselubung Freemason untuk mendzalimi umat Islam. Entah berapa juta-juta-juta kali harus dijelaskan kalau wabah ini tuh sudah jadi pandemi global. Saya ulangi: PAAANDDDEEEMIIII GEEELLLLOOOBALLL!!! Paham, Lur???

Artinya, kalau sudah sampai titik itu, kita harus ambil tindakan pencegahan paling ekstrem dan radikal, yaitu: bersuudzan kalau kita semua sudah terinfeksi virus. Suudzan saja gapapa. Dengan menjaga jarak, tidak bersalaman, rajin mencuci tangan. Jusru kalau husnudzan menganggap semua orang beriman kebal bisa jadi bunuh diri massal di dalam masjid. Kan begitu kasus di Malaysia, dikira orang yang berakidah Islam tak bakal mempan, eh taunya sama saja! Kasus di Korea juga sama, dikira di dalam gereja virus corona tak bisa masuk, eh malah menjadi ruang penyebaran virus.

Keyakinan pertama yang harus jadi pegangan adalah bahwa virus ini tak memandang agama. Prinsip pluralisme corona: semua agama sama-sama potensial terjangkit. Mau Islam, Katolik, Budha, penganut kepercayaan, penjilat penguasa, sama aja. Kalau sudah terjadi kontak dengan orang yang positif terkena corona, bisa jadi tertular tanpa kita sadari.

Repotnya lagi yang membawa virus ini bisa siapa saja, artinya bisa disebar oleh siapapun kepada siapapun dengan begitu mudah. Cukup dengan bersalaman. Anda yang berakidah Asy’ariyah mungkin sulit meyakinkan orang-orang salafi tentang makna Allah duduk di singgasana-Nya, tapi Anda mungkin dapat dengan mudah menyebar virus itu pada orang-orang wahabi. Anda yang Nahdliyin mungkin sulit meminta simpatisan Hizbu Tahrir untuk hormat bendera Merah Putih setiap hari senin, tapi tidak terlalu sulit bagi Anda meminta corona untuk menjangkiti para pengusung khilafah itu.

Baca juga:  Membangun Filsafat Sains Modern; Review Atas Tulisan Towards a Contemporary Philosophy of Islamic Sciene Karya Anwar Ibrahim (2)

Jadi apa yang perlu dilakukan? Ya, persatuan dalam kerenggangan. Persatuan yang tak merapatkan shaf. Dengan demikian, cara meringankan dan membantu para tenaga profesional kesehatan hanya dengan menjaga jarak sementara dengan orang lain. Kita harus punya empati yang kuat bukan hanya pada korban yang telah terjangkit tapi juga pada tenaga medis yang berjuang di garis paling depan.

Maka dari itu mari kita mengikuti arahan para ahli medis yang merekomendasikan para ulama untuk mengganti akegiatan keagamaan secara massal sebagai bentuk ikhtiar untuk mengakhiri persebaran virus corona. Kalau Anda tak bisa membantu, ya, minimal jangan bikin repot mereka-lah, woi!

Baca artikel menarik lainnya tentang corona:

  1. Tinjauan Fikih: Lebih Baik Tidak Salat Jumat Selama Wabah Corona
  2. Tidak ke Masjid di Masa Wabah Corona Bukan Pembangkangan atas Syariat Islam
  3. Pandemi ‘Fitnah’ Netizen atas Fatwa tentang Corona
  4. Hadis Kontradiktif, Kausalitas, dan Coronavirus
  5. 14 Rekomendasi Muhammadiyah Amerika Serikat terkait Wabah Corona
  6. Mengenal Aliran Teologi Islam Melalui Virus Corona
  7. Tanya Jawab soal Corona, Azab, dan Masjid (1)
  8. Tanya Jawab soal Masjid dan Corona (2)
  9. Surat Terbuka bagi Mereka yang Bilang jangan Takut Corona Takutlah kepada Allah

Ilham Ibrahim

Warga Muhammadiyah yang kebetulan tinggal di Indonesia

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: